Monthly Archives: October 2012

Rekaman Kajian Bali Oleh Ustadz Mizan LC di Bali, tanggal 19-21 Oktober 2012

Rekaman Kajian oleh Ustadz Mizan Qudsiyah LC yang diadakan di Bali.

Sebab-Sebab Terjadinya Bencana & Musibah (Khutbah Jum’at) di Masjid Pecatu, 19 Oktober 2012
Makna “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” di Masjid Nurul Huda Bandara Ngurah Rai, 19 Oktober 2012

Tambahan rekaman kajian oleh Ustadz Fuad Hamzah Baraba dari Surabaya.

Keutamaan 10 Hari bulan Dzulhijjah, di Masjid Sadr Sesetan 20 Oktober 2012

Semoga Bermanfaat

Pelajaran dari Kutaib Shifat Azzaujah Assholihah karya as-Syaikh Abdul Rozzak bin Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr II

** Bagian 8 
Lanjutan pembahasan hadits sebelumnya…

وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ …يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ

“…Dan sejelek-jelek istri kalian adalah wanita yang suka bertabarruj (bersolek) dan sombong, mereka itu adalah wanita-wanita munafik, mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom (sejenis burung gagak yang langka, pent).” [HR. al-Baihaqi 7/82 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1849]
# DIANTARA SIFAT-SIFAT ISTRI YANG BURUK #
@ al-Mutabarrijaat (المُتَبَرِّجَاتُ)
dan seburuk-buruk istri kalian adalah yang suka bertabarruj”, yakni yang suka bersolek dengan perhiasannya dan keluar rumah dengan perhiasannya itu, keluar dengan menampakkan kemolekan dan kecantikannya, baunya yang wangi, perhiasan-perhiasannya yang sehingga dengan itu ia menjadi penolong bagi syaithon untuk merusak masyarakat.
Maka wanita yang suka bertabarruj dengan sifat seperti ini pada hakikatnya ia telah keluar untuk menjadi tentara iblis dan penolongnya dalam membuat kerusakan dan membukakan pintu kepada iblis dalam menyebarkan fitnah dan kekejian terhadap orang-orang yang beriman.
@ al-Mutakhoyyilaat (المُتَخَيِّلاَتُ)
Maknanya berasal dari kata “khuyala”, yaitu kesombongan. Ada keterkaitan antara tabarruj dan kesombongan. Seorang wanita yang suka berhias, berdandan, memakai wewangian dan tampil cantik tidaklah ia keluar ke jalan atau ke pasar dengan sifat yang tawadhu’kepada Alloh ta’ala, bahkan ia keluar dengan perasaan tinggi, angkuh, sombong dan merasa ujub terhadap dirinya, penampilannya dan tingkah lakunya?! Begitulah kelaziman antara kesombongan dengan tabarruj, sebagaimana ada juga keterkaitan antara kesantunan dengan rasa malu.
Seorang wanita yang santun memiliki rasa malu dan hatinya dipenuhi rasa malu, dibandingkan dengan wanita yang suka bertabarruj dimana ia telah melepaskan jilbab rasa malu dan mengenakan jilbab kesombongan, ujub dan keangkuhan yang akan mendatangkan bahaya bagi kehidupan rumah tangganya, bahkan seluruh kehidupannya.
Oleh karena itu wanita yang memiliki sifat demikian disebut seburuk-buruk wanita, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ

“dan seburuk-buruk istri kalian adalah yang suka bertabarruj lagi sombong, mereka itulah wanita-wanita munafik. Mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom.”
“Ghurob al-A’shom” adalah burung gagak yang di kedua sayap dan kakinya ada sedikit warna putih. Bagaimana engkau akan bisa melihat adanya ghurob al-a’shom di antara burung-burung gagak yang hitam legam? Ghurob al-a’shom ini termasuk yang paling langka, kebanyakan burung gagak itu seluruh tubuhnya berwarna hitam kelam. Maka pada sabda beliau shollallohu alaihi wa sallam: “Mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom” terdapat ungkapan betapa sedikitnya di antara wanita-wanita seperti itu yang akan masuk ke dalam surga, karena sifat burung gagak yang seperti ini sangat jarang sekali.
Kemudian yang semisal hadits ini adalah sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kebanyakan kalian adalah penghuni neraka.” [HR. al-Bukhori no. 304 & 1462 dari hadits Abu Said rodhiyallohu anhu, dan Muslim no. 79 dari hadits Ibnu Umar rodhiyallohu anhu]
Mengapa beliau melihat kebanyakan wanita itu penghuni neraka?

Jika engkau perhatikan sifat-sifat yang disebutkan dalam hadits, anggaplah sifat-sifat itu sebagai seburuk-buruk sifat penduduk neraka, karena engkau akan dapati banyak kaum wanita yang meremehkan dan tidak peduli akan hal tersebut, sampai seolah-olah ia menganggap tidak akan ada hari dimana ia akan berjumpa dengan Alloh dan dihisab atas perbuatan-perbuatannya, sedangkan hadits-hadits dan ilmu itu telah sampai kepadanya, akan tetapi yang ia turuti hanyalah syahwat dan keinginannya saja.
Banyak sekali hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam yang menyebutkan sifat-sifat tercela bagi kaum wanita, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar rodhiyallohu anhu, ia berkata:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ، وَالوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ

“Nabi shollallohu alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang menyambung rambutnya dan minta disambung rambutnya, wanita yang bertato dan minta ditato.”[HR. al-Bukhori no. 5947 dan Muslim no. 2124]
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, ia berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rosululloh shollallohu alaihi wa allam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” [HR. al-Bukhori no. 5885]

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Nabi shollallohu alaihi wa sallam melaknat wanita yang bersifat kelaki-lakian (tomboy).” [HR. al-Bukhori no. 5886 dari hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma]
Dari hadits-hadits ini dan yang selainnya dimana disebutkan laknat bagi kaum wanita yang memiliki sifat-sifat tertentu, engkau dapati banyak wanita yang tidak peduli walaupun ia mendengar laknat, peringatan dan dijauhkan dari rahmat Alloh…
Seolah-olah ia tidak merasa bahwa kelak ia akan berdiri di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala dan akan ditanya…
Seolah-olah tidak akan ada hari dimana ia dimasukkan ke dalam lubang lalu ditaburi tanah dan dikubur…, dimana warnanyapun akan berubah…, leher akan terpisah dari badannya…, dan matapun akan terlepas dari tempatnya, semua ini tidak ada dalam pikirannya…
Dan keinginannya hanyalah bersolek, menghiasi dan mempercantik diri walaupun perbuatan yang ia lakukan itu adalah maksiat kepada Alloh, menyelisihi perintah-Nya dan akan mendatangkan kemurkaan-Nya.
Demikianlah sifat-sifat yang tercela yang dijelaskan dalam sunnah agar para wanita sholihah itu mendapatkan peringatan dari sifat-sifat itu. Dan pengetahuan para wanita tentang hal ini adalah pengetahuan yang dimaksudkan untuk dijauhi, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

Aku mengetahui keburukan bukan supaya aku melakukan keburukan itu
,,,,, akan tetapi agar aku menjauhinya

Barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan
,,,,, ia akan terjatuh ke dalamnya

***

Semoga Alloh ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa menerapkan sifat-sifat istri yang sholihah dan menjauhkan kita dari sifat-sifat istri yang buruk…

** Bagian 9
#Sesungguhnya Suamimu itu Surgamu dan Nerakamu…
Dan di antara sifat istri sholihah adalah: Tidak mengurangi hak suami dan …bersungguh-sungguh dalam berkhidmat kepada suami.
Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubro dari Hushoin bin Mihron dari bibinya, bahwa ia mendatangi Nabi shollallohu alaihi wa sallam untuk suatu keperluan, setelah selesai urusannya Nabi bertanya kepadanya : “apakah engkau memiliki suami?” si bibi menjawab: “ya”, Nabi bertanya lagi: “bagaimana sikapmu engkau terhadapnya?”, si bibi menjawab: “Aku berusaha keras untuk taat kepadanya, kecuali pada perkara yang tidak aku mampui.” Beliaupun bersabda:

انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Lihatlah bagaimana engkau di sisinya, karena sesungguhnya suamimu itu surgamu dan nerakamu.” [HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 8913 dan Ahmad no. 19003. Dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 2612]
Kapan suami bisa menjadi surga bagi istrinya dan kapan bisa jadi neraka?
Maka di sini wajib bagi para wanita untuk memperhatikan hakikat perkara yang besar ini. “Bagaimana engkau di sisinya?”, engkau punya kewajiban-kewajiban dan engkau adalah hamba Alloh, sedangkan di sana ada surga dan neraka. Alloh telah memerintahkan dan mewajibkan bagimu hak-hak suami ini, maka tegakkanlah dan kerjakanlah sebaik mungkin dan sesempurna mungkin dengan meniatkannya sebagai bentuk ketaatan kepada Alloh dan mencari ridho-Nya, tunaikanlah apa yang menjadi kewajibanmu dan mintalah kepada Alloh apa yang dijanjikan kepadamu: “karena sesungguhnya suamimu itu surgamu dan nerakamu.”
***
Dan yang perlu diperhatikan dalam hal ketaatan kepada seseorang, siapapun itu, haruslah tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Alloh, sehingga apabila bertentangan maka ketaatan kepada Alloh lah yang mesti didahulukan.
Dalam kasus ini ketaatan pada suami adalah taat dalam hal yang ma’ruf saja dan tidak boleh taat dalam berbuat kemaksiatan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Alloh.” [HR. Ahmad no. 1041]
Karena seorang suami bisa berbuat salah dan tugas seorang istri sholihah adalah mengingatkan dan memperbaiki kesalahan tersebut dengan cara yang terbaik.

** Bagian 10
# Dan diantara sifat istri sholihah: Tidak membebani suami dengan nafkah yang diluar kemampuannya. #
Hendaknya seorang istri itu tidak bermewah-mewah, berlebihan dan boros terhadap harta suaminya, bahkan hendaknya ia pertengahan dalam masalah nafkah.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [QS al-Furqon : 67]
Dan di antara yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah hadits dari Abu Sa’id atau Jabir bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkhutbah dan memanjangkannya, dalam khutbahnya beliau menyebutkan perkara dunia dan akhirat, dan beliau bercerita bahwa di antara penyebab awal hancurnya Bani Israil adalah adanya istri seorang yang fakir membebani suaminya dengan pakaian-pakaian atau perhiasan yang biasa dikenakan istri orang kaya, beliau lalu menyebutkan bahwa dahulu ada wanita Bani Israil yang pendek lalu dia memakai sepatu dari kayu dan memakai cincin dari emas yang tertutup, kemudian dipolesinya dengan minyak wangi misk, lalu ia berjalan di antara dua wanita yang tinggi atau gemuk, lalu diutuslah seorang laki-laki untuk mengikuti mereka, maka ia pun bisa mengenali dua wanita yang tinggi tersebut dan tidak mengenali wanita yang memakai sepatu dari kayu.”
[HR. Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid no. 487 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 591. Dan juga diriwayatkan Muslim no. 2252 dari Abu Sa’id sebatas kisah wanita pendek tersebut saja]
Jadi diantara penyebab awal hancurnya Bani Israil adalah seorang istri seorang fakir yang membebani suaminya dengan perhiasan-perhiasan yang biasa dipakai oleh istri orang kaya, kemudian lihatlah perbuatan wanita yang pendek ini yang telah berbuat boros, berlebihan, bermewah-mewahan dan manghambur-hamburkan harta serta menipu, ia tidak memiliki sifat qona’ah (jawa: nerimo, pent) atas apa-apa yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala tetapkan baginya.
Dan wanita-wanita yang mengenakan sepatu/sandal berhak tinggi sungguh mirip dengan wanita tadi. Al-Lajnah ad-Daimah telah berfatwa tentang masalah ini:
“Memakai sepatu/sandal berhak tinggi tidak diperbolehkan, karena bisa menyebabkan seorang wanita terjatuh. Sedangkan seseorang diperintahkan dalam syariat untuk menjauhi bahaya sebagaimana keumuman firman Alloh :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Jangan engkau lempar dirimu ke dalam kebinasaan.” [QS al-Baqoroh : 195]
Dan firman Alloh:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Jangan engkau bunuh dirimu.” [QS an-Nisa : 29]
Sepatu berhak tinggi bisa membuatnya tampak lebih tinggi yang sebenarnya, ini merupakan penipuan dan termasuk menunjukkan sebagian perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan.
***
Dalam pergaulan sehari-hari, terkadang seseorang melihat tetangganya atau teman-temannya memiliki kelapangan rizki yang lebih berupa rumah yang mewah, mobil yg mewah, perabot yang indah, gadget-gadget terbaru, anak-anak yang lucu dan lain-lain yang terkadang hal itu membuatnya iri ingin memilikinya juga. Ketika hal itu terjadi, hendaknya ia ingat bahwa tujuan hidupnya di dunia bukanlah untuk bersenang-senang dengan harta, akan tetapi dunia ini hanyalah ujian Alloh untuk mengetahui siapa diantara hama-hambaNya yang bersyukur kepadaNya.
Bahkan jika hal itu terjadi, hendaknya ia untuk melihat bahwa disana masih ada orang-orang yang tidak lebih beruntung daripadanya dalam urusan rizki duaniawi, sebagaimana Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memerintahkan:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي المَالِ وَالخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan dalam harta dan fisik, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” [HR. al-Bukhori no. 6490 dan Muslim no. 2963]
Dan banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ridho atas rizki yang telah Alloh berikan kepada kita, diantaranya:
Dari Abdulloh bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.”[HR. Muslim no. 1054]

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Terimalah apa yang Alloh berikan padamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya. (HR. at-Tirmidzi 2305 dan Ahmad 2/310. Dihasankan oleh Al-Albani dalam ash-Shohihah n0.930)
Semoga Alloh ta’ala memberikan kepada kita taufiq agar kita bisa memiliki sifat ridho atas segala yang telah Alloh berikan kepada kita dan memberikan balasan yang baik atas sikap ridho tersebut

** Bagian 11
#Diantara Sifat Istri Sholihah: Tidak Mengingkari Kebaikan Suaminya#
Dan diantara sifat istri sholihah: Tidak kufur terhadap orang-orang yang memberinya nikmat, yaitu tidak mengingkari nikmat-nikmat yang telah dimudahkan Alloh tabaroka wa ta’ala kepadanya melalui suaminya, sebagaimana dalam hadits:

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan seorang itu bersyukur kepada Alloh apabila ia tidak bersyukur kepada manusia.”
[HR. Ahmad no. 7939 dan Abu Dawud no. 4811 dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 416]
Kemudian hadits lain yang menjelaskan masalah ini adalah yang diriwayatkan oleh al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod dari hadits Asma bintu Yazid al-Anshoriyyah, ia berkata: “Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah lewat di depanku ketika aku sedang bersama teman-teman sebayaku, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami dan berkata:

«إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَ الْمُنْعِمِينَ» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا كُفْرُ الْمُنْعِمِينَ؟ قَالَ: ” لَعَلَّ إِحْدَاكُنَّ تَطُولُ أَيْمَتُهَا مِنْ أَبَوَيْهَا، ثُمَّ يَرْزُقُهَا اللَّهُ زَوْجًا، وَيَرْزُقُهَا مِنْهُ وَلَدًا، فَتَغْضَبُ الْغَضْبَةَ فَتَكْفُرُ فَتَقُولُ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ “

“berhati-hatilah kalian dari kufur terhadap pemberi nikmat”, aku bertanya: “wahai Rosululloh, apa itu kufur terhadap pemberi nikmat?”, beliau menjawab: “Mungkin ada salah seorang diantara kalian yang telah lama menyendiri (melajang) bersama orang tuanya kemudian Alloh memberinya rizki berupa seorang suami dan Alloh memberinya rizki berupa anak dari suaminya itu. Namun ketika ia marah kepada suaminya ia berbuat kufur dengan mengatakan: “Aku tidak pernah melihat satu kebaikanpun darimu.”
[HR.Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 1048, dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 823].
Perkataan beliau: “telah lama menyendiri (melajang) bersama orang tuanya”, maksudnya adalah wanita tersebut telat nikah.
Dan diriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubro karya an-Nasa’i dari Abdulloh bin Umar, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكَرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ

“Alloh tidak melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal ia butuh kepada suaminya itu.”
[HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 9135. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 289]

***

Yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi salah paham, bahwa kekufuran yang disebutkan dalam hadits ini bukanlah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari keislamannya (istilahnya “kufrun duuna kufrin”), akan tetapi ia termasuk dosa besar dan termasuk diantara penyebab banyaknya wanita dimasukkan ke dalam neraka. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: ” يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Neraka diperlihatkan kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah kaum wanita karena mereka berbuat kufur”, beliau ditanya: “apakah karena mereka kufur kepada Alloh?”, beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengingkari kebaikannya, seandainya engkau berbuat baik pada salah seorang dari mereka sepanjang masa kemudian ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai darimu, ia akan mengatakan: “Aku sama sekali tidak pernah melihat satu kebaikanpun darimu.” [HR. al-Bukhori no. 29]

** Bagian 12
# Menunaikan Hak Suami dan Tidak Menyakitinya #
Dan diantara sifat istri sholihah : menghormati suaminya, mengetahui kedudukan dan haknya. Ada beberapa hadits yang menjelaskan masalah ini, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

لَا آمُرُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ وَلَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا يَسْجُدُ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Aku tidaklah memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain. Seandainya aku perintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, akan kuperintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” [al-Mu’jam al-Kabir 11/356, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3490]
Juga diriwayatkan dalam al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thobroni dari Zaid bin Arqom, bahwa Mu’adz berkata: “Wahai Rosululloh, orang-orang ahlul kitab itu sujud kepada pendeta-pendeta mereka, mengapa kami tidak sujud kepadamu?”, beliau bersabda: “seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya. Dan seorang wanita itu belum menunaikan hak suaminya walaupun seandainya suaminya menginginkannya ketika ia sedang berada di dapur, maka berikanlah.” [al-Mu’jam al-Kabir 5/208, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3366]
Hak suami akan lebih besar lagi jika suaminya adalah seorang yang sholeh, bertakwa, yang menjaga ibadahnya dan ketaatannya kepada Alloh. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari jalan Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ! فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata: “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (suami) hanyalah tamu di sisimu, hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami”. [HR. Tirmidzi no. 1174 dan Ibnu Majah no. 2014. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 173]
Para ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan peringatan yang sangat keras kepada para wanita yang menyakiti suaminya.

***

** Bagian 13
Dan diantara sifat istri sholihah : jika Alloh azza wa jalla memberinya kenikmatan dan kemuliaan berupa anak-anak, hendaknya ia bersikap adil diantara mereka. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

اعْدِلُوا بين أَوْلَادِكُمْ اعْدِلُوا بين أَبْنَائِكُمْ

“Bersikap adillah kepada anak-anakmu! bersikap adillah kepada anak-anakmu!” [HR. Abu Dawud no. 3544 dari hadits an-Nu’man bin Basyir rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 173]
Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud, dan banyak hadits lainnya yang semakna dengan hadits ini.

** Bagian 14
Dan diantara sifat istri sholihah : hendaknya ia menetap di rumahnya, dan janganlah ia sering-sering keluar rumah, janganlah ia keluar rumah kecuali kalau ada keperluan saja, janganlah ia berhias dan menampakkan wajahnya (Syaikh Abdurrozzaq al-Badr termasuk ulama yang mewajibkan cadar, pent), hendaknya ia menundukkan pandangannya, menjaga kehormatannya.
Telah kami sebutkan sebelumnya beberapa dalil yang berkaitan dengan masalah ini, dan diantara hadits lain tentang masalah ini adalah yang diriwayatkan ath-Thobroni dalam al-Ausath dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ -أي: جعلها غرضا له- وَإِنَّهَا لَا تَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ مِنْهَا فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat, kalau dia keluar, maka setan akan menghiasinya (yakni menjadikannya sasaran). Dan sesungguhnya dia tidak lebih dekat kepada Allah kecuali di tengah rumahnya” [HR. ath-Thobroni dalam al-Ausath no. 2890 & 8096. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 2688]
***
Alloh ta’ala berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan menetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana orang-orang jahiliyah dahulu” [QS al-Ahzab: 33]
Akhowati fillah… rumah adalah tempat “kerja” seorang muslimah yang sebenarnya, tempatnya melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Alloh dan seorang istri… dimana suatu saat kelak ia akan ditanya tentang tugas dan kewajibannya itu… Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang di bawah kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak suaminya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya terhadap apa yang dipimpinnya.” [Muttafaqun ‘alaih]
Namun ingatlah… setan punya banyak cara untuk menggoda manusia, walaupun seorang muslimah telah mengamalkan ayat dan hadits di atas, ia tetap perlu waspada terhadap godaan-godaan setan yang lain, sebagaimana telah disebutkan oleh syaikh Abdurrozzaq dalam pendahuluan kitab ini dimana kaum muslimah pada zaman ini sangat mudah menerima ajakan-ajakan kepada keburukan walaupun ia berada di dalam rumahnya, melalui media televisi, internet, majalah dan lain sebagainya…
Maka hendaknya seorang wanita muslimah berhati-hati pula dengan media-media ini…
Hendaknya ia mampu memanfaatkan media yang ada untuk membawa kebaikan baginya dan agamanya…
Bukan lalai dan terpedaya dengan arus sehingga bisa merusak dirinya…
Pahamilah bahwa tujuan wanita berdiam diri di rumah itu adalah untuk lebih menjaga kehormatannya dan kemaluannya serta untuk lebih dekat dengan Alloh… menjauhi ikhtilat (bercampur baur) dengan lawan jenis… serta membuatnya lebih fokus dalam mendidik anak-anaknya dan mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri…
Jangan sampai seorang wanita muslimah yang ingin mengamalkan ayat ini dan hadits-hadits lainnya, ketika ia berada di rumahnya tetapi ternyata lewat media internet (facebook misalnya) yang ada di rumahnya ia tidak menjaga pergaulannya dan kehormatannya dengan lawan jenisnya…
Sungguh ini telah merusak tujuannya menetap di rumah…

** Bagian 15 – Selesai
Dan diantara sifat istri sholihah : Tidak menyebarkan rahasia suaminya dan perkara-perkara yang khusus diantara suami-istri, walaupun seandainya terjadi perpisahan pada mereka berdua dan sudah tidak sejalan lagi, maka hendaknya mereka berdua bertakwa kepada Alloh jalla wa ‘ala dalam permasalahan ini.
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dalam masalah ini dari Asma’ bintu Yazid: bahwa ia sedang di sisi Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sementara para laki-laki dan perempuan sedang duduk-duduk, lalu beliau bersabda:

لَعَلَّ رَجُلاً يَقُوْلُ مَا يَفْعَلُ بِأَهْلِهِ وَلَعَلَّ امْرَأَةً تُخْبِرُ بِمَا فَعَلَتْ مَعَ زَوْجِهَا. فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقُلْتُ: أَيْ، وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُنَّ
لَيَفْعَلْنَ وَإِنَّهُمْ ليَفْعَلُوْنَ. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوا فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ شَيْطَانٍ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Mungkin ada seorang lelaki menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya dan mungkin ada seorang wanita menceritakan apa yang dilakukannya bersama suaminya.” Orang-orang yang hadir terdiam. Maka aku menjawab, “Iya demi Allah, wahai Rosululloh. Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya.” Rosululloh bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, karena permisalannya seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya.” [HR Ahmad no. 27583. Dinilai hasan li ghoirihi oleh al-Albani rohimahulloh dalam al-Adabuz Zifaaf hal 143-144, wallohu a’lam]
Perkataan Asma’ bintu Yazid “Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya” penyebutannya dimulai dari wanita lebih dahulu karena hal ini lebih banyak dilakukan wanita, sedangkan laki-laki sangat sedikit yang melakukannya. Wanita itu biasanya membicarakan masalah yang khusus ini dengan teman-temannya, dan kebanyakan mereka tidak peduli untuk membicarakan rahasia suaminya dan urusan-urusannya yang khusus.
Kemudian sabda beliau: “karena permisalannya seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya”, yakni wanita dan laki-laki yang memiliki sifat suka menyebarkan rahasia-rahasia hubungan suami istri permisalannya adalah seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya.

***

Demikianlah sebagian sifat istri sholihah yang dibawakan oleh syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafidzohulloh dalam kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Sebagaimana telah disebutkan di awal tentang kaidah yang mengitari seluruh kebaikan yaitu bersemangat dalam berusaha mencari ridho Alloh dan memohon pertolongan-Nya, maka setelah kita mempelajari sifat-sifat ini, kita berusaha mengamalkannya dan memohon kepada Alloh ta’ala agar dimudahkan untuk mengamalkannya dan istiqomah di jalan-Nya.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Bersemangatlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Alloh” [HR. Muslim no. 2664]
Dan kita memohon kepada Alloh ta’ala dengan nama-namaNya yang terbaik dan sifat-sifatNya yang tinggi agar menunjuki kepada kita semua jalan yang lurus, dan menjadikan apa-apa yang telah kita pelajari sebagai hujjah yang akan membela kita dan bukan hujjah yang akan berbalik melawan kita kelak pada hari kiamat, dan memberikan keberkahan pada kita dalam perkataan, perbuatan, waktu dan pada suami kita, anak-anak kita serta harta kita. Dan semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberkati kehidupan kita seluruhnya…

***Selesai, alhamdulillah***

Sumber www.ummushofi.wordpress.com dengan sedikit editan

sifat-zujah-sholihah

Pelajaran dari Kutaib Shifat Azzaujah Assholihah karya as-Syaikh Abdul Rozzak bin Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr

Bismillah..

As-Syaikh Abdul Rozzak al Badr hafidzahullah adalah seorang ulama yang mengajar di Masjid Nabawi, beliau sudah beberapa kali datang ke Indonesia. Beliau merupakan putra dari seorang ulama ahli hadist yang masih ada dijaman ini yang bernama as-Syaikh Abdul Muhsin al’Abbad al-Badr hafidzahullah, dan kitab صفات الزوجة الصالحة  merupakan salah satu karya dari as-Syaikh Abdul Rozzak al Badr. Kitab tersebut bisa di download Disini
                                 

     *************************

# Ghozwul Fikri!! Perang Pemikiran Terhadap Kesucian & Kemuliaan Kaum Muslimah #

Saat ini kita hidup di zaman dimana kaum wanita kita diperangi dengan peperangan dahsyat yang belum pernah terjadi dalam masa-masa yang lalu, melalui majalah, media dan sarana-sarana lainnya yang bertujuan untuk menghancurkan kesucian wanita, kemuliaannya, kesempurnaannya, perhiasannya, keimanannya, akhlaknya dan keutamaannya.
Kaum wanita terdahulu tidak banyak menerima ajakan-ajakan yang rusak, kenakalan-kenakalan dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, melainkan hanya melalui sarana-sarana yang sangat terbatas, berupa teman yang buruk atau yang semisalnya yang akan memberi pengaruh buruk kepadanya.
Sedangkan saat ini, pemikiran-pemikiran sampah, kejelekan dan kerusakan dari seluruh penjuru dunia bisa sampai kepada kaum wanita walaupun ia berada di dalam rumahnya tanpa perlu keluar rumah.
Pemikiran-pemikiran itu masuk ketika Ia duduk di dalam kamarnya di depan sebuah layar televisi, internet, atau dengan membaca majalah-majalah rendahan, sehingga masuklah semua kerusakan itu kedalam akalnya, pikirannya dan hatinya.
Sehingga ia sangat butuh untuk menutup semua jendela kejelekan, jalan-jalan keburukan dan pintu-pintu masuk kepada kerusakan, agar ia bisa menjadi seorang wanita yang sholihah, suci, dan taat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.
Dan ini merupakan tanggung jawab yang besar pula bagi siapa saja yang Alloh telah beri amanah dalam mengurus kaum muslimah, baik orang tuanya, walinya, ataupun suaminya. Dan ini adalah perkara yang besar yang sangat membutuhkan perhatian dan penjagaan.
Aku (Syaikh Abdurrozzaq) katakan: dalam permasalahan ini, begitu sedikitnya peringatan dan begitu jarangnya orang yang mengingatkan akan sifat-sifat keimanan, sifat-sifat yang utama dan sifat-sifat yang baik yang seharusnya seorang wanita muslimah berhias dengannya, bersamaan dengan itu nampak kelemahan pada kebanyakan wanita dan tersebar pada mereka sedikitnya rasa malu dan sedikitnya ilmu agama, serta nampak diantara mereka berbagai macam kekurangan dan kerusakan.
Selanjutnya, inilah penjelasan tentang sifat-sifat istri sholihah, aku memohon kepada Alloh al-Karim Robb arsy yang agung untuk mencatatnya sebagai kebaikan dan sebagai manfaat, dan menjadikannya sebagai kunci kebaikan dan penutup kejelekan. Dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi hati, perbaikan bagi jiwa dan penghubung dengan Robb semesta alam, untuk mendapatkan ridho-Nya dan menggapai kecintaan-Nya subhanahu wa ta’ala, dan menjauhkan dari apa-apa yang membuat-Nya jalla wa ‘ala murka dan marah.

** Bagian 1
Rosululloh shollallhu alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Bersemangatlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Alloh” [HR. Muslim no. 2664]
Bersemangatlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu” : bersungguh-sungguh mencari sebab-sebab yang bermanfaat dan wasilah-wasilah yang berguna yang dengannnya dapat tercapai kebaikan dan mewujudkan dengannya hidayah.
dan mintalah pertolongan kepada Alloh” : jadilah orang bersandar kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya, yang mencari pertolongan-Nya, yang berharap dari-Ny agar Alloh memberimu taufiq, meluruskanmu, dan mengukuhkanmu, dan memberikan pertolongan untukmu dalam kebaikan dan istiqomah.
Ini adalah kaidah yang besar yang mengitari seluruh kebaikan.

** Bagian 2
Sifat Istri yang Sholihah yang pertama : taat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada.

Hal ini sebagaimana yang datang dari surat an-Nisa’ dalam menyebutkan sifat-sifat istri sholihah :
Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّه

…“Oleh sebab itu wanita-wanita yang sholihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”[an-Nisaa’: 34]
Potongan ayat ini mengandung banyak faidah tentang sifat-sifat istri yang sholihah, faidahnya mencakup seluruh sifat dan keutamaan yang mulia bagi wanita sholihah.
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa wanita sholihah adalah yang memiliki 2 sifat berikut ini:

Sifat yang pertama: berkaitan dengan hubungannya dengan Alloh
Sifat yang kedua: berkaitan dengan hubungannya dengan suaminya
Hubungan wanita sholihah dengan Alloh disebutkan dalam ayat tadi “al-Qonitaat”. Dan al-Qunut disini maknanya adalah terus-menerus dalam berbuat taat kepada Alloh, menjaga ibadah kepada Alloh, berpegang teguh dengan ketaatan itu, melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam Islam, dan tidak meremehkan serta menyia-nyiakannya. Kesemuanya itu telah tercakup dalam firman Alloh ta’ala : “al-Qonitaat”.
Adapun hubungan wanita sholihah dengan suaminya disebutkan dalam ayat tersebut: “Haafidzotun lil ghoibi bimaa hafidzolloh”. Yakni menjaga hak-hak suaminya ketika suaminya sedang tidak ada, demikian pula ketika suaminya ada. Menjaga haknya dalam urusan harta, urusan ranjang, serta menjaga hak dan kewajiban-kewajiban suami.
Dan penjagaan ini sesungguhnya hanya bisa terjadi dengan adanya taufiq, kemudahan, pertolongan dan petunjuk dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu Alloh berfirman : “bimaa hafidholloh”. Yakni bahwasanya penjagaan tersebut terjadi bukan karena kecerdasan seorang wanita, kepintarannya ataupun semata-mata karena usahanya sendiri, akan tetapi hal ini bisa terjadi disebabkan adanya taufiq , petunjuk dan kemudahan dari Alloh subhanahu wa ta’ala.

** Bagian 3
# Wahai Muslimah, Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka!!

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Abdurrohman bin Auf rodhiyallohu anhu bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْ…رَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita itu selalu menjaga sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat pada suaminya, maka kelak akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” [HR. Ahmad no. 1661, Ibnu Hibban no. 4163. Dinilai hasan li ghorihi oleh al-Albani dalam Shohih at-Targhib no. 1931]
Hadits ini adalah suatu kabar gembira bagi para muslimah, yaitu Alloh subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan kepadanya suatu keutamaan yang tinggi. Dengan empat amalan yang bisa dihitung hanya dengan sebelah tangan saja tidak perlu dua, jika ia menjaganya maka akan dikatakan kepadanya pada hari kiamat:
“Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka”
Bukankah sudah seharusnya bagi wanita muslimah yang senantiasa menasehati dirinya untuk memperhatikan sifat-sifat ini dan tekun dalam melaksanakan amalan-amalan ini? Penjagaannya terhadap sholatnya, penjagaannya terhadap puasanya, dan penjagaannya terhadap kemaluannya, serta penjagaannya terhadap hak-hak suaminya, agar ia mendapatkan janji yang baik lagi sempurna ini, sehingga akan dikatakan kepadanya pada hari kiamat : “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka”.
Sesungguhnya dasar kebaikan dari seorang wanita adalah hubungan baiknya dengan Robbnya, dengan baiknya ketaatannya kepada-Nya, baiknya pendekatannya pada-Nya, dan ketekunannya dalam beribadah kepada-Nya. Maka sesungguhnya kebaikan dan keistiqomahan ini adalah jalan kebahagiaannya, jalan kemenangannya, dan jalan kesuksesannya dalam seluruh kehidupannya, diantaranya dalam kehidupan rumah tangganya, kebaikan anak-anaknya, dan keturunannya, sehingga kehidupannya penuh keberkahan dan kebahagiaan.
Oleh karena itu sangat ditekankan bagi wanita yang menghendaki kebaikan pada dirinya, dan sangat ditekankan pada para orang tua yang mencintai kebaikan bagi anak-anaknya untuk mendidik mereka di atas kebaikan, keistiqomahan, dan penjagaan terhadap ibadah, penjagaan terhadap kewajiban-kewajiban islam seperti sholat lima waktu, puasa romadhon, dan menjauhi segala apa yang berdampak buruk bagi kehormatan dan kemuliaannya.

** Bagian 4
Nasehat Syaikh kali ini lebih ditujukan kepada para wanita muslimah yang akan menikah dan para orang tua yang akan menyelenggarakan pernikahan putra-putrinya…
# Nasehat Syaikh Abdurrozzaq al-Badr Dalam Menyelenggarakan Pernikahan #
Kemudian jika Alloh menganugerahkan kepada seorang… wanita muslimah berupa calon suami yang sekufu lagi cocok dengannya, hendaklah ia bertaqwa kepada Alloh sejak awal pernikahannya.
Dan kita perlu memperhatikan sebuah kesalahan yang banyak terjadi, yaitu: berlebihan dan bermewah-mewah dalam pengadakan acara pernikahan dan dalam biaya pernikahan.
Banyak wanita ketika mendekati watu pernikahannya yang dipikirkannya adalah meniru-niru yang dilakukan kaum wanita lainnya, “si fulanah acara pernikahannya begini… pernikahannya si fulan begitu…”, ia ingin meniru-niru yang dilakukan orang-orang sehingga ia pun ikut-ikutan melakukan pemborosan dan menghambur-hamburkan harta, belum lagi adanya kemungkaran-kemungkaran dalam acara pernikahannya, sehingga awal pernikahan ini menjadi sebab kurangnya barokah dan sedikitnya kebaikan.
Dan sebaliknya jika seorang wanita dan keluarganya menjauhi sikap berlebih-lebihan, menjauhi kemaksiatan dan dosa, dengan biaya pernikahan yang tidak memberatkan dan tidak boros, maka hal ini akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan.
Sebagaimana dalam sebuah hadits shohih dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam:

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” [HR. Abu Dawud no. 2117, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1842]
Dan dalam hadits yang lain :

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً

“Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. [HR. Ahmad dalam musnadnya no. 25120 dan an-Nasai dalam al-Kubro no. 9274 dari hadits Aisyah rodhiyallohu anha]
Jadi sebaik-baik wanita adalah yang paling mudahnya.
Oleh karena itu selayaknya bagi seorang wanita muslimah, beserta ayah dan ibunya untuk menjadikan cara pandang mereka dalam mengadakan pernikahan adalah yang mudah, tidak memberatkan, tawadhu’, tidak tinggi hati dan tidak sombong, lemah lembut dan sabar serta meniadakan berlebih-lebihan dan pemborosan. Ini adalah perkara yang akan berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga seluruhnya.
Jika dalam pernikahan itu ada kemudahan dan jauh dari sikap berlebih-lebihan maka ini adalah diantara sebab tercapainya keberkahan dan kebaikan yang berkelanjutan.
Dan jika dimulai dengan berlebih-lebihan dan mubadzir, kemaksiatan dan dosa, maka ini termasuk diantara sebab terbesar dicabutnya keberkahan, wal ‘iyadzu billah, kita berlindung kepada Alloh dari hal tersebut…

***
Alloh ta’ala berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” [QS al-An’aam: 141]

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya orang-orang suka berbuat mubadzir itu adalah saudara-saudaranya syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [QS al-Isro’: 27]
Semoga Alloh ta’ala menjauhkan kita dari sikap berlebih-lebihan dan pemborosan… dan kita memohon kepada-Nya agar rumah tangga kita diberi keberkahan dan senantiasa diliputi kebaikan…

** Bagian 5 
# Sifat Istri Sholihah yang kedua : Waspada Terhadap Godaan Setan yang Terkutuk
Kemudian diantara sifat istri yang sholihah : Waspada terhadap setan yang terkutuk. Dan setan berperan penting dalam merusak kehidupan ini : merusak agama, akhlaq, mu’amalah, rumah tangga dan ukhuwah, dan merusak segala sesuatu yang baik. Setiap hari ia mengirim utusan dan tentara untuk menegakkan peranannya ini.
Marilah kita renungkan sebuah hadits yang terdapat dalam shohih muslim dari hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallohu anhuma bahwasanya Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ ” قَالَ الْأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: «فَيَلْتَزِمُهُ»

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu dia menyebarkan bala tentaranya.Tentara yang paling dekat kepadanya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang kepada Iblis seraya berkata: “Aku telah melakukan ini dan itu”, Iblis menjawab: ”Kamu tidak melakukan apa-apa”, Lalu datang lagi yang lain kepadanya seraya berkata: “Aku tidak berhenti menggoda seorang lelaki sehingga aku memisahkan antara dia dengan istrinya”, Maka Iblis mendekatkan tentara ini kepadanya dan berkata: “bagus kamu”, Al-A’masy berkata : “maka iblispun memeluknya”. [HR Muslim no. 2813]
Di sini istri yang sholihah perlu untuk memahami bab ini dan mewaspadai hakikat ini, begitu juga suaminya. Keduanya harus waspada bahwa di sana ada musuh yang tersembunyi yang melihatmu tapi engkau tidak melihatnya, mengalir dalam aliran darah dalam urat nadimu, ia meniupkan, membisikkan, menipu dan memperdaya. Semua itu dilakukannya sedangkan engkau tidak melihatnya, memberikan rasa was-was di hati suami dan hati istri, dan memunculkan keraguan-keraguan sampai akhirnya terjadilah permusuhan dan setan memiliki banyak cara untuk melakukannya.
Oleh karena itu as-Sunnah telah menjelaskan cara menjaga diri dari setan ketika masuk rumah, berhubungan suami istri, makan, marah dan dalam setiap perkara yang butuh adanya penjagaan dari setan, agar setan tidak menyertainya dalam keluarganya, rumahnya dan anak-anaknya, maka seseorang perlu menjaga dirinya dengan dzikir-dzikir yang mubarokah, dengan al-Qur’an al-Karim dan doa-doa yang diajarkan Nabi, serta dengan menjaga ketaatan dan ibadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.
Oleh karena itu diantara sifat istri yang sholihah adalah berhati-hati dari tipu daya setan, godaannya, bisikan-bisikannya, dan apa-apa yang diperdengarkannya ke dalam jiwa dari apa-apa yang berakibat pada rusaknya hubungan suami istri dan menghancurkan kehidupan rumah tangga.
Dan betapa banyak rumah tangga yang berpisah dan tidak ada rujuk setelahnya dengan sebab menuruti keinginan setan dan mengikuti bisakan-bisikannya, jikalau keduanya berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk dan menjauhi godaan-godaannya, serta bisikan-bisikannya maka masalah itu tidak akan terjadi sehingga tidak akan menghasilkan perceraian!
Dari sini kita harus memperhatikan sebuah peringatan yang bermanfaat: bahwa musuh yang tersembunyi ini yang dia dapat melihatmu sedangkan engkau tidak dapat melihatnya, ia memiliki banyak cara dan pengetahuan untuk merusak manusia.
Pengalaman iblis dalam merusak, menghalangi, memerangi manusia dan menimbulkan permusuhan lamanya mencapai ribuan tahun. Berapa banyak manusia mati dan dikubur dalam keadaan ia telah menjadi pengikut seruan setan dan merupakan hasil pengaruh kerusakan serta kesesatannya. Oleh karena itu rumah tangga muslim sangat membutuhkan penjagaan, membentenginya dan menjauhkannya dari setan yang terkutuk.

** Bagian 6
# Diantara Sifat Istri Sholihah : Membuat Senang Suaminya
Dan diantara sifat istri yang sholihah : Memberikan rasa senang kepada suaminya ketika suaminya memandang kepadanya, baik rupanya, penampilannya maupun bajunya, dan hendaklah ia membiasakan dirinya untuk taat kepadanya, dan memenuhi perintah-perintahnya tanpa rasa sombong, congkak dan tinggi hati. Perhatikanlah hadits nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam sunnan an-Nasa’i dari hadits Abu Hurairoh rodhiyallohu anhu, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam ditanya: “bagaimanakah istri yang baik itu?” Beliau menjawab :

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Yaitu istri yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, mentaati suaminya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya dengan sesuatu yang dibenci suaminya baik berkenaan dengan dirinya sendiri ataupun dengan hartanya.” [HR. an-Nasa’i dalam sunannya no. 3231 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1838]
Ini adalah sifat istri sholihah dari segi penampilan, rupa dan bentuk, ia menjaga penampilannya dengan penjagaan yang lebih di depan suaminya dan di setiap kehadirannya. Demikian juga memperhatikan perintah-perintahnya, keinginannya dan kebutuhannya.
Dan sangat disayangkan sekali banyak wanita tidak berhias kecuali jika ia hendak keluar dari rumahnya untuk menghadiri suatu acara, kumpul-kumpul dan lain sebagainya. Sedangkan terhadap apa-apa yang berkaitan dengan hak suaminya ketika suaminya masuk rumah, maka ia menemuinya dengan baju yang usang, bau yang tidak sedap, rambut yang kusut, dan dengan sifat-sifat yang membuat suami berpaling darinya. Akan tetapi tiba-tiba tiap kali keluar dari rumahnya ia ingin berhias dengan memakai perhiasan yang tidak ditampakkannya kepada suaminya. Maka keinginan yang manakah yang masih memenuhi hati suami yang dihadapkan pada sifat wanita ini?! Dan cinta yang manakah yang masih terjaga di sisinya jika ia melakukan perbuatan ini kepada suaminya?
Ini adalah diantara tanda-tanda kebodohan wanita dan sedikitnya akalnya dalam mewujudkan kesempurnaan kehidupan rumah tangga dan kemuliaannya.
Bersandar terhadap apa yang terjadi, banyak wanita yang meninggalkan kepatuhan dan tidak memenuhi permintaan suami, jenuh, marah dan mengeluh kepada suaminya atau kepada orang lain sehingga membuat kehidupan rumah tangganya sengsara, susah dan jadilah hal itu sebagai penjara bagi dirinya.
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam shohih muslim dari hadits Jabir rodhiyallohu anhu :

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوْقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

“Jika salah seorang dari kalian datang di malam hari maka janganlah dia mendatangi istrinya dengan tiba-tiba”, yaitu jangan datang dengan tiba-tiba di malam hari, mengapa? Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “sampai wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya berkesempatan untuk mencukur bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya yang acak-acakan.” [HR. Muslim no. 715]
Dan di dalam hadits ini ada hal mulia yang harus diperhatikan oleh kaum wanita, yaitu bahwa selayaknya ia menemui suaminya dengan kondisi yang bersih dan penampilan yang baik serta persiapan yang baik apalagi jika suaminya datang dari perjalanan jauh atau safar, maka seorang istri perlu mempersiapkan hal ini sampai dalam mengatur rumah dan mempersiapkannya.
Sebagaimana hadits dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallohu anha beliau berkata :

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ، وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ وَقَالَ: «أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ» قَالَتْ: فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam datang dari suatu perjalanan dan aku telah menutupi rak dengan sebuah kain tipis yang bergambar (makhluk bernyawa, pent). Ketika Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melihatnya beliau merobeknya, dan beliau berkata : Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi ciptaan Alloh.” Lalu Aisyah rodhiyallohu anha berkata : “lalu kain itu kami jadikan sebuah bantal atau dua buah bantal.” [HR. al-Bukhori no. 5954 dan Muslim no. 2107]
Mengapa Aisyah rodhiyallohu anhu meletakkan kain tipis ini – yaitu sebagai tirai? Karena ia ingin ketika Nabi shollallohu alaihi wa sallam masuk rumah, beliau mendapati di dalamnya sesuatu yang indah, baik pada rumahnya itu sendiri maupun pada diri istrinya.
Dari hadist ini dapat kita ambil sebuah faidah yaitu bahwa seharusnya bagi wanita untuk menata rumahnya dan mengaturnya serta mempersiapkannya dengan baik. Sebagaimana selayaknya baginya mempersiapkan diri dengan sempurna dan menyambut suaminya dengan baik. Ini semua adalah sifat-sifat bagi wanita dan istri yang sholihah yang datang dari sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Dan yang termasuk dalam hal ini juga adalah hadits yang terdapat dalam al-Mu’jam al-Ausath karya at-Thobroni, yaitu dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu anhu, bahwasanya Rosulululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita kalian di surga?”
yaitu istri yang akan menjadi penduduk surga disebabkan sifat-sifatnya yang mulia dan tabiatnya yang diberkahi, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيءَ إِلَيْهَا قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Yaitu setiap wanita yang penyayang lagi subur, jika ia marah atau suaminya marah kepadanya, ia berkata : “Ini tanganku kuletakkan di tanganmu, aku tidak akan memejamkan mata sebelum engkau ridho kepadaku” . [HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 1743 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3380]
Yaitu : aku tidak akan menutup mataku dan aku tidak akan tidur sampai engkau ridho kepadaku.
Dan sangat disayangkan, sebagian wanita tidak peduli suaminya tertidur sehari, dua hari, tiga hari, sepuluh hari ataupun sebulan dalam keadaan marah terhadapnya, seolah-olah hal tersebut tidak penting baginya! Seolah-olah ia tidak akan berjumpa dengan Alloh subhanahu wa ta’ala dan dihisab atas perkara ini dan perbuatannya ini.

** Bagian 7

# Diantara Sifat Istri Sholihah : al-Wadud al-Walud al-Muwasiyah al-Muwatiyah… apakah itu??
Dan diantara sifat wanita sholihah: sebagaimana disebutkan dalam hadits yang terdapat dalam Sunan al-Baihaqi dari Abu Udzainah ash-Shodafi, bahwa Rosululloh shollallohu alaihiwa sallam bersabda:

خَيْرُ نِسَائِكُمُ الوَدُودُ الوَلُودُ ، المُوَاسِيَةُ ، المُوَاتِيَةُ ، إذَا اتَّقَيْنَ اللهَ، وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ

“Sebaik-baik istri kalian adalah yang penyayang, subur (banyak anak), mendukung suami lagi penurut, bila mereka bertakwa kepada Allah. Dan sejelek-jelek istri kalian adalah wanita yang suka bertabarruj (bersolek) dan sombong, mereka itu adalah wanita-wanita munafik, mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom (sejenis burung gagak yang langka, pent).” [HR. al-Baihaqi 7/82 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1849]
>> LIHATLAH SIFAT-SIFAT ISTRI SHOLIHAH BERIKUT INI!
@ Al-Wadud (الوَدُودُ)
Ini merupakan sifat yang mulia dan tabiat yang terpuji pada seorang wanita dan istri yang sholihah. Al-Wadud adalah yang disifati dengan penyayang dan memperlihatkan rasa sayangnya itu, dan orang yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah suaminya. Ia memperlihatkan rasa sayangnya kepada suaminya, mendampingi dan bergaul dengannya dengan bertutur-kata yang lembut dengan ucapan-ucapan yang manis, dan memperlihatkan rasa sayangnya dalam bermuamalah dengannya dalam penampilan dan tingkah lakunya.
Memperlihatkan rasa sayang itu bisa dengan ucapan, tingkah laku, penampilan, perbuatan dan akhlak.
@ Al-Walud (الوَلُودُ)
Yaitu banyak keturunan. Ini merupakan sifat yang baik pada seorang wanita yang baik. Jika seorang wanita diuji dengan suatu penyakit (mandul), maka perkara ini tidak memudhorotkannya karena hal ini tidak hanya terjadi pada dirinya saja, oleh karena itu janganlah ia menyalahkan Alloh karena penyakit ini dan hal seperti ini tidaklah menafikan kebaikannya.
Adapun kalau sebenarnya ia seorang wanita yang subur namun ia menolak punya anak atau ingin memutus keturunan maka ini bisa berbahaya baginya. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

تزوجوا الودود الولود فاني مكاثر بكم الأمم

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku pada hari kiamat.” [HR. Ahmad no. 12613 dari hadits Anas rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1784]
Maka seharusnya seorang wanita itu berusaha untuk memiliki anak-anak, melakukan sebab-sebab agar bisa punya anak, kemudian berusaha mendidik, menumbuhkan dan mengasuh mereka, serta meniatkan agar hal ini bisa menjadi sebab adanya anak-anak sholeh dan penyeru-penyeru kepada kebaikan di tengah-tengah masyarakat. Dan hendaknya ia meniatkannya sejak awal ia memasuki jenjang pernikahan, seolah-olah ia berkata antara dirinya dengan Alloh:
“semoga saja Alloh memuliakanku dengan anak-anak yang kelak menjadi bagian dari ummat yang mendapatkan petunjuk, ulama muslimin, atau termasuk dari penyeru kepada kebaikan”,
Sehingga dituliskanlah baginya pahala yang besar dikarenakan niat yang baik ini serta usaha dan kesungguhannya.
@ Al-Muwatiyah (المُوَاتِيَةُ)
Yaitu yang tidak kasar dan keras, bahkan ia penurut, mau mendengarkan, mentaatinya, memenuhi permintaannya dan tidak bersikap sombong dan merasa tinggi terhadap suami, serta tidak bersikap durhaka kepada suami.
@ Al-Muwasiyah (المُوَاسِيَةُ)
Yaitu yang suka membantu suaminya dan berdiri di sisinya, mendukung suaminya untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Alloh, dan mendukungnya dalam apa-apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.
@ Jika mereka bertakwa kepada Alloh
Yakni sifat-sifat tadi hanya bermanfaat bagi seorang wanita jika ia bertakwa kepada Alloh jalla wa ‘ala. Jadi seandainya ia adalah wanita yang penyayang, subur, penurut dan mendukung suaminya akan tetapi yang ia cari hanya sekedar urusan duniawi saja dan bukan karena ketakwaan kepada Alloh, maka sifat-sifat tersebut tidak ada faidah dan manfaat baginya. Jadi sifat-sifat ini hanya bermanfaat baginya jika ia niatkan untuk mendapatkan ridho Alloh jalla wa ‘ala dan untuk melaksanakan ketakwaan kepada-Nya.

Rekaman Safari Dakwah di Pulau Bali oleh Ustadz Hanan Bahanan & Ustadz Abdul Mu’thi al Medany

Alhamdulillah berakhir sudah safari dakwah di pulau Bali yang dilakukan oleh Al Ustadz Hanan Bahanan & Al Ustadz Abdul Mu’thi al Medany selama 4 hari, dan berikut rekaman dari kajian-kajian yang beliau-beliau sampaikan selama memberikan faedah ilmu di Bali.

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Klapa, Kawasan Pecatu Graha (28 September 2012)
Pentingnya Tauhid (Khutbah Jum’at) – Ustadz Hanan Bahanan

Kajian Ba’da Maghrib di Masjid Bin Harits (Masjid Muhammad) (28 September 2012)
Bahaya Syi’ah 1 – Ustadz Hanan Bahanan
Bahaya Syi’ah 2 – Ustadz Hanan Bahanan

Kajian Ba’da Subuh di Masjid Baitul Mukminin, Panjer (29 September 2012)
Menjadi Suami Shalih – Ustadz Abdul Mu’thi al Medany

Kajian Pagi sampai Dzuhur di Masjid Nurul Huda Bandara Ngurah Rai (29 September 2012)
Makna Thagut (sesi 1) – Ustadz Hanan Bahanan
Pembatal-Pembatal keIslaman 1 (sesi2) – Ustadz Abdul Mu’thi al Medany
Pembatal-Pembatal KeIslaman 2 (Tanya Jawab) – Ustadz Abdul Mu’thi al Medany

Kajian Ba’da Maghrib di Masjid Nurul Huda Bandara Ngurah Rai (29 September 2012)
Sifat Istri Shalihah – Ustadz Hanan Bahanan

Kajian Ba’da Subuh di Masjid Baitul Makmur Perum Monang-Maning DPS (30 September 2012)
Sesatnya Syi’ah Plus Tanya Jawab – Ustadz Hanan Bahanan

Kajian Ba’da Subuh di Masjid Sadr Sesetan (30 September 2012)
Kebahagiaan Hidup – Ustadz Abdul Mu’thi al Medany

Kajian Ba’da Asyar di Masjid Nurul Falah, MAN Patas Singaraja (30 September 2012)
Mendalami Agama, Akan Terjaga Dari Fitnah – Ustadz Hanan Bahanan

Kajian Ba’da Isya’ di Masjid Nurul Falah, MAN Patas Singaraja (30 September 2012)
Meninggalkan Hawa Nafsu – Ustadz Abdul Mu’thi al Medany

Jazakumullahu khairan dan semoga bermanfaat.