Monthly Archives: February 2012

SETAN MENJADI “ORANG” KEEMPAT

   Abu ‘Abdillah menceritakan: “Aku tidak tahu bagaimana aku menceritakan kisah yang pernah kujalani selama beberapa waktu ini. Kisah yang telah mengubah seluruh perjalanan hidupku. Sebenarnya aku belum memutuskan untuk membeberkannya, kecuali karena adanya rasa tanggung jawab dalam diriku pada Allah ‘azza wa jalla untuk mengingatkan para pemuda yang selalu mendurhakai Tuhannya, para pemudi yang selalu mengejar sebuah angan-angan dusta atas nama cinta…

   Dahulu kami adalah tiga orang bersahabat. Kami disatukan oleh hobi bersenang-senang. Oh tidak, bukan bertiga, tapi empat orang…. karena yang keempat adalah syetan…

   Suatu waktu, kami pergi untuk “berburu” gadis-gadis yang bisa digoda dengan ucapan semanis madu. Kami akan merayu  mereka perlahan-lahan hingga mereka mau ikut ke kebun-kebun kurma yang jauh ke pinggir kota. Dan disana, mereka akan terkejut bahwa ternyata kami telah berubah menjadi sekumpulan srigala yang tak mengenal belas kasih…

   Begitulah kami melewati hari-hari kami di kebun-kebun itu, ditempat-tempat berlibur bahkan didalam mobil di tepian laut. Hingga akhirnya datang suatu hari yang tidak mungkin aku lupakan…

   Seperti biasa, kami pergi ke sebuah kebun. Dan semuanya telap siap. Masing-masing kami sudah memilik calon korbannya, dan tentu saja ditemani minuman penuh laknat itu. Satu-satunya yang kami lupa adalah makanan. Karena itu, selang beberapa waktu kemudian, seorang dari kami pergi untuk membeli makan malam dengan menggunakan mobilnya. Saat itu kurang lebih jam enam sore. Berjam-jam telah berlalu dan ia tak kunjung datang. Pada pukul sepuluh malam, aku merasa gelisah dan khawatir. Maka aku segera meluncur untuk mencarinya. Dan di jalan, ketika aku dalam perjalan pulang, aku terkejut karena ternyata ada mobil temanku yang telah diselimuti api dalam keadaan terbalik…

   Aku segera mendatanginya seperti orang gila. Aku berusaha mengeluarkannya dari mobil yang menyala-nyala itu. Dan aku tidak sadar ketika aku menemukan setengah dari jasadnya telah hangs. Namun ia masih hidup. Aku pun memindahkannya ke tanah. Beberapa menit kemudian, ia membuka kedua matanya dan berbicara: “Api…. Api…”

   Maka aku putuskan untuk membawanya dengan mobilku. Secepat mungkin aku membawanya ke rumah sakit.

   “Tidak ada gunanya… aku tidak akan sampai…” bisiknya lirih dengan suara tangis.

   Air mata mengalir dari mataku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kawanku meninggal dunia di depanku. Aku tiba-tiba dikejutkan oleh teriakannya: “Apa yang akan aku katakan pada-Nya? Apa yang akan aku katakan pada-Nya?”

   “Dia siapa?” tanyaku.

   “Allah….,” jawabnya dengan suara seakan ia baru saja datang dari sumur yang dalam.

   Aku merasakan tubuh dan perasaanku bergetar hebat. Dan tiba-tiba temanku itu mengerang keras dan melepaskan nafas terakhirnya…

   Hari-hari berlalu, namun gambaran kawanku yang telah pergi itu selalu kembali dan kembali hadir dikepalaku. Ketika ia berteriak saat api melahapnya, “Apa yang akan aku katakan pada-Nya? Apa yang akan aku katakan pada-Nya?”

   Air mataku mengalir. Aku diliputi rasa takut yang aneh. Dan pada saat yang sama, muadzin mengumandangkan adzan Shubuh:
  Allahu akbar, Allahu akbar…
  Hayya ‘ala-shshalah...

   Aku merasa bahwa ini adalah panggilan yang khusus ditujukan untukku, untuk memanggilku ke jalan cahaya dan petunjuk. Maka aku segera mandi, berwudhu dan mensucikan diriku dari kotoran yang selama bertahun-tahun lamanya aku tenggelam di dalamnya. Hari itu, aku menunaikan sholat. Dan sejak hari itu, aku tidak pernah meninggalkan satu pun kewajiban itu…

   Aku memuji Allah yang tidak ada yang patut dipuji selain Dia. Aku telah menjadi seorang manusia yang berbeda. Dan dengan izin Allah, aku bersiap-siao untuk menunaikan ibadah umroh dan juga ibadah haji, insyaAllah. Sebab siapa yang tahu? umur itu ditangan Allah….

   Demikianlah kisah pertaubatan Abu ‘Abdillah – semoga Allah meneguhkan kita dan dia -. Dan tidak ada pesan yang kita sampaikan kepada para pemuda selain pesan: Hati-hati dan waspadalah terhadap kawan-kawan yang “menolong”mu untuk mendurhakai Allah. Kisah Abu ‘Abdillah ini mengandung pelajaran yang luar biasa. Maka apakah ada yang ingin mengambil pelajaran?

Taken from Chicken Soup for Muslim, 159-163

KISAH SEORANG PEROKOK

   Sepuluh tahun yang lalu, aku menikah dengan seorang pemuda perokok tanpa kuketahui bahwa ia merokok. Meskipun ia adalah orang yang berwawasan dan memiliki perilaku yang baik. Ia juga menjaga shalatnya, yang membuatku mencintainya. Hanya saja aku telah merasakan siksaan yang luar biasa akibat kebiasaan merokoknya. Baunya yang busuk menyebar ditubuh dan pakaiannya. Aku berusaha agar ia dapat meninggalkan kebiasaan buruk itu, dan ia selalu berjanji padaku. Namun ia selalu saja menunda dan menunda…

   Kondisi ini terus berlanjut hingga aku semakin jengkel. Ia merokok dimana saja; di mobil dan di setiap tempat. Sampai aku berfikir untuk meminta cerai karena kebiasaan merokoknya.

   Beberapa bulan kemudian, Allah mengaruniakan seorang anak untukku; suatu hal yang kemudian menghalangiku untuk meminta cerai. Anak kami menderita penyakit paru-paru. Dokter mengatakan bahwa penyebabnya adalah kebiasaan orang di sekitarnya, terutama ayahnya yang merokok disampingnya. Tapi suamiku tak kunjung berhenti dari kebiasaan merokoknya.

   Pada suatu malam aku bangun dari tidurku karena suara batuk anakku yang begitu keras akibat paru-parunya. Aku bangun menangisi keadaannya dan juga keadaanku. Aku akhirnya bertekad untuk mengakhiri masalah ini apapun harga yang harus kubayar. Tapi sebuah suara dari dalam diriku tiba-tiba mengatakan: “Mengapa engkau tak kembali kepada Allah??”

   Aku pun berdiri dan berwudhu. Aku mengerjakan shalat. Aku berdoa kepada Allah agar menolongku atas musibah dan memberikan hidayah kepada suamiku untuk meninggalkan kebiasaan merokoknya…

   Aku putuskan untuk menunggunya.

   Pada suatu malam, kami pergi menjenguk seorang kerabat kami yang sakit di rumah sakit. Setelah kami keluar dari membesuknya dan saat kami menuju ke tempat parkir mobil, suamiku mulai lagi merokok. Aku pun mengulangi doaku malam itu. Dan tidak jauh dari mobil kami, aku melihat seorang dokter yang mencari mobilnya di tempat parkir itu. Tiba-tiba, ia mendekati suamiku dan berkata :

   “Saudaraku, saya sejak jam 07.00 pagi ini bersama suatu tim dokter berusaha menyelamatkan hidup seorang korban batang korban rokok yang terlaknat ini karena penyakit kanker paru-paru! Dia masih muda sebaya dengan anda, dan ia punya seorang istri dan beberapa anak!

   Andai engkau bisa ikut denganku sekarang untuk melihat bagaimana penderitaannya akibat penyakit itu. Andai engkau kondiisi anak dan istrinya yang masih muda di dekatnya. Andai engkau dapat merasakan air mata mereka ketika setiap waktu mereka bertanya tentang kondisi ayah mereka. Andai engkau merasakan apa yang juga ia rasakan ketika berada dalam ruangan ICU, ketika ia melihat anak-anaknya menangis, engkau akan melihat air matanya mengalir di dalam masker oksigen yang ia kenakan…

    Aku akhirnya mengijinkan anak-anaknya untuk menjenguknya karena aku tahu melalui pengalamanku bahwa dalam beberapa jam lagi ia akan meninggal kecuali jika Allah menghendaki lain. Kemudian andai saja engkau tahu bagaimana ia menangis seperti anak-anak karena menyadari betapa kritis kondisinya dan bahwa ia akan mengucapkan selamat tinggal untuk menuju negeri akhirat! Apakah engkau mau seperti dia dulu untuk merasakan bahaya rokok? Wahai saudaraku, apakah engkau masih punya hati? Bukankah engkau punya anak dan istri? Kepada siapa engkau akan meninggalkan mereka? Apakah mereka tidak lebih berharga dari sebatang rokok yang tidak ada gunanya sedikitpun kecuali menyebabkan penyakit…”

   Aku dan suamiku mendengarkan kalimat-kalimat itu. Dan tidak lama kemudian, suamiku segera membuang rokoknya. Kemudian dokter yang baik itu mengatakan padanya : “Jangan sampai itu hanya basa-basi. Seriuslah dan bertekadlah sungguh-sungguh untuk meninggalkannya, maka engkau akan melihat kehidupan dan kebahagiaan!”

   Ia kemudian pergi ke mobilnya. Lalu suamiku membuka pintu mobil, aku kemudian menghempaskan tubuhku ke kursi dan tiba-tiba tangisanku meledak. Aku tidak mampu menutupi perasaanku, aku tidak bisa menguasai diriku. Dan aku terus menangis seakan akulah istri pria malang yang tidak lama lagi meninggal itu…

   Adapun suamiku, ia hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa menghidupkan mobilnya kecuali beberapa saat kemudian. Ia berterima kasih kepada dokter yang baik itu. “Betapa baiknya dokter itu…”

   Malam itu menjadi akhir kisahnya bersama kebiasaan merokoknya. Aku juga ikut memuji dan berterima kasih kepada dokter yang baik itu. Aku mendoakannya disetiap sholatku. Sejak hari itu, kehidupan kami menjadi begitu cerah. Dan aku akan terus mendoakannya…

   Dari kejadian ini, aku belajar tentang kekuatan sebuah doa untuk mengubah suatu kondisi. Aku belajar tentang kekuatan kesabaran. Aku belajar bahwa Allah akan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Aku juga telah belajar tentang keikhlasan dari sang dokter yang telah memainkan perannya dengan baik di tempat parkir mobil itu.

   Menurut Anda semua, jika setiap orang menjalankan pekerjaannya dengan keikhlasan seperti ini, berapa banyak masalah yang akan terselesaikan? Berapa banyak kemungkaran yang akan hilang? Tapi masalahnya adalah bahwa kebanyakan dokter, guru, dan pegawai melakukan pekerjaan mereka hanya demi gaji saja. Ini yang menyebabkan kemunduran dan kelemahan kita dalam kedokteran dan pendidikan. Dan ini juga yang menyebabkan kesalahan itu terus bertumpuk-tumpuk.

Inspired by Chicken Soup for Muslim 149-154, by Ahmad Salim Baduwailan

destiny

Sudah Ada Takdir, Lalu Untuk Apa Beramal?

Pertanyaan:

Apakah Allah sudah menentukan orang-orang mana yang masuk surga atau masuk neraka sebelum dilahirkan seperti takdir mati, rezeki dan sebagainya yang dicatat dalam Kitab Lauh Mahfudz?

Lalu manusia ikhtiarnya harus bagaimana?

Jawaban:
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Benar, Allah Ta’ala telah menentukan takdir seluruh makhluk, baik berupa kematian, rezeki, jodoh bahkan masuk neraka atau surga.
Semuanya sudah tercatat di Al Lauh Al Mahfuzh, hal ini berdasarkan beberapa dalil, baik dari Al Quran Al Karim atau Sunnah yang shahih.
Dalil dari Al Quran:
{ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ} [الحج: 70]
Artinya: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.
{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]

Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
أي: جميع الكائنات مكتوب في كتاب مسطور مضبوط في لوح محفوظ، والإمام المبين هاهنا هو أم الكتاب. قاله مجاهد، وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم،

Artinya: “Maksudnya adalah seluruh yang terjadi telah tertulis di dalam Kitab, tertulis dan tersebut di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, dan Al Imam Al Mubin di sini maksudnya adalah induknya kitab (Ummu Al Kitab), sebagaimana yang dinyatakan oleh Mujahid, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahumullah”. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 6/568.
Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:
والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها
Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [الأنعام: 59]

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Al An’am: 59.
{ قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى (51) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى (52)} [طه:   51 – 52]}

Artinya: “Berkata Firaun: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?”. “Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa”. QS. Thaha: 51-52.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.
عَنْ عَلِىٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ»

Artinya: “Ali radhiyallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidak seorang jiwapun melainkan telah dituliskan Allah tempatnya di surga dan neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلاَّ وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ».

Artinya: “Tidak seorangpun kecuali sudah ditentukan tempatnya dari surga dan neraka”. HR. Muslim.
Lalu kalau sudah ditentukan kenapa harus beramal?
Atau pertanyaan lain, kalau sudah ditentukan bagaimana seorang muslim menyikapinya?

Maka perhatikan beberapa hal berikut …
1. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita agar kita beramal, berusaha mencari jalan yang diridhai Allah Ta’ala dengan petunjuk dari Allah Ta’ala yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena segala sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah ditakdirkan atasnya.
عَنْ عَلِىٍّ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ .

Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:
{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 5 – 7]

Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
وفي هذه الأحاديث النهي عن ترك العمل والاتكال على ما سبق به القدر بل تجب الأعمال والتكاليف التي ورد الشرع بها وكل ميسر لما خلق له لا يقدر على غيره.

Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Lihat kitab Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.
2. Ketahuilah kehidupan dunia diciptakan Allah untuk suatu hikmah yaitu menguji siapa yang beriman dan tidak.
Allah Ta’ala berfirman:
{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ } [الملك: 2]

Artinya: “(Dia Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. QS. Al Mulk: 2.
Kehidupan dunia ini adalah lahan ujian, dimana Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan diutusnya para Rasul-Nya ‘alaihimussalam dan diturunkannya kitab-kitab-Nya, siapa yang beriman kepada para Rasul dan mengamalkan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut, maka dia akan menjadi penghuni surga yang diliputi dengan kebahagiaan dan siapa yang tidak beriman kepada para Rasul ‘alaihimussalam, lalu akhirnya tidak mengerjakan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut maka dia akan menjadi penghuni neraka dengan segala macam kesengsaraan di dalamnya.
Sebagian manusia sering bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan di atas dan tidak bertanya tentang rezeki yang berbeda-beda, padahal permasalahan di atas dan permasalahan rezeki satu sisi yang sama, yaitu hal ini adalah sesuatu yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh para makhluk dan hanya Allah yang mengetahui apa yang akan terjadi.
Maka wajib bagi kita untuk yakin dengan hikmah dan keadilan Allah Ta’ala, yaitu bahwa Dia tidak akan menyiksa seseorang tanpa dosa yang berhak atasnya untuk disiksa, itupun Allah telah memaafkan dari kebanyakan kesalahan kita.
Dan prinsipnya, adalah kita harus menerima terhadap perkara yang telah ditetapkan oleh Allah, baik yang bisa dirasiokan oleh akal kita atau tidak bisa, karena pemahaman kita yang sangat pendek, dan kelemahan serta kekurangan ada pada kita, bukan pada hikmah Allah Ta’ala, bahkan Allah Maha Suci tidak boleh ditanya apa yang Dia perbuat.
Allah Ta’ala berfirman:
{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]

Artinya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai”. QS. Al Anbiya’: 23.

 

3. Jangan terlalu banyak bertanya dan menyibukkan diri dengan sejenis pertanyaan ini.
Jangan menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena akan sangat berpengaruh buruk kepada keimanannya sedikit-semi sedikit, perlahan-lahan.
Tetapi, yang harus kita imani adalah bahwa Allah telah:
1. Mengetahui seluruh takdir makhluk dengan ilmunya
2. Menuliskan takdir seluruh makhluk
3. Menghendaki seluruh yang terjadi
4. Menciptakan apapun yang terjadi.
Inilah yang diwajibkan atas seorang muslim mengimaninya.
Adapun hal yang dibelakang ini, sebagaimana yang disebut oleh sebagian ulama “Sirrul Qadar” (rahasia takdir), maka tidak boleh terlalu membebani diri dalam pencariannya, inilah maksud dari perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika seseorang bertanya kepada beliau tentang takdir:
عبد الملك بن هارون بن عنترة ، عن أبيه ، عن جده قال : أتى رجل علي بن أبي طالب رضي الله عنه فقال : أخبرني عن القدر ، ؟ قال : « طريق مظلم ، فلا تسلكه» قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : بحر عميق فلا تلجه « قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : » سر الله فلا تكلفه

Abdul Malik bin harun bin ‘Antharah mendapatkan riwayat dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata: “Seseorang mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, lalu bertanya: “Beritahukan kepadaku tentang takdir?”, beliau menjawab: “Jalan yang gelap janganlah engkau jalani”, orang ini mengulangi pertanyaannya, dijawab oleh beliau: “Laut yang dalam maka janganlah engkau menyelam ke dalamnya”, orang ini mengulangi pertanyaannya, beliau menjawab: “Rahasia Allah  maka jangan engkau membebani dirimu”.  Lihat kitab Asy Syari’ah, karya Al Ajurry, 1/476. 
Semoga jawaban ini bisa menjadi penjelasan bagi yang menulisnya sebelum yang bertanya. Wallahu a’lam.
Sumber disini

Apakah Kedua Orang Tua Rasulullah Berada di Syurga ataukah di Neraka?

* Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :  ”Sesungguhnya aku telah memohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengizinkanku. Namun Ia mengizinkan aku untuk menziarahi kuburnya”
[HR. Muslim no. 976, Abu Dawud no. 3234, An-Nasa’i no. 2034, Ibnu Majah no. 1572, dan Ahmad no. 9686].

* Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :
وأبواه كانا مشركين, بدليل ما أخبرنا

”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami bawakan….”.
(Kemudian beliau membawakan dalil hadits dalam Shahih Muslim di atas – no. 203 dan 976 – di atas)
[Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim]

* Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

جاء ابنا مليكة – وهما من الأنصار

فقالا: يَا رَسولَ الله إنَ أمَنَا كَانَت تحفظ عَلَى البَعل وَتكرم الضَيف، وَقَد وئدت في الجَاهليَة فَأَينَ أمنَا؟

فَقَالَ: أمكمَا في النَار. فَقَامَا وَقَد شَق ذَلكَ عَلَيهمَا، فَدَعَاهمَا رَسول الله صَلَى الله عَلَيه وَسَلَمَ فَرَجَعَا،

فَقَالَ: أَلا أَنَ أمي مَعَ أمكمَا

Datang dua orang anak laki-laki Mulaikah – mereka berdua dari kalangan Anshar –
lalu berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya memelihara onta dan memuliakan tamu. Dia dibunuh di jaman Jahiliyyah.
Dimana ibu kami sekarang berada ?”.
Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Di neraka”.
Lalu mereka berdiri dan merasa berat mendengar perkataan beliau. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil keduanya
lalu berkata : “Bukankah ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka) ?”
[Lihat Tafsir Ad-Durrul-Mantsur juz 4 halaman 298 – Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3787, Thabarani dalam Al-Kabiir 10/98-99 no. 10017, Al-Bazzar 4/175 no. 3478, dan yang lainnya; shahih].

* Al-Imam Ibnul-Jauzi berkata :
وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين
 ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’a…laihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun”
[Al-Maudhu’aat juz 1 hal. 283].

* Dari Anas radliyallaahu ’anhu :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي

قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ

فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”.
Beliau menjawab : “Di neraka”.
Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu
berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”.
[HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516]. Wallahu a’lam

Dari berbagai sumber