Monthly Archives: August 2011

Sikap Syar’i Seorang Muslim terhadap Pemerintahnya

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pemimpin sangat penting dalam sebuah negara atau pemerintahan. Tidak bisa dibayangkan betapa besarnya mafsadah (kerusakan) yang akan muncul ketika sebuah negara tanpa seorang pemimpin. Karena tabiat dasar manusia adalah suka berbuat zhalim, dan di lain sisi suka menuntut keadilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya manusia pasti selalu berbuat zhalim dan pengingkaran.” (Ibrahim: 34)

Apa yang akan terjadi seandainya manusia hidup di muka bumi tanpa seorang pemimpin yang mengatur berbagai urusan mereka? Sungguh keadaan mereka tak beda dengan binatang liar di tengah hutan belantara atau ikan-ikan di lautan. Hukum rimba pun akan menjadi simbol kehidupan mereka; yang kuat akan memangsa dan menindas yang lemah.

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Akan terjadi fitnah (kerusakan) jika tidak ada seorang pemimpin yang mengatur urusan manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam kitab as-Sunnah 1/81)

Lihatlah keadaan masyarakat jahiliah sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Gambaran masyarakat yang amburadul. Tidak ada pemimpin yang ditaati serta tidak ada rasa kepercayaan kepada pemimpin dari tiap individu masyarakat. Maka wajar bila yang nampak adalah tindakan kriminalitas di samping kesyirikan tentunya. Pembunuhan dan penyanderaan terjadi di mana-mana. Peperangan besar pun seringkali terjadi karena sesuatu yang remeh.

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

Diantara prinsip penting yang harus diyakini oleh setiap muslim adalah kewajiban taat kepada pemerintah dalam hal yang bukan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kalian.” (An-Nisa’: 59)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Ulil Amri yang dimaksud adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat, inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir, fiqih, dan selainnya.”(Syarh Shahih Muslim 12/222)

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Aku telah bertemu dengan 1000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….. Lantas beliau berkata: Aku tidak melihat adanya perbedaan diantara mereka tentang perkara-perkara berikut ini: -beliau sebutkan sekian perkara diantaranya kewajiban menaati penguasa.” (Syarh Ushulil I’tiqad Lalikai, 1/194-197)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah, barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah, barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti  telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Pada hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena pada perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari 13/120)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Wajib bagi seorang muslim mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam hal yang disukai atau tak disukai kecuali jika diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari)

Tidak menaati penguasa dalam hal kemaksiatan bukan berarti boleh memberontak kepadanya atau tidak menaati seluruh perintahnya (meskipun dalam ketaatan).

Bagaimanakah Menyikapi Pemerintah yang Zhalim?

Jika seseorang telah diangkat sebagai pemimpin umat dan sah sebagai pemegang tampuk kekuasaan, maka wajib bagi seorang muslim selaku rakyat untuk menunaikan hak-hak pemimpin tersebut, walaupun ia sebagai seorang yang zhalim. Diantara hak yang harus ditunaikan itu adalah:

1. Taat kepadanya dalam hal yang bukan kemaksiatan
Salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah! Kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (kepada penguasa) yang bertaqwa, akan tetapi yang kami  tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bertaqwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah 2/494)

2. Sabar atas Kezhalimannya
Sabar terhadap kezhaliman penguasa merupakan prinsip dasar Islam yang dibimbingkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan diterapkan oleh salafus shalih (pendahulu terbaik umat ini).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa melihat suatu hal yang tidak disenangi pada penguasanya, maka bersabarlah karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin) sejengkal kemudian mati maka ia mati jahiliah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat, karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akIIan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini, dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 368)

Suwaid bin Gafalah rahimahullah berkata: “Telah berkata kepadaku Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Abu Umayyah, mungkin aku tidak bertemu engkau setelah tahun ini, maka jika engkau dipimpin oleh seorang budak dari Habasyah (Ethiopia) yang cacat hendaknya engkau dengar dan taat padanya, walau ia memukulmu (secara zhalim) tetaplah sabar dan jika ia menginginkan sesuatu yang akan mengurangi agamamu, katakanlah: “Saya dengar dan taat dari jiwaku bukan agamaku”, dan janganlah engkau berpisah dari jama’ah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Lihat Aqiidah Ahlil Islam Fiima Yajibu Lil Imam)

Ka’ab Al-Ahbar rahimahullah berkata: “Sultan (penguasa) adalah naungan Allah di bumi. Jika ia beramal ketaatan kepada Allah, baginya ajr (pahala) dan wajib bagi kalian untuk bersyukur. Jika ia berbuat maksiat, baginya dosa dan wajib bagi kalian untuk bersabar. Janganlah kecintaan kalian kepadanya menjerumuskan diri kalian ke dalam kemaksiatan dan jangan pula kebencian kepadanya mendorong kalian keluar dari ketaatan kepadanya.” (Diriwayatkan pula oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya An-Nashihah Lirrā’i  Warrā’iyah)

Sungguh kesabaran terhadap kezhaliman penguasa memiliki andil besar terciptanya keamanan serta terwujudnya kemaslahatan secara merata. Dan hal ini berat dilakukan kecuali bagi orang-orang yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berjalan di atas ilmu dan bimbingan ulama.

3. Menasehatinya dengan cara yang baik
Tentunya sabar terhadap kezhaliman penguasa tidak menafikan (menghilangkan) adanya nasehat dan teguran padanya. Karena nasehat dan teguran merupakan salah satu hak penguasa yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim. Selain itu nasehat dan teguran adalah pondasi agama yang dengannya akan kokoh agama ini. Terkhusus nasehat kepada para pemimpin sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Agama ini adalah nasehat;…..(di antaranya) nasehat untuk pemerintah  dan seluruh elemen umat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Adapun nasehat kepada penguasa maka mempunyai bentuk dan cara penyampaian tersendiri. Mengingat kondisi penguasa tak sama dengan rakyat biasa. Ketika nasehat tersebut disampaikan dengan cara yang tidak tepat atau salah maka mafsadah (efek negatif) yang muncul akan lebih besar dibanding terhadap rakyat biasa. Diantara cara menasehati penguasa yang dibimbingkan dalam Islam adalah:
– Menasehatinya dengan rahasia (tersembunyi)
Menasehati penguasa secara terang-terangan dihadapan khalayak ramai, tidak dibenarkan dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa dengan sebuah nasehat, janganlah menyampaikannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia mengambil tangannya dan bersendirian dengannya (berduaan untuk menasehatinya). Jika ia (penguasa tersebut) mau menerima nasehat maka itulah yang diharapkan, kalau tidak (menerima nasehat), maka sungguh ia (penasehat) telah menunaikan kewajibannya terhadap penguasa.” (HR. Ahmad)

Al-’Allamah As-Sindi rahimahullah berkata: “Nasehat terhadap penguasa hendaknya dilakukan secara tersembunyi, tidak terang-terangan dihadapan manusia.” (Hasyiah Al-Musnad)
Termasuk bagian dari nasehat kepada penguasa adalah mengingkari kemungkaran yang ada padanya. Namun semua itu harus dilakukan dengan penuh hikmah, tidak secara terang-terangan  serta tetap menjaga wibawa penguasa tersebut. Demikian pula tidak sepantasnya menyebutkan kemungkaran atau kezhaliman penguasa dihadapan rakyat walaupun dengan dalih nasehat. Baik dalam bentuk ceramah, khutbah jum’at, tabligh akbar, ataupun melalui media cetak seperti majalah, surat kabar, buletin, dan lain-lain.  Apalagi dengan menggelar demonstrasi yang jauh dari bimbingan Islam. Semua itu akan menimbulkan kebencian rakyat kepada penguasanya dan mendorong mereka untuk menentangnya.
– Tidak mengingkari kemungkaran yang ada dengan senjata (memberontak)
Tidak diragukan lagi bahwa mengangkat senjata (memberontak) kepada penguasa yang sah adalah tindakan separatis yang jelas-jelas menyelisihi Al-Qur’an dan as-Sunnah. Apapun alasannya, memberontak terhadap penguasa tidak bisa dibenarkan dalam Islam.
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah ketika melihat seorang pemberontak di Kota Bashrah mengatakan: “Betapa kasihannya orang ini. Ia bermaksud mengingkari kemungkaran namun terjatuh pada sesuatu yang lebih mungkar (yaitu pemberontakan)” (Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah. Lihat Aqiidah Ahlil Islam Fiima Yajibu Lil Imam)

Abul Bakhtari rahimahullah berkata: “Dikatakan kepada Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu; tidakkah anda memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar? Beliau menjawab: “Sungguh amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebuah amal kebajikan, namun bukan merupakan sunnah (bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) engkau mengangkat senjata kepada pemimpinmu.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Jami’ Lisyu’abil Iman)

Demikianlah diantara prinsip Islam yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan generasi terbaik umat ini dalam menyikapi penguasa, termasuk yang zhalim di antara mereka. Jika prinsip mulia itu diterapkan oleh semua elemen umat, niscaya akan terwujud persatuan dan kedamaian di seluruh negeri kaum muslimin. Sebaliknya, jika semua elemen umat mengikuti hawa nafsu dan perasaan, jauh dari bimbingan ilmu dan ulama, maka yang muncul adalah kekacauan, persengketaan dan akan berakhir dengan pertumpahan darah di antara kaum muslimin, wal’iyyadzubillah.

Akhir kata, mudah-mudahan hidayah ilahi senantiasa mengiringi kaum muslimin dan pemimpin-pemimpin mereka. Dengan harapan, menjadi satu kekuatan besar yang senantiasa berpijak dan berpihak di atas kebenaran Islam yang di bawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Amin.

Sumber di sini

Awas! Taring Syi’ah Menancap Di Bumi Pertiwi.

Sebagian pengamat menyatakan bahwa paham syi’ah masuk ke negri Indonesia jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia. Bahkan kesultanan Pasai atau Samudra Pasai yang berdiri di sekitar kota Kota Lhokseumawe, atau Aceh Utara pada sekitar tahun 1267 M, ditengarai oleh sebagian pengamat berkulturkan Syi’ah. Bahkan salah seorang raja kesultanan ini pernah didampingi dua orang Persia terkenal, yaitu Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraj dan Taj Ad-Din dari Isfahan. ([1])
Bahkan sebagian lain, lebih jauh menengarai bahwa Syi’ah telah masuk ke Indonesia sejak abad ke- 9. Praduganya ini berdasarkan pada asumsi bahwa kerajaan Islam pertama yang berdiri di Nusantara, yaitu kerajaan Peureulak (Perlak) yang konon, didirikan pada 225H/845M telah menganut paham Syi’ah. Sebagaimana diketahui bahwa Kerajan ini didirikan oleh para pelaut-pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat yang mula-mula datang untuk mengislamkan penduduk setempat. Belakangan mereka mengangkat seorang Sayyid Maulana Abdul ‘Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang konon katanya menganut paham politik Syi’ah, sebagai sultan Perlak.([2])

Manapun pendapat yang benar, sebagian pengamat telah menyimpulkan bahwa pengaruh ajaran Syi’ah telah dirasakan di negri kita sejak jauh hari. Dan mereka berusaha menguatkan kesimpulan itu dengan beberapa indikasi berikut:
1. Perayaan Hoyak Tabuik.
Tradisi ini dapat anda temui di Pariaman Sumatra Barat. Perayaan Hoyak Tabuik atau juga dikenal dengan Perayaan Tabot konon pertama kali dilaksanakan oleh Syeikh Burhanuddin Ulakan yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685.
Perayaan ini dimulai pada hari pertama bulan Muharam hingga hari kesepuluh.  Puncak dari upacara tradisional ini adalah prosesi mengarak usungan (tabut) yang dilambangkan sebagai keranda jenazah Imam Husain yang gugur di Padang Karbala.
Perayan serupa juga dapat anda temukan di Bengkulu, Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Hanya saja di sebagian daerah perayaan ini lebih dikenal dengan Tabot atau Tabut.
2. Tari Jari-jari Karbala.
Tarian ini adalah salah satu tarian khas daerah Bengkulu ini juga memiliki kultur dan makna yang sama dengan tradisi tabot.
3. Peringatan Syura atau Suro (Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo).
Bagi masyarakat jawa, atau Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya, bulan Muharram atau yang sering disebut dengan bulan Suro adalah bulan yang penuh nahas. Karenannya penduduk setempat berpantangan mengadakan pernikahan atau membangun rumah atau bercocok tanam pada bulan ini. Dan untuk menebus kesialan yang diyakini, mereka mengadakan upacara grebeg suro. Semua itu sebagai bias langsung dari peringatan tragedi pedih yang pernah terjadi di bulan itu, yaitu terbunuhnya Al Husain bin Alin bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma.
4. Tradisi membaca Barzanji dan Diba’i
Sebagian kalangan meyakini bahwa kebiasaan membaca barzanji atau diba’i adalah wujud nyata dari hubungan NU dengan ajaran Syi’ah.
Dan masih banyak lagi tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang diklaim oleh sebagian orang berafiliasi dengan simbul-simbul agama Syi’ah.
Hanya saja dari mencermati berbagai data di atas, ada satu fenomena unik yang pantas untuk dicermati dan sekaligus disyukuri, yaitu:
1.  Anggapan bahwa berbagai tradisi dan kesultanan di atas adalah bernuansakan atau bahkan berasal dari ajaran Syi’ah tidak sepenuhnya dapat diterima. Karenanya ternyata banyak pihak, diantaranya Buya Hamka meragukan anggapan tersebut.
2.  Diantara hal yang mementahkan anggapan sebagian orang itu ialah fakta umat islam di Indonesia sendiri. Anda pasti mengetahui bahwa umat islam di Indonesia sejak dahulu kala menganut mazhab Imam As Syafi’i dan tidak menganut mazhab Ja’fari. Ini bukti kuat nan akurat bahwa Islam masuk ke Indonesia tidak melalui para penganut ajaran Syi’ah.
3.  Kalaupun kesultanan dan berbagai warisan budaya di atas benar berafiliasi dengan ajaran syi’ah, maka ini menjadi bukti kuat bahwa ajaran Syi’ah sejak jauh hari telah terbukti tidak cocok untuk disebarkan di Indonesia. Oleh karena itu, para penggiat ajaran Syi’ah kala itu hanya berhasil membuat suatu tradisi atau upacara atau amalan ritual belaka. Padahal sebagian tokohnya telah berhasil menjadi orang kepercayaan sebagian raja-raja Islam kala itu. Sedangkan inti dari doktrin agama Syi’ah, berupa pengkafiran sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, meragukan keabsahan Al Qur’an, dan lainnya tetap saja tidak dapat merubah arah keagamaan muslim Indonesia.
Ini bukti kuat bahwa berbagai doktrin agama Syi’ah nyata-nyata bertentangan dengan kultur penduduk Indonesia yang lembut dan jauh dari permusuhan, caci maki dan kebencian. Masyarakat Indonesia memiliki karakter lemah lembut, tenggang rasa, sehingga tidak sejalan dengan ajaran Syi’ah yang lembaran sejarahnya dilumuri oleh  cacian, kekerasan dan pertumpahan darah.
4.  Adanya kesamaan dalam beberapa hal, tidak serta merta dapat dijadikan bukti bahwa masyarakat setempat berpahamkan Syi’ah atau telah memiliki hubungan langsung dengan ajaran Syi’ah. Karenanya tidak ada seorangpun yang mengklaim bahwa agama Islam masuk ke Indonesia di bawa oleh para penganut agama hindu, padahal betapa banyak tradisi dan ritual agama Hindu yang diamalkan oleh umat Islam.
Sekelumit Metode Penyebaran Agama Syi’ah Di Indonesia.

1. Berusaha menyusupkan ajaran Syi’ah pada berbagai tradisi masyarakat.
Sejak jatuhnya ORBA dan ditabuhnya genderang reformasi, para penggiat agama Syi’ah di negri kita mendapatkan ruang gerak yang lebih luasa guna melancarkan propagandanya. Karenanya mereka berusaha memanfaatkan berbagai tradisi dan simbol yang diyakini berafiliasi dengan ajaran Syi’ah, untuk dijadikan sebagai media sosialisasi dan penyebaran agama Syi’ah.
Mereka berusaha menyusupkan ajaran syi’ah kedalam berbagai ritual dan budaya yang ada di tengah masyarakat.
Karenanya, betapa girangnya DUBES Iran ketika mengetahui adanya tradisi Tabut atau Tabot di tanah Minang Dan Bengkulu. Tidak ingin kehilangan momentum, ia segera mengadakan kunjungan ke sana. Yang sangat disayangkan, panitia perayaan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan memberikan kata sambutan. Bahkan tidak ada satupun dari ormas Islam, termasuk MUI setempat yang merespon kunjungan ini.
Sudah dapat ditebak, dalam orasinya DUBES Iran Behrooz Kamalvandi memuja agama Syiah. Bukan sebatas itu, kunjungannya ini berlangsung selama 2 hari dan dengan membawa rombongan 10 orang dan mengikut sertakan Televisi Nasional Iran untuk meliput acara Tabuik Pariman (Tabut Pariaman). ([3])
Gayungpun bersambut, Dubes Iran terus melanjutkan upaya penjinakan salah satu “basis ahlissunnah” yang selama ini memiliki slogan: “Adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah.” Ia menjanjikan akan memindahkan daerah tujuan wisata (DTW) warganya ke Asia Tenggara dari Malaysia ke Sumatera Barat (Sumbar) pada 2009. Dan konon jumlah wisatawan Iran ke Malaysia berjumlah 15 ribu orang. ([4])
Anda bisa bayangkan bila wisatawan Iran benar-benar berpindah ke SUMBAR:
– Jerat nikah mut’ah terbuka lebar.
– Penyebaran agama Syi’ah menjadi pesat.
– Tidak dapat dihindari, gadis-gadis SUMBAR pun berpeluang memperpanjang daftar korban nikah mut’ah.

asyura Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)
Acara Arba’in/peringatan Asyura’ Di Kutai
asyura2 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)
Pj Bupati Kutai Kartanegara (H.Sjahruddin)  Ketika memberi sambutan pada acara Asyura’

2. Meningkatkan Hubungan Bilateral Antara Kedua negara.
Hubungan bilateral, baik dalam sekala pemerintah pusat atau pemerintah daerah terus semakin diintensifkan. Dimulai dari kunjungan kepala negara, menteri, mahkamah agung, dewan perwakilan rakyat, dan tidak ketinggalan berbagai pemerintah daerah kedua belah pihak.
Diantara pemerintah daerah yang telah menjalin hubungan dengan beberapa pemerintah daerah, dan bahkan telah berganti kunjungan ialah Pemda Pariaman dan Bogor.
Sebagaimana kedua negara juga berkomitmen untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara kedua negara.
Dari wujud meningkatnya hubungan perdagangan Iran ke Indonesia ialah dengan dibangunnya kilang minyak di Banten dan Tuban-Jawa Timur.
Sudah barang tentu, dengan adanya perusahaan-perusahaan Iran yang masuk ke Indonesia, jumlah warga negara Iran di Indonesia turut meningkat pula. Dan bersama meningkatnya jumlah warga negara Iran di Indonesia, maka meningkat pula penebaran agama Syi’ah.
3. Meberangus Ketabuan Syi’ah Di Tengah Umat Islam Indonesia.
Hingga saat ini, umat Islam di Indonesia masih tetap bangga dan yakin bahwa mereka beragama Islam dengan pahaman ahlissunnah wal jama’ah. Tidak mengherankan bila merekapun merasa bersebrangan dengan paham bersebrangan dengan paham Syi’ah. Oleh karena itu para penjaja paham Syi’ah mendapatkan tantangan  yang cukup berat untuk menyebarkan pahamnya di masyarakat Indonesia. Dan salah satu langkah yang mereka tempuh guna memudahkan dakwah mereka, ialah dengan mengikis ketabuan dan memperpendek jurang pemisah antara mereka dengan umat Islam Indonesia. Bila langkah ini telah tercapai, maka jalan menjadi mulus dan hamparan karpet merahpun terbentang di hadpan para penjaja paham Syi’ah. Berikut beberapa indikasi yang menunjukkan akan adanya fase ini:
A. Pendekatan Terhadap Sebagian ORMAS Islam.
Diantara indikasi yang menunjukkan akan hal itu ialah pernyataan Dr. Said Aqil Siraj mantan Wakil Katib Syuriah PBNU, dan mantan Mentri Agama RI: ” Harus diakui pengaruh Syi’ah di NU sangat besar dan mendalam. Kebiasaan membaca barzanji atau diba’i yang menjadi ciri khas masyarakat NU misalnya secara jelas berasal dari tradisi Syi’ah.”
Ungkapan senada dalam beberapa kesempatan juga disampaikan  oleh Gus Dur (Abdurrahman Wahid). ([5])
Saya yakin anda tidak dapat menerima ucapan kedua tokoh ini, karena anda mengetahui bahwa ormas NU berasaskan paham asy ‘ariyah dan bermazhabkan dengan mazhab Imam As Syafi’i. Fakta ini mementahkan anggapan mereka berdua, karena Syi’ah berpaham dan bermazhabkan Ja’fariyah.
Ucapan keduanya ini mengindakasikan telah adanya pendekatan yang begitu kuat yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Syi’ah kepada kedua tokoh ini secara khusus dan ormas NU secara umum.
B. Propaganda bahwa Perbedaan antara Sunni dan Syi’ah hanya sebatas Masalah Furu’.
Propaganda ini rupanya cukup ampuh, sampai-sampai tokoh sekaliber Din Syamsuddin yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terpengaruh dengannya. Pada Konferensi Islam Sedunia, Senin (5/05/2008), yang berlangsung di Teheran beliau menegaskan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat pada penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.
Lebih jauh, Din Syamsuddin menyatakan: “Kedua kelompok (Sunnah & Syi’ah) harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. ([6])
Aneh bin ajaib, tokoh sekaliber bapak Din Syamsyudin beranggapan bahwa perbedaan antara Syi’ah dan Sunnah hanya sebatas masalah furu’.
Anda pasti bertanya-tanya, apakah menurut beliau pengkafiran seluruh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah masalah furu’? Apakah idiologi imamah yang menyatakan bahwa seluruh pemimpin umat Islam selain dari ke 12 imam agama Syi’ah adalah pemimpin yang tidak sah, juga termasuk masalah furu’? Apakah kultus terhadap ke-12 imam juga masalah furu’?
C. Anggapan Syi’ah ekstrim telah punah, yang tersisa Syi’ah Moderat
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, seorang tokoh yang konon ahli di bidang tafsir Al Qur’an dalam bukunya yang berjudul : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah? menekankah bahwa kelompok ekstrim Syi’ah yang menuhankan para Imam telah punah. Yang tersisa pada zaman ini hanyalah Syi’ah Imamiyah.([7])  
Walau demikian penjelasan beliau, akan tetapi pada buku yang sama beliau banyak menukil ucapan salah seorang tokoh Syi’ah Imamiyah yang bernama: Abdul Husain Syarafuddin Al Musawi. ([8])
Anda bisa bayangkan, dari namanya saja telah terbaca sikap ekstrim yang begitu kelewat batas,  Abdul Husain (Hamba Husain). Saya heran, mengapa tokoh sekaliber Prof. Dr. Quraish Shihab kok dapat melewatkan fakta semacam ini tanpa ada komentar atau kritikan sedikitpun. Apakah adanya nama-nama semacam ini pada para tokoh Syi’ah Imamiyah belum cukup sebagai bukti akan sikap ekstrim Syi’ah Imamiyyah?
Saudaraku! Nama-nama semacam ini dapat anda temukan dengan mudah pada masyarakat Syi’ah, baik di zaman dahulu atau sekarang. Berikut beberapa nama tokoh Syi’ah yang serupa dengan itu:

  • Abdul Husain bin Ali wafat tahun 1286 H, ia adalah seorang tokoh terkemuka agama syi’ah pada zamannya, sampai-sampai dijuluki dengan Syeikhul ‘Iraqain (Syeikh kedua Iraq/ Iraq & Iran).
  • Abdul Husain Al Aminy At Tabrizi 1390 H, penulis buku Al Ghadir.
  • Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy Al ‘Aamily 1377 H, penulis buku Abu Hurairah, kitab Kalimatun Haula Ar Riwayah, Kitab An Nash wa Al Ijtihaad, Al Muraja’aat
  • Abdul Husain bin Al Qashim bin Sholeh Al Hilly wafat tahun 1375 H.
  • Abduz Zahra’ (Hamba Az Zahra’/Fatimah) Al Husainy, penulis kitab: Mashaadiru Nahjil Balaaghah wa Asaaniduhu.

Lebih mengherankan, pada buku yang sama, hal: 104, Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab menukilkan ucapan Khumeini berikut:
إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل.
Sesungguhnya imam memiliki kedudukan yang terpuji serta tingkat yang tinggi serta kekhilafahan terhadap alam yang tunduk kepada kekuasaannya (kekhilafahan itu) semua atom (butir-butir) alam raya. Sesungguhnya merupakan bagian dari pemahaman aksioma mazhab kami adalah bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh malaikat yang didekatkan (Allah ke sisi-Nya) tidak juga oleh nabi yang di utus (Allah).”
Ingin sekali rasanya bertanya epada Prof Dr. Qurish Shihab: Adakah idiologi yang lebih ekstrim dibanding idiologi yang diucapkan oleh tokoh revolusioner sekter Syi’ah Imamiyah ini? Bila ini adalah sikap dan keyakinan tokoh terkemuka, lalu bagaimana sikap rakyat dan masyarakat awam mereka?
D. Publikasi buku-buku yang menghujat para sahabat.
Beberapa waktu silam, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan sebuah buku dalam edisi Indonesia, yang berjudul: “Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin” , karya Faraj Fouda (Judul aslinya: al-Haqiqah al-Ghaybah).
Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa yang oleh penulis disebut sebagai sisi kelam dari sejarah Islam.
Saudaraku! Tahukan, apa yang dimaksud dengan sisi kelam dari sejarah Islam? Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan ialah zaman Khulafaurrasyidin. Zaman yang menurut umat islam sebagai masa keemasan, ternyata oleh Fouda dianggap  sebaliknya. Menurutnya, zaman itu tidak layak disebut sebagai masa keemasan umat Islam, tapi “zaman biasa”. “Tidak banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak jejak memalukan.” ([9])
Pada buku ini, Faraj Fouda nyata-nyata melecehkan sayyidina Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu, khalifah ketiga dan sekaligus menantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , bukan hanya sekali bahkan dua kali.
Berikut contoh dari ucapan Fouda yang begitu biadab tentang sahabat Utsman:
”Namun Usman membawa umat Islam ke dalam polemik tentang sosok dirinya. Para pemimpin di dalam Ahl al-Hall wa al-’Aqdi membuat konsensus untuk melarikan diri dari kepemimpinannya, baik lewat cara pemecatan menurut kalangan ahli pikirnya, maupun kekerasan menurut kalangan garis kerasnya. Wibawanya terguncang di mata rakyat, sampai sebagian masyarakatnya menghunus pedang yang siap mencincangnya dan menohoknya ketika berada di atas mimbar. Bahkan sebagian menghinanya dengan sebutan Na’tsal, sebutan untuk orang Kristen Madinah bernama Na’tsal yang kebetulan berjenggot lebat seperti Usman. Para pemuka sahabat pun menentangnya, ini adalah sesuatu yang sangat terang benderang menunjukkan bahwa ia keluar dari ketentuan al-Quran dan Sunnah. Karena itu, muncul seruan secara terang-terangan untuk membunuhnya. Hadits Aisyah meriwayatkan: “Bunuhlah Na`tsal, dan terlaknatlah Na`tsal.” ([10])
Selanjutnya, untuk lebih mempertajam citra buruk Usman Radhiallahu ‘Anhu Fouda menulis secara dramatis kisah kematian Usman dan pemakamannya:
”Ia terbunuh oleh tangan umat Islam sendiri yang bersepakat memberontak dan mengepung rumahnya. Dan anda dapat saja membayangkan bahwa kematian Usman telah melegakan hati sebagian umat Islam. Bahkan, permusuhan sebagian umat Islam atas dirinya berlangsung setelah kematiannya….” ([11])
Walau demikian adanya, buku ini mendapat apresiasi yang begitu istimewa dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, yang dikenal sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY). Berikut sebagian dari komentar beliau tentang buku ini : ”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.
Sanjungan beliau di atas dimuat pada sampul belakang buku ini. ([12])
Mengherankan bukan? Seorang yang bergelar  Prof. Dr. di bidang filsafat sejarah, dapat berhati dingin membaca hujatan kepada sahabat Utsman bin Affan, dan bahkan memuji pelakunya.
4. Sandiwara Iran “bermusuhan” Dengan Israel & Amerika.
Diantara metode yang ditempuh oleh para penggiat agama Syi’ah ialah dengan memanfaatkan sandiwara yang berjudul : Iran “bermusuhan” dengan Negara Yahudi Israel dan Amerika.
Isu ini sangat efektif untuk menarik simpati umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Sampai-sampai terkesan bahwa negara Iran yang nota bene adalah penganut agama Syi’ah adalah satu-satunya negara pembela kepentingan umat Islam di zaman sekarang.
Karenanya tatkala Indonesia yang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB turut menyetujui resolusi no: 1747 yang hanya berisikan kecaman terhadap Iran atas kegiatannya pengayaan uranium. Betapa solidaritas umat Islam di Indonesia begitu besar kepada Presiden SBY, sampai-sampai DPR mengajukan hak interpelasi.
Dengan adanya kejadian semacam ini, menjadikan masyarakat kurang peka terhadap berbagai trik para penggiat agama Syi’ah bahkan menjadi lebih terbuka untuk menerima berbagai kenylenehan ajaran mereka.
Saudaraku, agar anda menjadi tahu apa sebenarnya isu “permusuhan” dengan bangsa Yahudi, saya mengajak saudara untuk merenungkan beberapa fakta berikut:
A- Iran adalah negara yang memiliki komunitas yahudi terbesar setelah Israel. Menurut sumber resmi pemerintah Iran, jumlah pemeluk agama Yahudi di Iran berkisar antara 25- 30 ribu penduduk. Bahkan di kota Teheran didapatkan lebih dari 10 Synagogue (tempat ibadah umat Yahudi). Akan tetapi, masjid-masjid Ahlussunnah tidak satupun yang mereka biarkan berdiri tegak di sana. Bukan sekedar itu saja, orang-orang Yahudi diberi ruang yang begitu istimewa, yaitu dengan diberikan kesempatan untuk memiliki perwakilan di parlemen. Sebagaimana umat Yahudi di Iran memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan para penganut agama Syi’ah. Suatu hal yang tidak mungkin dirasakan oleh komunitas ahlussunnah. Bahkan komunitas Yahudi Iran hingga saat ini bebas untuk berkunjung ke karib-kerabat mereka di Israel, tanpa ada gangguan sedikitpun, baik dari pemerintah Iran atau penduduk setempat.([13])
B-  Adanya hubungan perdagangan antara Iran dan Israel. Sejak zaman Syah Vahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Israel. Dan hubungan dagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syi’ah yang dipimpin oleh Khumaini. Pada tahun 1982 M, Israel menjual persenjataan yang berhasil mereka rampas dari para pejuang Palestina di Lebanon dengan harga 100 juta dolar Amerika. ([14])
Bahkan pada tahun 1980 s/d1985, Israel merupakan negara pemasok senjata terbesar ke Iran. ([15])
Sandiwara “permusuhan”  Iran dan Israel mulai terbongkar, ketika pesawat kargo Argentina yang membawa persenjataan dari Israel ke Iran tersesat, sehingga masuk ke wilayah Uni Soviet, dan akhirnya ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan Uni Soviet. Dikisahkan Iran membeli persenjataan dari Israel seharga 150 juta Dolar Amerika, sehingga untuk mengirimkan seluruh senjata tersebut, dibutuhkan 12 kali penerbangan.([16])
C- Perdagangan antara kedua negara (Iran & Israel) hingga kini juga terus berkelanjutan. Sebagai salah satu buktinya, harian Palpress News Agency (وكالة فلسطين برس للأنباء) edisi 25/04/2009 melaporkan bahwa di kota Teheran, telah dipasarkan buah-buahan yang diinpor dari Israel.
D- Bila anda mengikuti berita internasional, anda pasti pernah membaca pemberitaan bahwa pada hari Selasa 12/1/2010 ahli nuklir Iran yang bernama Masoud Ali-Mohammadi yang berdomisili di kota Teheran ibu Kota Iran mati di dekat rumahnya akibat serangan bom. Dan Kementerian Luar Negeri Iran langsung menuduh kaki tangan AS dan Israel di balik serangan bom itu.
Aneh bukan? Iran telah memiliki bukti bahwa Israel dan Amerika telah mengadakan sernagan di Teheran dan telah menewaskan ahli nuklirnya. Walau demikian, tidak ada reaksi pemerintah Iran dan para penganut Syi’ah tetap berdarah dingin dan tidak satupun tentara Iran yang dikirim untuk membalas serangan tersebut.
5. Jaringan Kantor Berita IRIB, Mass Media Lokal, Situs dan Penerbit.
Diantara metode yang digunakan para penggiat agama Syia’ah ialah memanfaatkan keberadaan IRIB (radio Iran sesi bahasa Indonesia), beberapa mass media, penerbi dan situs di jaringan internet yang memiliki loyal terhadap agama Syi’ah.
Diantara yang terbaru ialah masuknya televisi Al Manar milik Hizbullah-Lebanon.
Diketahui bersama bahwa Indosat telah menyewakan transponder Satelit Palapa C selama tiga tahun dari April 2008 sampai April 2011 M kepada TV Al Manar. Dengan kerjasama ini, televisi Al Manar dapat menjangkau berbagai negara di Asia Tenggara, Cina, Taiwan sampai ke Australia.
Sudah bisa di tebak, bahwa televisi Al Manar ini pasti berperan sebagai pencair kebekuan dan kekakuan sikap umat Islam di Indonesia terhadap Syi’ah yang merupakan idiologi Hizbullah pemilik stasiun ini.
Adapun mass media lokal, penerbit buku, dan berbagai yayasan yang menjajakan paham Syi’ah mulai banyak bertebaran, dan biasanya mereka menggunakan nama ahlul bait, atau salah satu tokoh mereka sebagai nama yayasan atau penerbit mereka.


[1] ) Sebagaimana yang dilakukan oleh Ahmad Baso, salah seorang staf PBNU. Majalah SYIAR edisi Muharram 1428 H.

[2] ) Sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, pada makalahnya yang berjudul: Sunnah-Syi’ah di Indonesia: Perspektif Ilmu Hadits
[3] ) Sumber: www.hidayatullah.com
[4] ) Sumber http://www.antara.co.id/view/?i=1230902078&c=EKB&s=
[5] ) Babak Kedua Sengketa Gus Dur – Abu Hasan, oleh Ulil Abshar Abdallah, Tempo Interaktif, Selasa, 26 Maret 1996 | 09:36 WIB
[6] ) Sumber : http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1101.
[7] ) Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah? Hal: 70 & 83
[8] ) Sebacai contoh, silahkan buka buku : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?, hal: 58, 123 &124.
[9] ) Kebenaran yang Hilang, hal.xv.
[10] ) Kebenaran yang Hilang, hal. 25.
[11] ) Idem.
[12]) Sumber: Memuja Fouda, Menfitnah Sahabat, oleh Asep Sobari, Lc, http://www.darulkautsar.net/article.php?ArticleID=879
[13] ) Roger Cohen of The International Herald Tribune, 22 Februari 1999 M.
[14] ) Sumber:
(الحرب المشتركة: إيران وإسرائيل) حسين علي هاشمي ص 35. والقبس الكويتية 4/12/1986،  مجلة أكتوبر المصرية في عددها آب1982، مجلة ميدل إيست البريطانية في عددها تشرين الثاني 1982.

[15] )  Sumber :

( الحرب المشتركة إيران وإسرائيل) حسين علي هاشمي ص 35

[16] )  Sumber :

( الحرب المشتركة إيران وإسرائيل ( حسين علي هاشمي ص 23، والمجلة السويدية TT في 18 آذار 1984.




Sumber sini