Monthly Archives: September 2011

Download Audio : Permasalahan Tentang Jum’at plus tanya jawab (Kajian di Bali)

Bismillah.

Dalam lawatan hari terakhir safari dakwah Ustadz Mizan LC di Bali, beliau memberikan tausiyah seputar permasalahan tentang Jum’at. Ternyata, masih banyak sunnah-sunnah yang manusia meninggalkannya dijaman sekarang ini. Apa saja itu? Silahkan di dengarkan rekamannya dibawah ini dan semoga bermanfaat.

Audio : Permasalahan tentang hari Jum’at

Download Audio : Prinsip-prinsip Ahlussunnah terhadap Alquran dan Assunnah oleh Ustadz Mizan. LC (Kajian di Bali)

Bismillah.

Dalam kesempatan safari dakwah ke pulau Bali kali ini, Ustadz Mizan LC membawakan beberapa tema seputar prinsip-prinsip ahlussunnah terhadap Alqur’an dan Assunnah, yang mana prinsip-prinsip ini mungkin masih banyak diantara kita yang belum memahami dan melaksanakannya. Berikut linknya :

Audio : Larangan Mencari Petunjuk Selain dari Alquran dan Assunnah
Audio : Wajibnya Seseorang Meninggalkan Pendapatnya Kalau Ada Dalil Dari Alquran dan Hadist-hadist Rasulullah Plus Tanya Jawab
Audio : Wajib Mengedepankan Nash Daripada Akal Plus Tanya Jawab

Semoga Bermanfaat

Bantahan Syubhat ‘Alawi al-Maliki Dan ‘Abdurrahman bin Sa’di

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Saat sampai kepadaku syubhat berupa kisah dialog antara as-Sayyid Alawi al-Maliki dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’di, mudah-mudahan Allah merahmati keduanya- saya tidak berminat menjawabnya pada waktu ini, mengingat kesibukanku dalam mendakwahi Nasrani dan Syi’ah. Di samping itu saya tidak ingin mengusik kedamaian antara kami dan saudara kami -meskipun kami berselisih dengan mereka, namun mereka akan tetap menjadi saudara kami, karena kami bersepakat dengan mereka dalam ushul (pokok) agama ini dan banyak sekali dalam furu’ (cabang)nya-. Akan tetapi saya terpaksa menjawab syubhat ini tanpa menundanya, karena melihat pentingannya, bahayanya, dan penyebarannya. Juga karena syubhat tersebut sampai kepada saya dari orang yang tidak mungkin saya menolak permintaannya, yaitu Akhi al-Ustadz Agus Hasan Bashori hafizhahullah. Berikut ini adalah teks dari syubhat tersebut:
Suatu ketika, as-Sayyid ‘Alwi bin Abbas sedang duduk di dalam halaqahnya di Masjidil Haram Makkah. Sementara di sisi lain bagian Masjidil Haram duduk pula as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy, penulis kitab Tafsir (Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan) sementara manusia sedang dalam shalat dan thawaf mereka. Kala itu, langit tengah membawa mendung, kemudian turunlah hujan, dan tertumpah dari talang Ka’bah. Maka orang-orang Hijaz, sebagaimana kebiasaan mereka, berhamburan menuju air yang tumpah dari talang Ka’bah untuk mengambil dan menunangkannya ke baju dan tubuh mereka guna bertabarruk dengannya.
Maka terkejutlah ahlul hasbah dari kalangan Badui dan menganggap bahwa manusia telah datang dengan kesyirikan dan menyembah selain Allah!!! Jadilah mereka kemudian berkata kepada ahlul Hijaz tersebut, ‘Wahai orang-orang musyrik, syirik… syirik….!’
Maka bubarlah orang-orang tersebut, kemudian berpaling menuju halaqah as-Sayyid ‘Alawiy, lalu mereka bertanya kepadanya (tentang hal itu). Lantas diapun membolehkan mereka untuk melakukan hal itu dan menganjurkannya. Maka untuk kedua kalinya, orang-orang itu berhamburan menuju talang Ka’bah untuk mengambil air tanpa menghiraukan ahlul hasbah yang badui tersebut. Kemudian orang-orang itu berkata kepada mereka, ‘Kami tidak akan mempedulikan kalian setelah as-Sayyid Alawiy bin ‘Abbas memberikan fatwa kepada kami…’

Maka orang-orang Badui itupun pergi ke halaqah as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy untuk mengadukan as-Sayyid ‘Alawiy kepadanya. Lantas Ibnu Sa’diy pun mengambil sorbannya lalu pergi dan duduk di sisi as-Sayyid dengan adab yang agung, sementara manusia berkumpul di sekitar keduanya. Kemudian Ibnu Sa;diy berkata kepada as-Sayyid, ‘Apakah benar wahai Sayyid, bahwa Anda telah berkata kepada manusia bahwa terdapat keberkahan pada air ini?!
Maka berkatalah as-Sayyid, ‘Bahkah saya katakan, terdapat dua keberkahan!! ’
Ibnu Sa’di berkata, ‘Bagaimanakah yang demikian itu?’
As-Sayyid menjawab, ‘Dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi…” (QS. Qaaf: 9)
Dan Dia berfirman tentang Ka’bah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (٩٦)

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 96)
Maka keduanya sekarang adalah dua keberkahan; satu keberkahan air langit, dan keberkahan Ka’bah ini.’
Maka takjublah as-Syaikh Ibnu Sa’di seraya berkata, ‘Subhanallah, bagaimana kita bisa lalai dari hal ini?’ lantas diapun berterima kasih kepada as-Sayyid dan meminta izin untuk pergi.
Maka berkatalah as-Sayyid kepadanya, ‘Tenang wahai Syaikh, apakah Anda melihat orang-orang badui tersebut? Sesungguhnya mereka menyangka bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang itu adalah sebuah kesyirikan. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan manusia dan melemparkan tuduhan syirik kepada mereka dalam perkara ini hingga mereka melihat orang seperti Anda menahan mereka, maka bangkitlah menuju talang Ka’bah, lalu ambillah air darinya dihadapan mereka hingga mereka menahan diri dari manusia.’
Maka tidak ada apa pun dari Ibnu Sa’di melainkan dia bangkit dan pergi lalu membuka bajunya, mengambil air dan bertabarruk dengannya. Lalu pergilah orang-orang badui itu dari manusia.
As-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah memberitakan kepadaku dengan kisah ini dalam Tsabatnya.

Jawab:
Saya memohon pertolongan kepada Allah, dan saya banyak bersyukur dan memuji Allah karena syubhat ini dimintakan jawabannya dari saya bukan dari ahli ilmu selain saya. Hal itu bukan karena ilmu saya yang sederhana ini, akan tetapi karena suatu perkara yang para pembaca akan mengetahuinya  dari sela-sela jawaban saya.
Sesungguhnya kisah buatan (atau fiktif) ini, saat memperhatikannya, menjadi jelas bahwa orang yang mengarangnya terjerumus pada banyak kesalahan fatal. Pengarang ini meninggalkan banyak jejak bagi kejahatannya, bukan hanya satu jejak.
Karena perhatian saya agar pembahasan ini menjadi pembahasan yang ilmiah lagi menyeluruh yang mencangkup segala sisinya, maka saya membagi pembahasan ini menjadi sepuluh bagian. Pertama, sanad riwayat kisah; kedua, matan (isi, kandungan) kisah; ketiga, rincian riwayat; keempat, perbandingan riwayat; kelima, pandangan sejarah; keenam, perselisihan redaksional; ketujuh, tujuan dari periwayatan kisah; kedelapan, diagnosa kejiwaan dan psikologi; kesembilan, perbandingan antara as-Syaikh bin Sa’diy dengan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki; kesepuluh, Risalah untuk ummat.

Sanad Periwayatan:
Saat melihat kepada sanad periwayatan, kami mendapatinya dalam keadaan rapuh. Tidak ditemukan sanad shahih lagi terpercaya yang sambung sampai kepada as-Sayyid ‘Alawiy Maliki secara langsung. Sekalipuan ini sudah cukup menjadi dalil yang mu’tabar atas runtuhnya dan tertolaknya riwayat tersebut. Terutama bahwa penulis kisah fiktif itu adalah orang bayangan yang tidak dikenal jati dirinya. Dimana dia menaruh kisah ini di dunia maya yang kemudian dikutip oleh orang-orang tanpa ilmu, pemahman atau klarifikasi. Lalu mengklaim bahwa as-Syaikh Bayangan itu telah mendengar riwayat itu dari as-Sayikh ‘Abdul Fattah Rawwah. Di sinilah riwayat tersebut jatuh berantakan, dan terbuka kedustaannya sama sekali. Yang demikian itu karena as-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah adalah tetangga dekat kami di Makkah, di distrik al-Hujun. Dimana tidak terpisah antara rumah kami dengan rumah Syaikh kecuali oleh satu rumah saja. Saya sendiri kenal dengan as-Syaikh Rahimahullah, dan sepanjang hidup saya, saya tidak pernah mendengar darinya, atau dari seorang pun dari penduduk distrik, atau dari murid-murid beliau yang telah menukil kisah ini dari beliau hingga beliau wafat Rahimahullah.
Agar saya tidak meninggalkan satu kesempatan bagi mereka yang menentang dengan meragukan ucapan saya, maka sesungguhnya saya telah menelephon putra beliau, yaitu Ibrahim pada hari Selasa yang bertepatan dengan 24 Rabiutstsaniy 1432 H (29 Maret 2011) pada jam 12 siang, dimana saya bertanya kepadanya jika dia pernah mendengar kisah ini suatu hari dari ayahandanya di dalam mejelis ilmuanya. Maka dia pun menafikannya dari ayahandanya sama sekali. Dan dia menyebut bahwa ayahandanya memiliki delapan belas kitab yang semuanya terdapat di Perpustakaan Masjidil Haram, dan tidak ada satu pun kitab-kitab itu yang berisi kisah ini. Dan yang mengagetkan, sesungguhnya saya bertanya kepadanya, jika ayahandanya berkeyakinan akan keberkahan air hujan yang turun dari talang Ka’bah, maka diapun menafikan keyakinan ini dari ayahandanya.
Sesungguhnya saya selalu siap kapan saja bagi siapa saja yang ingin bertemu dengan putra Syaikh, saya menjamin dan menjanjikan hal itu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Dia adalah sebaik-baik saksi.
Sebagaimana kami di majalah Qiblati akan menerbitkan –dengan izin Allah- VCD (video) untuk menguatkan persaksian Ibnu as-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah dan saksi lainnya.
Saya kira dengan demikian, kita patut “bertakbir empat kali” atas jenazah sanad riwayat kisah tersebut setelah saya menghadirkan dalil qath’i yang membatalkannya.

Matan Riwayat:
Saat kita mengikuti isi dari kisah ini, maka kita mendapati bahwa kisah ini mengandung berbagai perselisihan syari’at yang jelas. Argumentasi yang mereka klaim bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki berdalil dengannya adalah argumentasi dengan Qiyas yang batil lagi tidak benar. Dimana beliau membuktikan keberkahan air hujan yang turun dari talang Ka’bah dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi…” (QS. Qaaf: 9)
Kemudian ia  menjadikannya bercampur dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (٩٦)

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 96)
Agar para penuntut ilmu bisa memahami kesalahan argumentasi yang rancu ini, pertama-tama kita harus memberikan batasan pemahaman dan makna dari al-barakah (keberkahan) yang disebutkan dalam dua ayat tersebut.
Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: [لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا] maksudnya adalah bahwa rumah ini (Ka’bah) diberkahi oleh Allah, akan tetapi bukanlah makna keberkahan dalam rumah ini dengan kita membuat segala yang kita kehendaki, lalu mengusap-usap tembok Masjidil Haram, atau lantainya, atau Maqam Ibrahim, atau dengan sebagian tempat dari Ka’bah yang tidak ada dalil pun yang menunjukkan perintah pengusapannya, atau dengan apa yang tumpah dari air hujan; bukan ini makna keberkahan tersebut.
Akan tetapi keberkahan yang dimaksud adalah bahwa keberkahan rumah tersebut ada pada kesinambungan kunjungan manusia kepadanya tanpa terputus; penunaian haji dan umrah; diraihnya pahala dengan tambahan pahala satu shalat hingga menjadi seratus ribu shalat; i’tikaf di masjidil Haram, dan membaca al-Qur`an padanya.
Inilah keberkahan Ka’bah yang hakiki, yang sungguh disayangkan tidak difahami oleh as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sebagaimana yang diinginkan oleh sang pengarang kisah buatan ini. Dimana dia telah berbuat buruk kepada beliau dari sisi keinginan baiknya ini.
Adapun keberkahan yang dimaksud dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: [وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا], maka demikian juga, telah hilang dari pikiran as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sebagaimana yang dikehendaki oleh sang pengarang.
Pemahaman yang benar bagi keberkahan tersebut telah jelas dalam ayat tersebut secara ekplisit, dimana ayat tersebut berbunyi:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ (٩)

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam…” (QS. Qaaf: 9)
Maksudnya adalah bahwa Dia menurunkan air yang bermanfaat dari langit, dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkan bumi, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman. Dan diantara hasilnya adalah manusia mengambil manfaat dan memakannya. Maka hujan adalah satu nikmat dari sekian nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengannyalah ada kehidupan manusia, hewan dan bumi. Dengan turunnya hujan, bumi menumbuhkan segala kebaikannya, meratanya keberkahan, dan banyaknya rizki. Akan tetapi keberkahan di sisi as-Sayyid ‘Alawiy Maliki –sebagaimana yang digambarkan oleh pengarang kisah- adalah sesuatu yang lain sebagaimana yang sudah kita baca dalam kisah fiktif di atas. Beliau mengqiyaskan air hujan yang diberkahi dengan turunnya di atas Ka’bah yang diberkahi, kemudian dengan demikian beliau menyimpulkan bahwa terdapat dua keberkahan yang saling bercampur (tumpang tindih). Ini adalah sebuah kesalahan besar yang telah mereka lakukan terhadap as-Sayyid ‘Alawiy. Dikarenakan air hujan itu tetap diberkahi sekalipun turun di negeri kafir dan tidak memiliki kekhususan saat turun di Masjidil Haram. Kami meminta mereka untuk menetapkan dalil bahwa air hujan memiliki kekhususan dengan turunnya di Baitul Haram jika mereka mampu. Maka atas dasar apa mereka menjadikan pengkhususan ini dari istinbath yang disebutkan dalam dua ayat tersebut? Dan kami telah menyebutkan serta menjelaskan maksud keberkahan pada keduanya.
Seandainya kami mengalah, bahwa air hujan yang turun dari talang Ka’bah membawa dua keberkahan yang berarti bahwa manusia akan mengambil manfaat besar dengannya, maka jika demikian, bagaimana hal itu bisa hilang dari pengetahuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak pernah memberikan wasiat kepada umatnya dengan kebaikan agung ini sementara as-Sayyid ‘Alawi Maliki mengetahuinya?
Bagaimana para sahabat, tabi’in dan para imam tidak mengetahui kebaikan agung ini dan as-Sayyid ‘Alawi Maliki mengetahuinya? Maka apakah masuk akal bahwa beliau mengetahui satu perkara yang tidak diketahui oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Dan juga para sahabat, tabi’in dan para imam belum pernah mengetahuinya? Yang juga tidak pernah ditemukan satu dalilpun bahwa mereka pernah mengatakan seperti perkataan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki.
Pada hakikatnya, as-Sayyid ‘Alawiy Maliki dengan logika yang datang dalam kisah ini, beliau tidak hanya lebih ‘alim dari as-Sayikh ibn Sa’diy bahkan dia lebih ‘alim dari seluruh sahabat, tabi’in, dan para imam, termasuk di antara mereka adalah al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah yang tidak pernah memberikan peringatan kepada umat terhadap permasalahan ini seperti apa yang dilakukan oleh as-Sayyid ‘Alawiy Malikiy. Jika al-Imam as-Syafi’i tertinggal dari masalah ini, maka bagaimana tidak tertinggal atas as-Sayikh Ibn Sa’di yang dia lebih kecil daripada al-Imam as-Syafi’i. Kemudian siapa as-Sayikh Ibn Sa’diy di hadapan para sahabat, tabi’in yang mereka tidak tahu masalah ini, dan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki mengetahuinya?!
Termasuk yang penting kita fahami adalah bahwa hujan termasuk perkara yang turunnya terus berulan-ulang. Sekalipun demikian tidak pernah dinukil dengan satu sanad yang shahih bahwa ada salah seorang sahabat atau para imam yang melakukannya atau menganjurkannya. Bahkan dengan sedikit akal, kita akan bisa sampai bahwa seandainya ucapan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki adalah benar, maka pastilah para sahabat dan kaum muslimin akan saling berdatangan dari setiap tempat untuk menuju Makkah pada musim hujan untuk mendapatkan dua keberkahan yang agung tersebut. Sekiranya ini tidak pernah terjadi, maka kita bisa mengetahui akan kebid’ahan tujuan periwayatan kisah tersebut dan kedustaan pengarangnya.

Rincian riwayat:
Anda telah mengikuti dalam kisah tersebut bahwa orang-orang Badui saat mereka pergi kepada as-Sayikh ‘Abdurrahman ibn Sa’di lalu mengadukan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki kepadanya, Sayikh bin Sa’di pun pergi ke Majelis as-Sayyid ‘Alawiy Malikiy dan mendapatinya di sana, kemudian berdialog bersamanya tentang masalah tersebut. Di sini menjadi jelas akan kebohongan dan kedustaan penulis kisah. Sebab, seandainya as-Sayyid ‘Alawiy beriman bahwa air hujan yang turun dari talang ka’bah membawa dua keberkahan, maka pastilah saat itu dia sendiri yang akan berdiri di bawah talang Ka’bah untuk mendapatkan keberkahan tersebut, bukannya duduk di majelisnya! Maksudnya, seharusnya as-Sayikh bin Sa’di tidak mendapati as-Sayyid ‘Alawiy kecuali di bawah talang Ka’bah. Karena hal ini tidak terjadi, maka hal itu merupakan dalil atas kebatilan kisah tersebut.
Demikian juga kita mendapati bahwa manusia saat orang-orang Badui melarang mereka, mereka pergi ke as-Sayyid ‘Alawiy Maliki di majelisnya. Maksudnya bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sejak awal turunnya hujan tidak berada di bawah talang Ka’bah untuk mendapatkan keberkahan dan keutamaan yang agung tersebut! Maka bagaimana mungkin dia menjadikan keutamaan agung itu lepas darinya?! Di sinlah pengarang kisah dusta tersebut menampakkan bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki bukanlah termasuk para ulama yang mengamalkan ilmu mereka. Maka diapun tanpa sadar telah menghinakan beliau, padahal maksudnya ingin memuliakan beliau.
Sebagaimana sang pengarang menampakkan bahwa orang-orang Badui itu lebih banyak ilmunya dari as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, dikarenakan ucapan dan pengingkaran mereka yang disebutkan dalam kisah adalah kebenaran. Dimana keyakinan keberkahan air hujan yang turun dari talang Ka’bah termasuk sarana kesyirikan dan termasuk syirik ashghor. Adapun jika berkeyakinan bahwa itu merupakan wasilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau hujan itu yang memberi keberkahan maka menjadi syirik besar. Demikian pula dengan orang mengusap tembok-tembok Masjidil Haram atau Ka’bah atau Maqom Ibrahim dengan berharap keberkahan, maka itu juga termasuk sarana kesyirikan.
Maka kaum muslimin mencontoh dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mengamalkan sunnah Nabi berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

»خُذُوا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ«

“Ambillah dariku oleh kalian manasik kalian.”
Dan beliau bersabda:

»صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ«

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Maka kita diperintahkan untuk shalat sebagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat, dan berhaji sebagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhaji.
Demikianlah, tanpa sengaja Sang Pengarang telah menjadikan orang-orang Badui pada kedudukan para ulama. Sementara dia jadikan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki tampil sebagai seorang pelaku bid’ah dalam agama, dimana beliau telah memerintahkan sesuatu yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memerintahkannya, melakukannya, dan tidak pernah mengakuinya, dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, serta para imam, termasuk di antara mereka adalah al-Imam as-syafi’i Rahimahullah yang telah hidup bertahun-tahun di Makkah, dan belum pernah dinukil dari beliau satu perintah pun seperti ini, tidak juga dari seorang pun dari para imam.
Sebagaimana Sang Pengarang menjadikan orang-orang yang mencontoh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta mengikuti sunnah beliau sebagai orang-orang Badui. Sedangkan pelaku bid’ah dalam agama menurut pengarang adalah orang yang mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Yang mengejutkan sekarang, yang wajib kami peringatkan adalah bahwa tidak ada satu ulama ahli tafsir pun yang menyebutkan seperti yang disebutkan oleh as-Sayyid ‘Alawiy Maliki pada tafsir-tafsir mereka untuk kedua ayat tersebut. Padahal jika qiyas ini benar maka seharusnya mereka menyebutkannya sebagai bab tambahan istidlal atas keagungan dan keberkahan Ka’bah. Akan tetapi tidak ada satu ahli tafsir pun yang beristidlal dengan hal itu, maka hal ini menunjukkan atas apa? Bagaimana mungkin pada masa ini datang seorang bodoh yang ingin merendahkan ilmu as-Syaikh ibn Sa’di untuk perkara aneh ini yang umat Islam tidak pernah mengetahuinya sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk membawa risalah ini.

Perbandingan Riwayat
Wajib bagi kita untuk mengarahkan satu pertanyaan penting; yaitu mana yang lebih banyak keberkahannya; air zam-zam atau air hujan? Saya kira tidak akan ditemukan satu orang berakal pun yang menjadikan air hujan yang merupakan hasil dari menguapnya air laut itu lebih banyak keberkahannya daripada air zam-zam yang telah disebutkan dalam banyak hadits dengan terang-terangan akan keberkahannya, dan bertabarruk dengannya, serta mencari kesembuhan dengan wasilahnya.  Cukuplah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhususkan air zam-zam, tidak air selainnya untuk memandikan hati manusia termulia, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengan logika qiyas yang sama, yang diqiyaskan oleh pengarang kisah atas nama as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, kami bertanya, bagaimana seandainya kita menjadikan air zam-zam mancur dari talang Ka’bah? Bukankah air zam-zam akan menjadi lebih agung manfaatnya dengan kondisi ini ataukah air hujan lebih agung?  Lalu mengapa as-Syari’ (Allah) tidak menunjukkan kita untuk mengamalkan hal ini agar mendapatkan keberkahan yang teragung? Padahal bisa saja para khalifah, raja-raja untuk melakukannya, lalu mengapa usaha agung ini tertinggal dari meeka, terutama pada masa mereka terdapat para imam pemuka para ulama?
Saya akan membuat satu permisalan dengan satu riwayat hipotesa yang kemudian kita bandingkan dengan kisaf fiktif tersebut. Semuanya akan menjadi yakin bahwa dengan logika yang sama riwayat hipotesa saya akan mengunggulinya, dan hendaknya orang-orang berakallah yang menghukuminya:
Kasus as-Sayyid ‘Alawiy Maliki hanyalah mandi dengan air hujan saat turun (mancur) dari talang Ka’bah, sementara riwayat hipotesa saya yang akan mengungguli riwayat bikinan tersebut adalah; air zam-zam saya masukkan ke dalam Ka’bah, lalu saya meminumnya dari tempat yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dulu shalat di dalamnya. Sekarang perhatikanlah perbedaan antara riwayat as-Sayyid ‘Alawiy dan riwayat saya. Dia mengandalkan air hujan sementara saya mengandalkan air zam-zam. Secara sepakat air zam-zam lebih utama dari air hujan. Kemudian mendasarkan keberkahan pada tempat turunnya air hujan saja yaitu atap Ka’bah, dan airnya datang dari luar Ka’bah, sementara saya menyandarkan pada tempat di dalam Ka’bah, dan itu lebih utama secara sepakat. Dia menyandarkan pada mandi, dan saya menyandarkan pada minum, dan minum lebih utama secara sepakat. Sebagai tambahan atas as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, saya menjadikan minum tersebut di tempat yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dulu shalat di dalam ka’bah, dan tempatnya telah diketahui. Sekarang orang-orang berakal menyaksikan, bukankah setelah perbandingan ini riwayat hipotesa saya lebih kuat dan lebih banyak hujjahnya dari riwayat bikinan tersebut? Akan tetapi pertanyaannya apakah as-Syari’ (Allah yang menetapkan syari’at) telah menunjukkan kepada kita akan kedua riwayat tersebut? Dan apakah para sahabat, tabi’in dan para imam melakukannya? Secara yakin, as-Syari’ tidak pernah menunjukkan kepada kita riwayat as-Sayyid ‘Alawiy yang palsu ini, tidak juga riwayat hipotesa saya. Maka itu menjadi bukti akan kebatilan kedua riwayat tersebut. Maka jika mereka bersikukuh atas kebenaran keberkahan dalam riwayat as-Sayyid ‘Alawi, maka keberkahan yang ada dalam riwayat saya lebih agung.

Pandangan Sejarah:
Sebenarnya apa yang saya sampaikan sudah cukup, tidak perlu pembahasan ini dan pembahasan berikutnya, akan tetapi untuk melepas tanggung jawab dan untuk kelengkapan pembahasan ilmiah ini akan saya lanjutkan dengan sebatas kemampuan saya, siapa tahu sebagian akal bergerak menjauh dari sifat ta’ashshub (fanatik). Untuk  itu saya akan cukup menyebutkan sebagian soal-soal penting yang diharapkan bisa membantu para pencari kebenaran dalam memahami permasalahan dari segala sisinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
Mengapa kisah ini tidak menyebar saat kelompok shufiy memiliki peran di Makkah, dan baru menyebar pada hari ini saat kelompok shufiy tidak memiliki peran?
Mengapa orang-orang Hadhramaut tidak mengetahui kisah ini sejak hari itu sementara Hadramaut adalah markas Syufiy, sementara orang-orang Indonesia mengetahuinya belakangan ini?
Bukankah termasuk aneh, tidak ada seorang pun yang mengetahui kisah ini dari waktu kejadiannya, dan sepanjang masa itu, kemudian menjadi terkenal dan dikenal setelah kurang lebih enam puluh tahun setelah kejadiannya?
Mengapa kisah ini tidak keluar pada masa hidupnya as-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah, lalu keluar setelah wafat beliau sementara beliau adalah saksi terakhir atas kisah tersebut sesuai dengan riwayat yang telah diterjemah?
Mengapa Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah tidak memberikan wasiat kepada anak-anaknya sebagaimana dia telah belajar dari gurunya as-Sayyid ‘Alawiy Maliki dalam kehidupannya, atau setelah kematiannya agar mereka mandi dari air hujan yang turun dari talang Ka’bah. Mengapa beliau menjadikan keutamaan ini hilang dari mereka?
As-Sayyid ‘Alawiy Maliki dulu tinggal di distrik yang persis bersebelahan dengan kami, yaitu distrik al-‘Utaibah, dan kisah ini sama sekali tidak pernah diketahui dari orang-orang tua di distrik al-‘Utaibah, atau penduduk distrik al-Hujun yang bersebelahan dengannya dari majelis-majelis mereka. Lalu bagaimana kisah tersebut tidak menyebar di distrik yang as-Sayyid ‘Alawiy Maliki tinggal di sana, serta menyampaikan kajian di dalamnya lalu bisa menyebar di Indonesia? Demikian juga mengapa penduduk Makkah yang kejadian itu terjadi di sana tidak mengetahuinya, lantas orang-orang Indonesia  justru yang mengetahuinya?
Sekalipun kisah ini bukanlah untuk dibanggakan, sebagaimana telah saya jelaskan, karena menunjukkan kebodohan terhadap al-Qur`an dan sunnah nabi, tetapi kami akan mengalah dan menganggapnya sebagai satu kebanggaan besar bagi as-Sayyid ‘Alawiy Maliki. Maka sesungguhnya jika demikian, lalu mengapa putranya, yaitu as-Sayyid Muhammad ‘Alawiy tidak pernah meriwayatkannya sepanjang hidupnya, sementara dia adalah orang yang paling tahu tentang ayahandanya? Terutama telah ada permusuhan keras antara as-Sayyid Muhammad yang putra ‘Alawiy Maliki itu dengan para pengikut manhaj salaf (wahhabiy)? Maka mengapa dia tidak menggunakannya jika memang itu benar, lalu menyebarkannya dalam satu kitab dari kitabnya, atau satu kaset dari kaset-kasetnya atau dalam kajian video dari kajian-kajiannya? Terutama hal itu sangat dibutuhkan?
Kemudian, mengapa as-Sayyid ‘Abbas, yang dia adalah putra ‘Alawiy Maliki, tidak pernah menceritakan kisah ini sementara dia masih hidup?
Jika kisah ini benar, maka bagaimana kisah ini bisa hilang dari orang-orang shufiah untuk kemudian mereka bisa menggunakannya, merekamnya dengan suara as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sendiri agar menjadi bukti-bukti kemenangan mereka atas pengikut manhaj salaf (wahhabiy)? Dan perlu diketahui bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki telah wafat pada tahun 1971 M, dan kala itu kamera video telah banyak, maka mengapa para pengikutnya tidak merekam realitas ini kemudian menetapkannya untuk sejarah?
Jawabannya dengan mudah, mereka tidak melakukannya karena kisah tersebut adalah kisah bikinan (fiktif), tidak benar, dan diada-adakan secara dusta atas  nama kedua Syaikh tersebut, rahimahumallah.
Saya tutup bagian ini bahwa Sang Pengarang yang dusta tidak memberikan tanggal bagi kita akan waktu terjadinya kejadian itu jika benar. Jika tidak, seandainya dia menyebut tanggal begitu saja, maka pekara dia akan terbongkar dengan mudah. Karena kami akan menentukan, jika kala itu dalam musim panas atau dingin. Jika di musim dingin, maka memungkinkan bagi kami untuk menentukannya jika air hujan turun di atas Makkah dengan tanggal tertentu. Atau bisa dari sebagian kitab yang menetapkan jatuhnya air hujan di Makkah, atau juga melalui lembaga penelitian. Yang menyebabkan hal itu mudah adalah karena Makkah tidak seperti Indonesia yang banyak hujan. Air hujan di Makkah paling-paling turun setahun sekali atau kebanyakan dua kali, dan jarang sekali sampai tiga kali. Akan tetapi Sang Pengarang, karena khawatir terbongkar, dia pun diam sama sekali, dan menjadikannya tanpa penegasan seperti halnya cerita yang kita ceritakan kepada anak-anak kita agar mereka tidur.
Terakhir, saya katakan apakah masuk akal air hujan yang turun dari talang Ka’bah memiliki keberkahan seperti yang ada dalam kisah sementara para sahabat, tabi’in dan para ulama tidak bersegera untuk meraih karunia ini, atau pernah dinukil dari mereka, atau mereka menyebutnya dalam kitab-kitab mereka?
Bahkan seaindainya tabarruk (ngalap berkah) dengan cara itu syar’iy (sesuai syariat), pastilah sejarah akan mencatat untuk kita nama-nama para sahabat, tabi’in dan para ulama yang telah menuai keberkahan ini, lalu sukses mendapat karunia agung ini, dan sekiranya bahwa kisah ini tidak terjadi, maka telah tetap kebatilan dan kedustaan kisah ini.

Kesalahan Redaksioanal (Lafzhiyah):
Pengarang kisah ini terjerumus dalam satu kesalahan besar yang tidak sepatutnya terjadi seandainya dia tahu perbedaan masyarakat antara penduduk Najed dan al-Qashim, serta penduduk Hijaz. Maka diantara kesalahan fatal yang terjadi di dalamnya yang menunjukkan akan kedustaannya adalah bahwa dia menyebutkan as-Syaikh bin Sa’di saat datang kepada ‘Alawiy Maliki, dia menyerunya dengan panggilan sayyid, dan pengarang tersebut lupa bahwa penduduk Najed dan al-Qoshim tidak mengatakan kalimat tersebut (gelar sayyid) hingga hari ini. Sementara kami ahlul Hijaz menggunakan panggilan sayyid itu atas setiap orang yang nasabnya sampai kepada al-Husain Radhiallahu ‘Anhu. Adapun selain kami dari penduduk Najed tidak demikian. Penduduk Najed menggunakan panggilan Syaikh atas setiap ahli ilmu, dikarenakan budaya antara kami, penduduk al-Hijaz dan Penduduk Najed berbeda dalam banyak sisi, dan diantaranya adalah sisi ini.
Pengarang tersebut tidak memikirkan hal itu, karena dia tidak menelitinya. Maka tidak terbersit dalam pikiran sama sekali bahwa penduduk Najed dan al-Qoshim -yang ibnu Sa’di berasal dari mereka-, tidak pernah mengucapkan kalimat sayyid, maka terbongkarlah tipu daya dan kedustaan pengarang kisah ini.

Tujuan Periwayatan tersebut:
Kisah fiktif ini tidaklah disusun tiba-tiba, atau tanpa tujuan yang penulisnya berharap bisa merealisasikannya. Akan tetapi –menurut kami- terdapat berbagai tujuan dan dia berusaha untuk merealisasikannya, diantaranya adalah;
Pertama, sampai kepada disyariatkannya keumuman tabarruk.
Penuntut ilmu pada umumnya mengetahui bahwa terdapat satu kelompok yang berusaha keras  dengan segenap kekuatan yang diberikan kepadanya untuk menetapkan tabarruk (ngalap berkah) dengan kuburan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta beristighatsah dengannya dan dengan orang-orang shalih. Mereka berdalil dengannya untuk membolehkan bertabarruk dengan kuburan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sesungguhnya mereka mengatakan pada sisi lain, jika Ka’bah diberkahi sementara dia adalah sekumpulan batu, maka apakah kedudukan Ka’bah bila dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan makhluk Allah paling utama? Mereka juga mengatakan, jika seorang muslim sangat mulia di sisi Allah dibanding Ka’bah, maka bagaimana kedudukan Ka’bah bila dibandingkan dengan para wali dan orang-orang shalih?
Maka akal mereka pun –mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada mereka- mengambil kesimpulan jika Ka’bah diberkahi, dan ditabarruki, maka bertabarruk dengan para Nabi dan para wali lebih utama untuk dibolehkan. Dan tidak diragukan lagi bahwa kita tidak menyetujui mereka atas bolehnya bertabarruk dengan Ka’bah. Seandainya saja bukan karena ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) maka pastilah mencium hajar aswad adalah bid’ah. Dan adalah Umar t berkata,

إِنِّيْ أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu adalah sebuah batu, yang tidak bisa mendatangkan madharat dan tidak bisa memberikan manfaat, seandainya bukan karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”
Oleh karena itulah, tidak boleh mencium kelambu Ka’bah, atau batu-batu ka’bah, atau rukun Yamani. Kita, saat mengusap batu rukun Yamani misalnya, maka itu adalah untuk beribadah, bukan untuk mencari berkah. Mencium hajar aswad pun demikian, bukan untuk meraih berkah, akan tetapi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, dan mengikuti syari’atn-Nya. Dan ucapan Umar Radhiallahu ‘Anhu terdahulu adalah sebaik-baik dalil.

Kedua, menampakkan ulama shufi sebagai orang yang lebih alim dari ulama wahhabiy. ([1])
Pengarang kisah tersebut bersungguh-sungguh dalam merendahkan ilmu dan kedudukan as-Syaikh bin Sa’diy. Dan menampakkannya di hadapan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki seperti seorang murid kecil yang belajar dari ustadznya. Dan sesungguhnya saya katakan demi membela as-Sayyid ‘Alawiy Maliki yang sekali-kali tidak mungkin beliau berakhlak dengan akhlaq yang buruk ini dalam pergaulannya dengan para ulama, terutama terhadap orang yang lebih banyak ilmu dan lebih tua usianya. Sayyid ‘Alawiy Maliki Rahimahullah dikenal di antara penduduk Makkah dengan adab dan akhlaq tingginya. Dan pengarang telah mensifatkan duduknya as-Syaikh bin Sa’di di sisi as-Sayyid ‘Alawi bahwa dia duduk dengan adap yang agung. Kemudian dia menampakkan as-Syaikh Sa’di mengambil ilmu dari as-Sayyid ‘Alawiy saat sang pengarang menjadikan as-Syaikh bin Sa’di berkata, ‘Bagaimana kita bisa lalai dari ini?’ kemudian dia berterima kasih atas ilmu yang dia belajar darinya. Dan saat dia ingin pamitan, as-Sayyid ‘Alawiy menghentikannya dan memerintahkannya untuk pergi ke tempat tersebut, dan bertabarruk dengan air yang turun dari talang Ka’bah, lalu Syaikh Ibnu Sa’di melakukannya.
Permasalahannya sekarang bukanlah pada pengarang akan tetapi pada akal orang yang membenarkan riwayat lemah seperti riwayat ini. Seandianya saja pengarang tidak mengetahui kebodohan dan sedikitnya ilmu orang yang akan menukil riwayat ini untuk mereka, dia tidak akan berbuat lancang atas mereka. Dia tidak hanya telah menyalahi hak as-Sayikh bin Sa’di, akan tetapi dia juga telah menyalahi hak as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, dan juga hak manusia yang telah dia manfaatkan dan peralat, seakan-akan mereka tidak punya akal, membenarkan segala sesuatu yang dikatakan kepada mereka tanpa konfirmasi.
Ketiga; demi kemenangan atas dakwa salafiyah.
Setelah dakwah salafiyah yang mengajak kepada pembenahan aqidah, serta mencabut kebid’ahan dan kembali berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mendapatkan pertolongan besar, dan jejak dakwah mereka benar-benar bisa dirasakan di medan dakwah sekalipun masa dakwahnya pendek, banyak di antara da’i-da’i kebatilan yang merasa rugi dengan penyebaran kelompok ini di setiap tempat, dan semakin bertambah kemarahan mereka dengan keluarnya banyak dari para pengikutnya ke barisan kelompok ini, sementara tidak ditemukan para pengikut manhaj salaf yang bergabung dengan mereka. Yang demikian karena mustahil bagi orang yang telah mengetahui sunnah yang shahih untuk kembali kepada kelompok lamanya. Semua ini menjadikan marah kelompok tersebut yang mengajak dengan berpegang pada adat agama, sebagaimana mereka mewarisinya dari bapak-bapak, dan ulama-ulama mereka. Agama menurut mereka adalah kebiasaan, bukan ibadah. Yang menjadikan orang-orang ghuluw di antara mereka menyusun hikayat bikinan seperti ini. Maka Allah membantah tipu daya mereka di leher mereka, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada mereka dan kita semua. Aamiin.

Diagnosa Kejiwaan dan Psikologi
Saat kita mengikuti cerita buatan lagi dusta seperti ini, dan bagaimana mereka terbang dengan kegembiraan, seolah merasakan kebahagiaan besar karenanya maka kita bisa menyimpulkan secara ilmiah, dan dengan ringkas, bahwa pada diri mereka terdapat simpul kekurangan, dan perasaan takut, yaitu bahwa jalan keberagamaan mereka selalu membutuhkan (merindukan dan mendambakan) penguat-penguat dan penenang-penenang, agar para pengikut mereka merasa puas dengan jalan keberagamaan mereka. Sesunggungguhnya kebahagiaan berlebihan yang mengenai mereka karena penguat dan penenang ini benar-benar sebuah petunjuk bahwasannya mereka selalu hidup dalam keadaan takut dan gelisah dari berpalingnya pengikut mereka untuk mengikuti manhaj salafus shalih. Dikarenakan mustahil bagi orang yang mengetahui manhaj salafus shalih mau menerima selainnya.
Oleh karena itu, ada dari mereka yang sengaja membuat pahlawan khayalan dan menyanyikannya. Lalu mereka pun merayakan kemenangan semu tersebut. Semua hal ini disebabkan oleh perasaan rendah dan kurang. Lalu mereka melupakan kemenangan hakiki, yaitu mengikuti al-Qur`an yang mulia dan sunnah shahihah dengan pemahaman salafus shalih, bukan dengan pemahaman kisah-kisah bikinan, cerita dusta, dan mimpi syaithani (dari godaan setan).

Perbandingan Antara as-Syaikh Sa’diy dan as-Sayyid ‘Alawiy Malikiy:
Kami, saat kami hidup sejaman dengan dua Syaikh, maka kami mampu membangun satu hukum (kesimpulan), serta menentukan siapa yang lebih ‘alim dari yang lain, tanpa melihat karya tulis masing-masing. Karena kadang orang yang sedikit karyanya lebih banyak ilmunya dari orang yang banyak karyanya. Akan tetapi kami, saat kami ingin membandingkan kadar keilmuan dua syaikh tersebut yang kami tidak sejaman dengan mereka, kami tidak bisa –biasanya- kecuali dengan merujuk kepada karya tulis masing-masing. Pada saat merujuk kepada karya-karya as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy kita menemuinya lebih besar. Cukuplah diantaranya adalah tafsir al-Qur`anul Karim yang berjudul Taisirul Karimil Mannan dalam delapan jilid, dan karya itu menyamai semua kitab-kitab as-Sayyid ‘Alawiy Maliki. Maka lihatlah kepada orang yang dia memiliki delapan jilid tentang Tafsir al-Qur`anul Karim, lalu pengarang kisah itu menjadikannya seperti seorang murid bagi as-Sayyid ‘Alawiy Maliki! Bahkan dia menjadikannya mendengar ayat-ayat dari as-Sayyid ‘Alawi seakan-akan dia baru mendengarnya, dan belum memahami maknanya -sementara dia adalah pemiliki kitab tafsir- kecuali saat as-Sayyid ‘Alawiy menjelaskannya kepadanya! Subhanallah…!!!
Sebagaimana akan tampak jelas bagi setiap peneliti dan dengan mudah, saat dia memperhatikan kitab-kitab as-Sayikh bin Sa’diy, kekuatan, keluasan dan kedalaman ilmu beliau yang membuat musuh-musuhnya marah. Sungguh beliau dikenal di Masjidil Haram bahwa jika beliau berbicara, maka yang mendengar beliau akan berharap agar beliau tidak diam karena kefashihan, dan kekuatan ilmu beliau sebagaimana yang dituturkan oleh orang yang sezaman dengan beliau. Kemudian datanglah penulis kisah dusta tersebut dan menjadikan ulama besar ini sebagai seorang murid kecil di hadapan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sementara beliau lebih tua dua puluh tahun darinya. Dimana as-Sayikh bin Sa’di dilahirkan pada tahun 1889 M, sementara as-Sayyid ‘Alawiy Maliki pada tahun 1910 M. Yaitu saat as-Sayikh bin Sa’di tengah menyampaikan berbagai pengajian dan pelajaran, kala itu as-Sayyid ‘Alawiy adalah seorang penuntut ilmu yang masih terus mengikuti pelajarannya. Maka jadilah hujjah kami lebih kuat seandainya kami yang membuat kisah tersebut, dan kami jadikan as-Sayyid ‘Alawiy tampak sebagai seorang murid bagi as-Sayikh bin Sa’di di dalamnya. Akan tetapi kami tidak melakukannya karena kami tidak merasakan adanya problem kekurangan, walhamdulillah.
Perlu diperhatikan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan penerimaan dan penyebaran kitab-kitab as-Syaikh bin Sa’di diantara kaum muslimin. Hampir-hampir tidak ditemukan satu perpustakaan keIslaman di negeri Islam dan lainnya kecuali di dalamnya terdapat sejumlah kitab-kitabnya, dan yang paling pokok adalah Taisirul Karimil Mannan¸ sementara sebaliknya, kami tidak menemukan pengaruh apapun bagi kitab-kitab as-Sayyid ‘Alawiy Maliki di perpustakaan-perpustakaan Islam. Jika ditemukan, maka itu pun jarang. Karena kitab beliau tidak menyebar sebagaimana kitab-kitab as-Syaikh bin Sa’di. Dan termasuk perkara yang mengherankan adalah seorang laki-laki yang pada kisah tersebut tampak lebih mengerti dari para sahabat, tabi’in, dan para imam ternyata tidak ditemukan pengaruhnya di umat ini pada hari ini, sama saja apakah karyanya yang menyebar atau kajiannya yang tersimpan. Ini bukan berarti menyepelekan ilmu as-Sayyid ‘Alawiy Rahimahullah, akan tetapi kita hanyalah mempersoalkan satu kenyataan.

Risalah saya kepada umat ini:
Setelah pembahasan ilmiah untuk membantah syubhat ini, menjadi jelaslah bagi semua orang kadar kedustaan sebagian mereka serta keberaniannya untuk pemalsuan, dan pembuatan kisah-kisah dusta. Maka seandainya mereka itu berada pada zaman orang yang mengumpulkan hadits, dan para ulama al-Jarh wat-Ta’dil, maka pastilah para ahli al-Jarh wat-Ta’dil itu akan berkata tentang mereka -dalam kitab-kitab mereka-, ‘Mereka pendusta, pemalsu hadits, tidak diterima dari mereka tebusan apapun.’ Sementara kita dapati mereka pada hari ini memimpin majelis-majelis ilmu, wala haula wala quwata illa billah.
Bukan hanya sekali ini mereka membikin kisah-kisah dusta dan istidlal-istidlal batil atas para pengikut manhaj salaf, bahkan mereka terus menerus menyuntik medan dakwah dengan banyak kisah khayalan, kebohongan dan kedustaan. Andai saja mereka mencukupkan diri dengan yang demikian, bahkan lebih dari itu mereka menyematkan tuduhan dusta atas para pengikut manhaj salaf, seolah menjadikan seluruh usaha ini adalah proyek mereka dalam kehidupan ini. Mereka tipu diri mereka sendiri, serta waktu mereka karenanya. Lantas mereka pecah persatuan umat ini, dan menambah perselisihannya. Maka buah dari yang demikian adalah terus berlarutnya kebencian, dan permusuhan seraya berkeyakinan bahwa mereka, dengan yang demikian, tengah memberikan pelayanan kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sementara sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berlepas diri dari perubuatan-perbuatan mereka. Lalu untuk kemaslahatan siapakah apa yang telah mereka lakukan itu? Dan apakah dengan perbuatan tersebut mereka menutup luka umat dan menghimpun kembali urusan mereka yang terpecah belah?
Sesungguhnya umat pada hari ini lebih butuh kepada ukhuwah dan penyatuan barisan di hadapan musuh-musuhnya, dan lebih membutuhkan penebaran kebaikan, serta penyemaian cinta di antara generasi-generasi penerusnya. Terutama di bawah bayang-bayang konspirasi musuh-musuh yang terang-terangan, serta penjajahan mereka terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun demikian, hal itu tidaklah menghalangi kita untuk saling berdialog dalam permasalahan khilaf (yang kita perselisihkan) dengan metode ilmiah dan damai, dengan berpegang dengan dalil, hujjah, dan bukti dari al-Qur`anul Karim dan sunnah nabi yang shahih. Kita saling menjaga ihtiram (pemuliaan), dan penghargaan sebagian kita terhadap sebagian yang lain, seraya bertolak dari landasan al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah:

إِنْ صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ

“Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”
Kami tidak ingin berdialog bersama dengan saudara-saudara kami dengan tujuan untuk mengalahkan dan membela diri (menang-menangan), justru kami memohon kepada Allah agar menjadikan kebenaran itu mengalir dari lisan mereka, kemudian kami mengikutinya. Dan kami di majalah Qiblati membuka untuk mereka dan yang lain untuk bedialog dalam masalah furu’ yang kita berselisih, kemudian silakan masing-masing dari kita menyampaikan dalilnya, yang setelahnya marilah kita jadikan hukum bagi Allah, kemudian bagi para ulama yang obyektif.
Sesungguhnya saya, ketika mengatakan ucapan ini, saya mengetahui dengan jujur dan ikhlas bahwa banyak di antara orang-orang yang menyebarkan berita dusta dan bikinan ini. Mereka menyebarnya dengan niat baik, terutama sebagian mereka memiliki usaha besar yang patut disyukuri dalam menghadapi Syi’ah, Ahmadiyah, dan sekte-sekte sesat lainnya. Dan kami sama sekali tidak akan pernah mengingkarinya, bahkan kami berdo’a agar mereka mendapatkan taufik. Maka mudah-mudahan Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan.
Wahai umat Islam…!
Sekalipun riwayat bikinan ini telah menjadi jelas kedustaannya bagi Anda sekalian, serta kadar kezhaliman yang ditimpakan kepada kami, namun demikian kami tetap mengulurkan tangan-tangan kami, seraya memaafkan, dan meminta kepada orang-orang ikhlas lagi berakal dari mereka untuk membuka lembaran baru dalam hubungan di antara kita. Maka marilah kita tutup masa lalu dan segala isinya, dan marilah kita menjadi generasi masa kini. Sebagian kita menyayangi sebagian yang lain sebagaimana sifat  orang-orang mukmin yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam al-Qur`anul Karim [رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ] ‘saling mengasihi di antara mereka’. Sesungguhnya saya bersaksi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa saya mengatakan ucapan ini dengan jujur, kita semua adalah saudara, tali agama ini tengah mengumpulkan kita, dan itu akan terus seperti itu, kita mau atau mengabaikannya. Maka marilah kita bertakwa kepada Allah terhadap diri-diri kita, dan generasi setelah kita… Inilah tangan kami terbentang bagi setiap orang yang menginginkan saling memaafkan dan persaudaraan.
Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami, ketakwaan, dan kesuciannya. Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah wali dan penolongnya. Ya Allah, berikanlah ilham kepada kami kepada petunjuk kami, serta selamatkanlah kami dari keburukan syaitan, dan keburukan diri-diri kami, serta janganlah Engkau pasrahkan kami kepada diri-diri kami sekejap mata pun. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami, dan saudara-saudara kami kepada perkara yang di dalamnya terdapat segala kebaikan dan kemaslahatan. (AR)*

[1] Kami ingatkan bahwa tidak boleh menggunakan satu nama dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyebut sebagian dari makhluk-Nya, apakah sendirian, atau sekelompok, apakah untuk celaan atau yang lainnya. Maka ucapan Wahhaby aslinya adalah dari asma Allah al-Wahhab, sehingga penggunaan nama ini atas seseorang mengandung unsur perbuatan buruk terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lancang terhadap asma-asma-Nya sekalipun hanya penisbatan saja. Maka bagaimana nama Wahhaibiy digunakan sebagai pelecehan? Dan kita qiyaskan atas hal ini kepada asma Allah yang lain seperti Rahmaniy, Quddusiy… dst. Mudah-mudahan Allah mengampuni para ulama yang telah wafat, dari golongan yang mengulang-ulang penamaan Wahhabiy tanpa memahami atau mengetahui bahayanya.
(Majalah Qiblati Th. VI ed. 9)

Tanduk Setan !!

Telah berkata Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al-Hasan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan”.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1037. Diriwayatkan juga pada no. 7094 dan Muslim no. 2095.

Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2095 (45), dari jalan Al-Laits, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar :
أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو مستقبل المشرق يقول “ألا إن الفتنة ههنا. ألا إن الفتنة ههنا، من حيث يطلع قرن الشيطان”.
Bahwasannya ia mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam – dimana beliau waktu itu menghadap ke timur -, beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah di sini, dari arah munculnya tanduk setan”.
Dalam lafadh lain (46), dari jalan ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepadaku Naafi’, dari Ibnu ‘Umar :
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام عند باب حفصة، فقال بيده نحو المشرق “الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان” قالها مرتين أو ثلاثا.
Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri di samping pintu Hafshah[1], beliau bersabda dengan berisyarat dengan tangannya ke arah timur : “Fitnah itu dari sini, dari arah munculnya tanduk setan”. Beliau mengatakannya dua atau tiga kali.
Riwayat di atas menjelaskan tentang kemunculan fitnah di Najd, sebelah timur Madiinah, yaitu tempat keluarnya tanduk setan. Namun, apa yang dimaksud dengan Najd di sini ?
Telah berkata Al-Imaam Ath-Thabaraaniy :
حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر : أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا: يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال: إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Ma’mariy[2] : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Mas’uud[3] : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun[4], dari ayahnya, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, dari juga ‘Iraaq kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana lah muncul tanduk setan” [Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422].
Sanad hadits ini jayyid.
Naafi’ dalam riwayat ini mempunyai mutaba’ah dari Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar.
حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي : حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اللهم بارك لنا في مدينتنا، وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل : يا رسول الله وفي عراقنا ؟. فقال : رسول الله صلى الله عليه وسلم : بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Ramliy[5] : Telah menceritakan kepada kami Dlamrah bin Rabii’ah[6], dari Ibnu Syaudzab[7], dari Taubah Al-‘Anbariy[8], dari Saalim[9], dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Madinah kami, pada (takaran) shaa’ kami, pada (takaran) mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, dan juga pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab : “Di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Diriwayatkan oleh Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah 2/746-747].
Sanad hadits ini hasan.
Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz mempunyai mutaba’ah dari Sa’iid bin Asad[10] sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Fasawiy (2/747), Al-Hasan bin Raafi’ Ar-Ramliy[11] sebagaimana diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/133), dan ‘Iisaa bin Muhammad An-Nuhaas[12] sebagaimana diriwayatkan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (1/130); dengan sanad shahih.
Ibnu ‘Asaakir (1/130-131) dan Abu Nu’aim (6/133) meriwayatkan dari jalan Al-‘Abbaas bin Al-Waliid bin Mazyad Al-’Udzriy : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Syaudzab : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl, dari Taubah Al-‘Anbariy, dari Saalim, dari Ibnu ‘Umar secara marfu’.
Diriwayatakan juga oleh Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 1/130-131 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/133 dari jalan Taubah Al-Anbariy.
Taubah mempunyai mutaba’ah dari Ziyaad bin Bayaan Ar-Raqiy.
حدثنا علي بن سعيد، قال : نا حماد بن إسماعيل بن علية، قال : نا أبي، قال : نا زياد بن بيان، قال : نا سالم بن عبد الله بن عمر [عن أبيه] قال : صلى النبي صلى الله عليه وسلم صلاة الفجر، ثم انتفل، فأقبل على القوم، فقال : اللهم بارك لنا في مدينتنا، وبارك لنا في مدِّنا وصاعنا، اللهم بارك لنا في شامنا، ويمننا. فقال جل : والعراقُ يا رسول الله، فسكت، ثم قال : اللهم بارك لنا في مدينتنا، وبارك لنا في مدِّنا وصاعنا، اللهم بارك لنا في حرمنا، وبارك لنا في شامنا، ويمننا. فقال رجل : والعراق يا رسول الله، قال : من ثَمَّ يطلع قرن الشيطان، وتهيج الفتن.
Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Sa’iid[13], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah[14], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ayahku[15], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ziyaad bin Bayaan[16], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari ayahnya, ia berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada para orang-orang. Beliau bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Madinah kami, berikanlah barakah kepada kami pada (takaran) mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata : “Dan ‘Iraaq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda :  “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Madinah kami, berikanlah barakah kepada kami pada (takaran) mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata : “Dan ‘Iraaq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda : “(Tidak), dari sana akan muncul tanduk setan dan berkobar dan fitnah” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath, 4/245-246 no. 4098].
Sanadnya shahih.
Selain itu, Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar pun pernah mengecam penduduk ‘Iraaq karena fitnah yang mereka timbulkan dengan menyebut hadits kemunculan tanduk setan.
حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [20/طه/40].
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa Najd yang dikatakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai tempat munculnya tanduk setan, berbagai bencana, dan fitnah adalah ‘Iraaq.
Telah berkata Al-Imaam Al-Khaththaabiy rahimahullah :
نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار
“Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya sahara/gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].
Telah berkata Al-Haafidh Al-Kirmaaniy rahimahullaah :
ومن كان بالمدينة الطيبة -صلى الله على ساكنها- كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها
“Dan bagi Al-Madinah Ath-Thayyibah – semoga Allah melimpahkan barakah kepada penduduknya – , maka najd-nya adalah sahara/gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Ia adalah arah timur bagi penduduk Madinah” [Syarh Shahiih Al-Bukhaariy, 24/168].
Bila kita lihat sejarah, kemunculan firqah Khawarij/Haruriyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Raafidlah, dan yang lainnya dari daerah ‘Iraaq.
Telah berkata Al-‘Allamah Mahmuud Syukriy Al-Aaluusiy Al-‘Iraaqiy rahimahullah berkata :
ولا بدع فبلاد العراق معدن كل محنة وبلية، ولم يزل أهل الإسلام منها في رزية بعد رزيّة، فأهل حروراء وما جرى منهم على الإسلام لا يخفى، وفتنة الجهمية الذين أخرجهم كثير من السلف من الإسلام، إنما خرجت ونبغت بالعراق، والمعتزلة وما قالوه للحسن البصري، وتواتر النقل به واشتهر من أصولهم الخمسة، التي خالفوا بها أهل السنة، ومبتدعة الصوفية الذين يرون الفناء في توحيد الربوبية غايةً يسقط بها الأمر والنهي، إنما نبغوا وظهروا بالبصرة، ثم الرافضة والشيعة وما حصل فيهم من الغلو في أهل البيت، والقول الشنيع في الإمام علي، وسائر الأئمة ومسبة أكابر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، كل هذا معروف مستفيض
“Bukan perkara yang mengherankan bahwa negeri ‘Iraaq sumber setiap fitnah dan bencana. Kaum muslimin di sana senantiasa ditimpa musibah demi musibah. Orang-orang Haruuraa’ (Khawaarij) dan apa yang mereka lakukan terhadap Islam tidaklah samar lagi (akan kerusakannya). Begitu juga dengan fitnah Jahmiyyah yang telah dikafirkan mayoritas ulama salaf, hanya keluar dan lahir dari bumi ‘Iraaq. Mu’tazillah dan apa yang mereka katakan kepada Al-Hasan Al-Bashriy serta lima pokok keyakinan mereka yang masyhur yang menyelisihi Ahlus-Sunnah, dan ahlul-bid’ah dari kalangan Shufiyyah yang berpendapat akan adanya fanaa’ dalam tauhid ar-rububiyyah yang bermaksud menggugurkan beban perintah dan larangan; juga muncul di Bashrah (‘Iraaq). Lalu Raafidlah dan Syii’ah serta apa yang terdapat pada mereka dari sikap ghulluw (berlebih-lebihan) terhadap ahlul-bait, perkataan buruk mereka terhadap Al-Imaam ‘Aliy dan seluruh imam-imam, serta caci-maki mereka terhadap para pembesar shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; maka semuanya ini ma’ruuf lagi tersiar” [Ghayaatul-Amaaniy, 2/180].
Oleh karena itu, keshahihan (kebenaran) dan kesharihan (kejelasan) penunjukan makna Najd terhadap negeri ‘Iraaq sebagai tempat kemunculan tanduk setan dan berbagai macam fitnah lebih terang dari cahaya matahari di siang hari. Akan tetapi, masih banyak kaum yang menafikkan berbagai dalil dan keterangan hanya karena alasan rivalitas madzhab. Nas-alullaaha as-salaamah wal-‘aafiyyah.
Wallaahu ta’ala a’lam.
[abu al-jauzaa’ – setelah shalat shubuh sebelum berangkat ke kantor, 14 Ramadlaan 1431 H]. Silakan baca sambungannya di artikel Najd Bukan ‘Iraq dan artikel : Fitnah Masyriq – Kemunculan Tanduk Setan.


[1]        Lafadh ‘di samping pintu Hafshah’ menurut Asy-Syaikh Al-Albaaniy adalah syaadz [Silsilah Ash-Shahiihah, 5/653]. Dalam riwayat Ahmad (2/18) dengan lafadh :
قام رسول الله صلى الله عليه وسلم عند باب عائشة
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri di samping pintu ‘Aaisyah”.
Dalam lafadh Al-Bukhaariy (no. 3104) :
قام النبي صلى الله عليه وسلم خطيباً، فأشار نحو مسكن عائشة، فقال: هنا الفتنة -ثلاثاً- من حيث يطلع قرن الشيطان
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah, lalu berisyarat ke arah tempat tinggal ‘Aaisyah dan bersabda : “Di sini lah fitnah – beliau katakan tiga kali – dari arah munculnya tanduk setan”.
[2]        Al-Hasan bin ‘Aliy bin Syabiib Abu ‘Aliy – dikatakan juga : Abul-Qaasim – Al-Ma’mariy Al-Baghdaadiy (w. 295 H); seorang haafidh masyhuur yang mempunyai beberapa riwayat ghariib. Ia kadang menyambungkan riwayat mursal dan memarfu’kan riwayat mauquf. Akan tetapi pada dasarnya, riwayatnya adalah shahih hingga jelas terbukti keterangan yang memalingkannya [lihat : Irsyaadul-Qaadliy, hal. 264-267 no. 373].
[3]        Ismaa’iil bin Mas’uud Al-Jahdariy Abu Mas’uud Al-Bashriy (w. 248 H); seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 144 no. 487].
[4]        ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun bin Arthabaan Al-Bashriy. Al-Bukhaariy berkata : “Ma’ruuful-hadiits” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/388 no. 1247]. Abu Haatim berkata :  “Shaalihul-hadiits” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 5/322 no. 1531].
[5]        Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz bin Muhammad Al-‘Umariy Abu ‘Abdillah Ar-Ramliy; seorang yang shaduuq sering ragu (shaduuq yahimu). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 872 no. 6133].
[6]        Dlamrah bin Rabii’ah Al-Filisthiiniy Abu ‘Abdillah Ar-Ramliy; seorang yang tsiqah. Telah ditsiqahkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’iin, An-Nasaa’iy, Ibnu Sa’d, Ibnu Hibbaan, dan ‘Ijliy. Abu Haatim berkata : “Shaalih”. Adan bin Abi Iyaas berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berakal pada apa yang keluar dari kepalanya (pikiranya) daripada Dlamrah”. As-Saajiy berkata : “Shaduuq, namun sering ragu. Ia mempunyai riwayat-riwayat munkar”. (w. 202 H) [lihat biografi selengkapnya dalam Tahdziibut-Tahdziib, 4/460-461 no. 804].
[7]        ‘Abdullah bin Syaudzab Al-Khuraasaaniy Abu ‘Abdirrahmaan Al-Balkhiy; seorang yang tsiqah, telah ditsiqahkan oleh jumhur ulama. Ibnu Hazm menyendiri dengan mengatakan : “Majhuul” (86-144 H) [idem, 5/255-256 no. 447].
[8]        Taubah Al-‘Anbariy Al-Bashriy Abul-Muwarri’; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 183 no. 816].
[9]        Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al-Khaththaab; seorang yang tsabat, ‘aabid, lagi mempunyai keutamaan (w. 106 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 360 no. 2189].
[10]       Sa’iid bin Asad bin Muusaa Al-Mishriy; seorang yang tsiqah. Telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibbaan (8/271), dan meriwayatkan darinya Abu Zur’ah dan Ya’quub bin Sufyaan Al-Fasawiy. Periwayatan Abu Zur’ah darinya dianggap sebagai satu pentsiqahan, sebab tidaklah ia meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah – sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar saat menjelaskan Daawud Daawud bin Hammaad Al-Balkhiy [Al-Lisaan, 3/396 no. 3019].
[11]       Kemungkinan ada tashhif dalam Al-Hilyah, karena yang termasuk murid Dlamrah adalah Al-Hasan bin Waaqi’ bin Al-Qaasim Abu ‘Aliy Ar-Ramliy; seorang yang tsiqah (w. 220 H) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 243 no. 1299].
[12]       ‘Iisaa bin Muhammad bin Ishaaq Abu ‘Umair An-Nuhaas Ar-Ramliy; seorang yang tsiqah (w. 276 H) [idem, hal. 770 no. 5356].
[13]       ‘Aliy bin Sa’iid bin Basyiir bin Mihraan Abul-Hasan Ar-Raaziy; seorang yang tsiqah, kadang ragu, dan diperbincangkan para ulama atas sirahnya (w. 299 H) [Irsyaadul-Qaadliy, hal. 430-431 no. 679].
[14]       Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah Al-Asadiy Al-Bashriy Al-Baghdadiy; seorang yang tsiqah (w. 244 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 267 no. 1496].
[15]       Ismaa’il bin Ibraahiim bin Miqsam Al-Asadiy Al-Bashriy, yang terkenal dengan nama Ibnu ‘Ulayyah; seorang yang tsiqah lagi haafidh (w. 193 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 136 no. 420].

[16]       Ziyaad bin Bayaan Ar-Raqiy; seorang yang shaduuq lagi ‘aabid [idem, hal. 343 no. 2068].

Sumber 

KISAH TENTANG “IPAR ITU MAUT”

Khalid duduk di ruang kerjanya dengan pikiran yang diliputi kesedihan dan kegalauan. Shaleh, kawannya, memperhatikan kegalauan dan kesedihan itu di wajahnya. Ia berdiri dari mejanya dan mendekati Khalid, lalu berkata padanya:
“Khalid, kita ini berteman layaknya bersaudara sejak sebelum kita sama-sama bekerja. Aku perhatikan sejak seminggu ini selalu termenung, tidak konsentrasi. Engkau kelihatan begitu galau dan bersedih…”

Khalid terdiam sejenak. Kemudian ia berkata:
“Terima kasih atas kepedulianmu, Shaleh…Aku merasa memang membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan masalah dan kegelisahanku, barangkali itu bisa membantuku untuk mencari jalan keluarnya…”
Khalid memperbaiki duduknya, lalu menuangkan segelas teh kepada kawannya, Shaleh. Kemudian ia berkata lagi:
 “Masalahnya, wahai Shaleh, seperti yang engkau tahu aku sejak menikah 8 bulan lalu, aku dan istriku tinggal sendiri di sebuah rumah. Namun masalahnya adikku yang paling kecil, Hamd, yang berusia 20 tahun baru saja menyelesaikan SMA-nya dan diterima di salah satu universitas di sini. Dia akan datang satu atau dua minggu lagi untuk memulai kuliahnya. Ayah dan ibuku memintaku bahkan mendesakku agar Hamd dapat tinggal bersamaku di rumahku daripada ia harus tinggal di asrama mahasiswa bersama teman-temannya. Mereka takut nanti dia terseret mengikuti kawan-kawannya!


Aku menolak hal itu, karena kamu tahu kan bagaimana seorang pemuda yang sedang puber seperti itu. Keberadaannya di rumahku akan menjadi bahaya besar. Kita semua sudah melewati masa remaja seperti itu. Kita tahu betul bagaimana kondisinya. Apalagi aku terkadang keluar dari rumah, sementara ia akan tetap berada di kamarnya. Mungkin juga aku pergi untuk beberapa hari untuk urusan pekerjaan…dan banyak lagi…
Aku harus pula sampaikan padamu bahwa aku sudah menanyakan kepada salah seorang Syekh terkait masalah ini, dan beliau mengingatkanku untuk tidak mengizinkan siapapun, meski itu saudaraku sendiri untuk tinggal bersamaku dan bersama istriku di rumah. Beliau mengingatkanku tentang sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Ipar itu adalah maut.”

Maksudnya bahwa hal paling berbahaya bagi seorang istri adalah kerabat-kerabat dekat sang suami, seperti saudara dan pamannya, karena mereka biasanya dengan mudah masuk ke dalam rumah. Dan tidak ada yang meragukan bahwa fitnah yang sangat besar dan berbahaya dapat terjadi di sini.
Lagi pula, engkau pasti tahu, wahai Shaleh, kita seringkali ingin berdua saja dengan istri di rumah agar kita bisa beristirahat bersamanya dengan selapang-lapangnya. Dan ini sudah pasti tidak bisa terwujud jika adikku, Hamd, tinggal bersama kami di rumah…”

Khalid terdiam sejenak. Ia meneguk teh yang ada di depannya. Kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya:
“Aku sudah menjelaskan semuanya kepada ayah dan ibuku. Bahkan aku bersumpah bahwa yang aku inginkan adalah kebaikan untuk adikku, Hamd. Namun mereka justru marah kepadaku, mereka menyerangku di depan semua keluarga, menganggapku sudah durhaka, bahkan menyebutku berprasangka buruk kepada adikku, padahal ia menganggap istriku seperti kakaknya sendiri. Mereka mengira aku dengki pada adikku karena aku tidak menghendaki ia melanjutkan pendidikan tingginya…”

 “Yang lebih berat dari itu semua, wahai Shaleh, adalah karena ayahku telah mengancamku dengan mengatakan bahwa ini akan menjadi citra buruk dan aib besar di tengah keluarga, karena bagaimana adikku bisa tinggal bersama orang lain sementara rumahku ada. Ayahku mengatakan: ‘Demi Allah, jika Hamd tidak tinggal bersamamu, aku dan ibumu akan marah padamu hingga kami mati. Kami tidak pernah mengenalmu sejak hari ini, dan kami akan berlepas diri darimu di dunia sebelum di akhirat…”

Khalid menundukkan kepalanya sejenak, lalu kembali berujar:
“Sekarang aku sungguh bingung tidak tahu berbuat apa. Dari satu sisi, aku ingin menyenangkan hati ayah dan ibuku, tapi di sisi lain aku tidak ingin mengorbankan kebahagiaan keluargaku. Nah, sekarang bagaimana pandanganmu, wahai Shaleh, terhadap masalah yang sangat berat ini?”

Shaleh memperbaiki duduknya. Ia kemudian mengatakan:
“Tentu engkau ingin mendengarkan pendapatku sejelas-jelasnya dalam masalah ini, bukan? Karenanya izinkan aku untuk mengatakan kepadamu, wahai Khalid, bahwa engkau benar-benar seorang peragu dan bimbang. Sebab jika tidak begitu, untuk apa semua persoalan dan masalah ini terjadi bersama kedua orang tuamu? Bukankah engkau tahu bahwa ridha Allah itu bergantung pada ridha kedua orang tua, begitu pula kemurkaan-Nya bergantung pada kemurkaan mereka berdua? Lagi pula jika adikmu tinggal serumah denganmu, ia akan membantumu menyelesaikan urusan rumah. Dan ketika engkau tidak ada di rumah untuk suatu urusan, ia akan menjaga rumahmu selama engkau pergi.
Shaleh sengaja diam sebentar. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Shaleh terhadap apa yang diucapkannya. Kemudian ia melanjutkan dengan mengatakan:

“Lagi pula aku ingin bertanya padamu: mengapa engkau berburuk sangka pada adikmu sendiri? Apa kamu lupa Allah melarang kita berburuk sangka kepada orang lain? Coba katakan padaku: bukankah engkau percaya dengan istrimu? Bukankah engkau percaya kepada adikmu?”

Khalid segera memotongnya:
“Aku percaya kepada istriku dan juga adikku, tapi…”
 “Kita kembali lagi menjadi ragu dan percaya pada praduga-praduga…,” potong Shaleh. “Percayalah, wahai Khalid, adikmu Hamd akan menjadi penjaga yang amanah untuk rumahmu, baik ketika engkau ada ataupun tidak. Ia tidak mungkin akan mengganggu istri kakaknya karena ia sudah menganggapnya seperti kakaknya. Dan coba tanyakan pada dirimu sendiri, wahai Khalid, jika adikmu Hamd kelak menikah, apakah engkau sempat berpikir untuk mengganggu istrinya? Aku yakin jawabnya tidak, bukan?

Lalu kenapa engkau harus kehilangan ayahmu, ibumu dan saudaramu? Keluargamu akan berpecah hanya karena praduga-praduga seperti itu? Gunakanlah akal sehatmu. Buatlah ayah dan ibumu ridha agar Allah juga ridha pada-Mu. Dan jika engkau setuju, biarlah adikmu Hamd, tinggal di bagian depan dari rumahmu, kemudian kuncilah pintu pemisah antara bagian depan rumahmu dengan ruangan-ruangan lain.”
Khalid akhirnya bisa menerima penjelasan kawannya, Shaleh. Di hadapannya, ia tidak punya pilihan selain menerima adiknya, Hamd untuk tinggal bersamanya di rumahnya.

Beberapa hari kemudian, Hamd pun tiba. Khalid menjemputnya di bandara. Mereka kemudian meluncur menuju rumah Khalid di mana Hamd akan menempati bagian depannya. Dan seperti itulah yang terjadi selanjutnya…
Hari demi hari terus berganti. Ia bergulit mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan kini kita telah berada di empat tahun setelah perisitiwa itu…

Kini Khalid telah genap berusia 30 tahun. Ia telah menjadi ayah bagi tiga orang anak. Sementara Hamd kini telah memasuki tahun terakhir perkuliahannya. Ia sudah hampir menyelesaikan kuliahnya di universitas. Kakaknya, Khalid telah berjanji untuk mengupayakan pekerjaan yang layak untuk adiknya di universitas itu, dan membolehkannya tetap tinggal di rumah itu hingga ia menikah dan pindah dengan istrinya ke rumah tersendiri.
Pada suatu malam, ketika Khalid baru saja pulang ke rumahnya dengan mengendarai mobilnya…Ia melintas di jalan yang bertepian dengan rumahnya. Tiba-tiba dari jauh ia melihat seperti dua sosok hitam di pinggir jalan. Ketika ia mendekat, ternyata seorang ibu tua dengan seorang gadis yang terbaring di tanah menangis kesakitan. Sementara sang ibu tua it uterus berteriak meminta tolong:
“Tolong!! Toloooong kami!”

Khalid sungguh heran dengan pemandangan itu. Rasa ingin tahunya mendorongnya untuk mendekat lebih dekat lagi dan bertanya mengapa mereka berdiri di pinggir jalan seperti itu.
Ibu tua itupun menceritakan padanya bahwa mereka bukanlah penduduk kota itu. Mereka baru sepekan saja berada di situ. Mereka tidak mengenal siapapun di sini, dan bahwa gadis itu adalah anaknya, suaminya sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Dan sekarang si anak itu mengalami sakit melahirkan sebelum waktunya. Anaknya hampir mati karena rasa sakit yang luar biasa itu, sementara mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat mengantar mereka ke rumah sakit.

Ibu tua itu meminta tolong dan memohon-mohon padanya sembari mengucurkan air mata: “Tolonglah, aku akan mencium kedua kakimu….bantulah aku dan anakku ke rumah sakita terdekat! Semoga Allah menjagamu, istrimu dan anak-anakmu dari semua musibah.”

Air mata ibu tua dan erangan kesakitan gadis itu membuatnya terenyuh. Ia benar-benar merasa kasihan. Dan karena dorongan untuk membantu orang kesulitan, ia pun setuju untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Ia segera menaikkan mereka ke mobilnya, dan secepatnya meluncur ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, ibu tua itu tidak putus-putusnya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Khalid dan keluarganya.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai ke rumah sakit. Setelah menyelesaikan urusan administrasinya, gadis itu kemudian dimasukkan ke dalam ruang operasi untuk menjalani operasi cesar, karena ia tidak mungkin melahirkan secara normal.

Karena ingin berbuat baik, Khalid merasa kurang enak jika segera pergi dan meninggalkan ibu tua itu bersama putrinya di sana sebelum ia merasa yakin betul akan keberhasilan operasi itu dan bayi yang dikandungnya keluar dengan selamat. Ia pun menyampaikan kepada ibu tua itu bahwa ia akan menunggunya di ruang tunggu pria. Ia meminta pada ibu itu untuk mengabarinya jika operasi itu selesai dan proses melahirkan itu berhasil dengan selamat. Khalid kemudian menghubungi istrinya dan menyampaikan bahwa ia akan sedikit terlambat pulang ke rumah. Ia menenangkan istri bahwa ia baik-baik saja.

Khalid pun duduk di ruang menunggu khusus pria. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok, dan kelihatannya ia sangat mengantuk. Ia pun tertidur tanpa ia sadari. Khalid tidak pernah tahu berapa lama waktu berjalan selama ia tertidur. Namun yang ia ingat betul adalah pemandangan yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selamanya…Ketika ia tiba-tiba terbangun oleh suara dokter jaga dan dua petugas keamanan yang mendekatinya, sementara si ibu tua tadi berteriak-teriak sambil menunjuk ke arahnya: “Itu dia! Itu dia!!”
Khalid sangat terkejut dengan kejadian itu. Ia berdiri dari tempat duduknya dan segera mendatangi ibu tua itu, lalu berkata: “Apakah proses kelahirannya berhasil, Bu?”

Dan sebelum ibu tua itu mengucapkan sesuatu, seorang petuga keamanan mendekatinya dan bertanya: “Anda Khalid?”
“Iya, benar,” jawabnya.
“Kami ingin Anda datang sekarang juga ke ruang kepala keamanan!” ujar petugas itu.
Semuanya akhirnya masuk ke ruang kepala keamanan dan mengunci pintunya. Ketika itulah, ibu tua itu kembali berteriak dan memukul-mukul badannya sendiri. Ia mengatakan: “Inilah penjahat keji itu!! Aku harap kalian tidak melepaskan dan membiarkannya pergi! Duhai malangnya nasibmu, wahai putriku!”

Khalid hanya bisa terkejut penuh kebingungan, tidak memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Ia tidak sadar dari kebingungannya kecuali setelah polisi itu mengatakan:
“Ibu tua ini mengaku bahwa engkau telah berzina dengan putrinya. Engkau telah memperkosanya hingga hamil. Lalu ketika ia mengancammu untuk melaporkan ini pada polisi, engkau berjanji akan menikahinya. Namun setelah melahirkan, kalian akan meletakkan anak bayi itu di pintu salah satu mesjid agar ada orang baik yang mau mengambilnya untuk membawanya ke panti sosial!”

Khalid benar-benar terkejut mendengarkan ucapan itu. Dunia menjadi gelap di matanya. Ia tidak lagi bisa melihat apa yang ada di depannya. Kalimat-kalimatnya tertahan di kerongkongannya. Hingga tiba-tiba saja ia terjatuh, tidak sadarkan diri.

Tidak lama kemudian, Khalid tersadar dari pingsannya. Ia melihat dua orang petugas keamanan bersama di dalam ruangan itu. Seorang polisi khusus yang ada di situ segera mengajukan pertanyaan untuknya:
“Khalid, coba sampaikan yang sebenarnya. Karena kalau kami melihat sosokmu, nampaknya engkau adalah seorang yang terhormat. Penampilanmu menunjukkan bahwa engkau bukanlah pelaku yang melakukan kejahatan seperti ini.”
Dengan hati yang sangat hancur, Khalid mengatakan:
“Tuan-tuan, apakah seperti balasan untuk sebuah kebaikan? Apakah seperti ini kebaikan itu dibalas? Aku adalah seorang pria terhormat dan baik-baik. Aku sudah menikah dan punya tiga orang anak: Sami, Su’ud dan Hanadi. Dan aku tinggal di lingkungan baik-baik…”

Khalid tidak bisa menguasai dirinya. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Kemudian ketika ia mulai tenang, ia pun menceritakan kisahnya dengan ibu tua dan putrinya itu secara lengkap.
Dan ketika Khalid selesai menyampaikan informasinya, polisi itu berkata padanya:
“Tenanglah! Aku percaya bahwa engkau tidak bersalah. Tapi persoalannya adalah semuanya harus berjalan sesuai prosedur. Harus ada bukti yang menunjukkan ketidakbersalahanmu dalam masalah ini. Perkaranya sangat mudah dalam kasus ini. Kami hanya akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium medis khusus yang akan menyingkap hakikat sebenarnya.”

“Hakikat apa?” potong Khalid. “Hakikat bahwa aku tidak bersalah dan seorang yang terhormat? Apakah kalian tidak mempercayaiku?”
Keesokan paginya, selesailah pengambilan sampel sperma milik Khalid untuk kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan diteliti. Khalid duduk bersama polisi khusus di sebuah ruangan lain. Ia tak putus-putusnya berdoa dan meminta kepada Allah agar menunjukkan apa yang sebenarnya telah terjadi!

Kurang lebih dua jam kemudian, datanglah hasil pemeriksaan tersebut. Hasilnya sungguh mengejutkan. Pemeriksaan itu menunjukkan bahwa Khalid sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Itu sepenuhnya adalah tuduhan dusta. Khalid tak kuasa menahan rasa gembiranya. Ia bersujud kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukurnya karena Ia telah menunjukkan ketidakbersalahannya dalam kasus itu. Petugas polisi itupun meminta maaf atas gangguan yang mereka munculkan. Kemudian si ibu tua dan putrinya itupun ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Khalid berusaha untuk berpamitan kepada dokter spesialis yang telah melakukan pemeriksaan tersebut, karena telah menjadi sebab kebebasannya dari tuduhan keji itu. Ia pun pergi menemui sang dokter di ruangannya untuk berpamitan dan berterima kasih. Namun dokter itu justru memberikan kabar kejutan padanya:

“Jika Anda berkenan, saya ingin berbicara dengan Anda secara khusus beberapa menit…”
Dokter itu nampak agak gugup, lalu seperti berusaha mengumpulkan keberaniannya ia berkata:
“Khalid, sebenarnya dari hasil pemeriksaan yang telah saya lakukan, saya khawatir Anda mengidap sebuah penyakit! Tapi saya belum bisa memastikannya. Karena itu saya harap Anda berkenan untuk melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk istri dan anak-anak Anda agar saya bisa memastikannya dengan yakin…”

Dengan perasaan dan raut wajah penuh keterkejutan dan kekhawatiran, Khalid pun berkata:
“Dokter, tolong kabarkan pada apa yang sedang kuderita…aku rela menerima semua takdir Allah bagiku. Yang paling penting bagiku adalah anak-anakku yang masih kecil. Aku siap mengorbankan apa saja untuk mereka…”
Lalu ia menangis tersedu-sedu. Dokter berusaha untuk menenangkannya dan berkata:

“Sebenarnya saya tidak bisa mengabari Anda sekarang sampai saya benar-benar yakin dengan hal itu. Boleh jadi keraguanku tidak pada tempatnya. Tapi segeralah bawa ketiga anakmu ke sini untuk pemeriksaan.”
Beberapa jam kemudian, Khalid pun membawa istri dan anak-anaknya ke rumah sakit itu. Selanjutnya mereka diperiksa dan diambil sampel-sampelnya yang dibutuhkan untuk pemeriksaan laboratorium. Setelah itu, ia membawa mereka pulang lalu ia kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui dokter itu lagi. Ketika mereka berdua sedang mengobrol, tiba-tiba telefon genggam Khalid berbunyi. Ia mengangkatnya dan berbicara kepada orang yang menelponnya beberapa menit.

Kemudian setelah selesai, ia kembali melanjutkan pembicaraannya dengan dokter yang mendahuluinya dengan pertanyaan: “Siapa orang yang padanya kau sampaikan untuk tidak membongkar pintu apartemen itu?”
 “Ia adikku, Hamd. Ia tinggal bersama kami dalam satu apartemen. Ia telah menghilangkan kuncinya dan memintaku untuk segera pulang agar dapat membuka kunci pintu yang tertutup itu,” jawab Khalid.
“Sejak kapan ia tinggal bersama kalian?” tanya dokter heran.
“Sejak empat tahun yang lalu,” jawab Khalid. “Saat ini, ia sedang menyelesaikan tahun terakhirnya di universitas.”
“Bisakah engkau menghadirkannya pula besok untuk juga diperiksa? Kami ingin memastikan apakah penyakit ini keturunan atau bukan?” tanya dokter.

“Dengan senang hati, besok kami akan hadir ke sini bersama,” jawab Khalid.
Pada waktu yang telah ditentukan, Khalid dan Hamd, adiknya, hadir di rumah sakit. Dan akhirnya selesai pula pemeriksaan laboratorium terhadap sang adik. Dokter kemudian meminta Khalid untuk menemuinya satu pekan dari sekarang untuk mengetahui hasil akhirnya…

Sepanjang pekan itu, Khalid hidup dalam kegalauan dan kegelisahan. Pada waktu yang dijanjikan, Khalid pun datang pada minggu berikutnya. Dokter menyambutnya dengan hangat. Ia juga memesankan segelas lemon untuknya agar ia lebih tenang. Dokter mengawali penjelasannya dengan mengingatkan Khalid betapa pentingnya bersabar menghadapi musibah, dan memang demikianlah dunia itu!

Khalid memotong pembicaraan dokter itu dengan mengatakan:
“Tolong, Dokter, Anda jangan membakar tubuhku lebih lama lagi. Aku sudah siap untuk menanggung penyakit apapun yang menimpaku. Ini telah menjadi takdir Allah untukku. Apa yang sebenarnya telah terjadi, Dokter?”

Dokter itu menganggukkan kepalanya lau berkata:
“Seringkali, hakikat yang sebenarnya itu begitu menyakitkan, keras dan pahit! Tapi harus diketahui dan dihadapi! Sebab lari dari masalah tidak akan menyelesaikannya dan tidak akan mengubah keadaan.
Dokter itu terdiam sebentar. Lalu ia pun menyampaikan yang sebenarnya:
“Khalid, mohon maaf, sebenarnya Anda itu mandul dan tidak bisa punya anak…, Ketiga anak itu bukan anak Anda. Mereka adalah anak adik Anda, Hamd.”

Khalid tidak mampu mendengarkan kenyataan pahit itu. Ia berteriak histeris hingga teriakannya memenuhi penjuru rumah sakit. Lalu ia jatuh tak sadarkan diri.
Dua minggu kemudian, barulah ia sadar dari ketidaksadarannya yang panjang. Namun ketika ia sadar, ia telah menemukan hidupnya hancur berkeping-keping.
Khalid mengalami stroke di setengah bagian tubuhnya. Kewarasannya hilang akibat berita yang menyakitkan itu. Ia akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa untuk melewati hari-harinya yang tersisa.
Adapun istrinya, maka ia telah diserahkan kepada Mahkamah Syariat untuk membenarkan pengakuannya lalu dihukum dengan hukum rajam hingga mati.

Sedangkan adiknya, Hamd, ia sekarang berada di dalam penjara menunggu keputusan hukum yang sesuai dengan kejahatannya.
Sedangkan ketiga anak itu, mereka dipindahkan ke panti sosial untuk akhirnya hidup bersama anak-anak yatim dan mereka yang dipungut dari jalanan. Begitulah, sunnatullah berlaku: “Ipar itu adalah maut.”
‘Dan engkau tak akan menemukan perubahan pada ketentuan Allah.” 

sumber : Chicken Shoup for muslim  penerbit sukses publishing Halaman 105-122