Monthly Archives: April 2011

Audio : Rekaman Dauroh Ustadz Asykari di Bali, Materi Mitos Wahhabi

Dimasyakarakat, banyak orang melekatkan teroris sebagai Wahhabi dan diantara mereka juga mengaitkan simbol-simbol Islam sebagai Wahhabi seperti kalau laki-lakinya memelihara jenggot, celana cingkrang. dan kalau wanitanya bercadar dan sebagainya. Bahkan tokoh sufi Siradjudin Abbas mengatakan didalam salah satu bukunya bahwa salah satu ciri Wahhabi adalah mengharamkan rokok. Benarkah demikian? Simak pembahasannya yang disampaikan oleh Ustadz Asykari pada tanggal 24 April 2011 di Masjid Raya Ukhuwwah Denpasar. Semoga bermanfaat

Kajian 1 : Ust Asykari : Mitos Wahhabi 1
Kajian 2 : Ust Asykari : Mitos Wahhabi 2

Audio : Rekaman Dauroh Ustadz Asykari di Bali, Materi Kitab Qowaa’idul Arba’

Alhamdulillah dauroh Ustadz Asykari di Bali tanggal 23 dan 24 April 2011 sudah berlalu, dan berikut rekamannya dengan materi kitab Qowaa’idul Arba’ yang dikarang oleh al Mujaddid Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi

Rekaman 1 : Ust Asykari : Qowaa’idul Arba’ 1
Rekaman 2 : Ust Asykari : Qowaa’idul Arba’ 2
Rekaman 3 : Ust Asykari : Qowaa’idul Arba’ 3
Rekaman 4 : Ust Asykari : Qowaa’idul Arba’ 4

Silahkan download kitabnya di sini

Semoga bermanfaat.

Audio : Rekaman kajian Ust Mizan LC. yang diadakan di Bali (Masjid Nurul Huda bandara Ngurah Rai dan Masjid Baitul Makmur PERUM Monang Maning )

Alhamdulillah Ustadz Mizan dapat memberikan tausiahnya di Pulau Bali. Berikut rekamannya :

Kajian tanggal 8 April 2011 di Masjid Nurul Huda Keutamaan Memegang Sunnah 1 – Ustd Mizan & Keutamaan Memegang Sunnah 2 – Ust Mizan
Kajian tanggal 9 April 2011 di Masjid Baitul Makmur Monang Maning Pentingnya Tauhid – Ust Mizan & Pentingnya Tauhid 2 – Ust Mizan
Kajian tanggal 10 April 2011 di Masjid Nurul Huda Akidah Imam Syafi’i – Ust Mizan

Orang Tua Menawarkan Puterinya atau yang Di Bawah Perwaliannya Kepada Laki-laki Shalih bag 3 (habis)

         Diantara hal yang patut disebutkan disini ialah kisah pernikahan ayah dari Imam al-‘azhim’ Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah yang diberkahi. Ia adalah orang Turki dan hamba sahaya milik seorang pedagang Khawarizmi dari Hamdzan dari Bani Hanzhalah. Ia seorang yang bertakwa lagi shalih, banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, suka berkhalwat (menyendiri dalam rangka beribadah) dan sangat wara’. Diantara kisahnya bahwa dia sedang bekerja dikebun tuannya, dan bermukim disana selama beberapa waktu lamanya. Kemudian tuannya, pemilik kebun ini, suatu hari datang kepadanya. Ia mengatakan kepadanya: ” Aku ingin buah delima yang manis.” Ia pun pergi ke sebuah pohon dan menghidangkan beberapa buah delima
kepadanya. Setelah membelahnya dan merasakannya asam, ia marah kepadanya seraya mengatakan: ” Aku meminta yang manis, tapi kenapa engkau menghidangkan yang asam? Ambilkan yang manis.” Ia pun pergi dan memetik dari pohon yang lain. Ketika tuannya membelahnya dan masih juga merasakannya asam, maka dia semakin marah kepadanya. Ia melakukan hal itu ketiga kalinya, lalu dia mencicipinya, dan masih juga merasakannya asam, maka dia bertanya kepadanya sesudah itu: ” Apakah engkau tidak bisa membedakan antara yang manis dan yang asam?” Ia menjawab: “Tidak.” Dia bertanya: ” Mengapa demikian?” Ia menjawab: “Karena aku tidak pernah makan darinya sedikitpun sehingga aku (tidak) mengetahui. ” Dia bertanya: ” Mengapa engkau tidak memakannya?” Ia menjawab: ” Karena engkau tidak mengizinkanku untuk memakannya.” Mendengar hal ini, pemilik kebun ini heran. Dia mengorek kebenaran hal itu, ternyata dia benar, sehingga ia menjadi mulia dimatanya dan kemuliaannya bertambah disisinya. Dia mempunyai anak gadis yang sering dilamar orang lain; maka dia bertanya kepadanya: ” Wahai Mubarak, menurutmu kepada siapa wanita ini dinikahkan?” Ia menjawab: ” Kaum Jahiliyyah menikahkan karena kedudukan, kaum Yahudi menikahkan karena harta, Kaum Nasrani menikahkan karena ketampanan/kecantikan, dan umat ini menikahkan karena agama.” Akalnya begitu mengagumkannya. Diapun pergi lalu mengabarkannya kepada istrinya dan mengatakan kepadanya: ” Aku tidak melihat seorang (calon) suami yang lebih tepat untuk puteriku ini selain Mubarak.” Akhirnya dia menikahkan puterinya dengan Mubarak sehingga lahirlah ‘Abdullah bin al-Mubarak. Sempurnalah keberkahan ayahnya, dan Allah menumbuhkannya sebagai ‘tumbuhan’ yang baik.7

Ket :
7. ‘Audatul Hijaab (II/358), dan menisbatkannya kepada kitab ‘Uyuunul Akhbar, karya Ibnu Qutaibah (IV/17), Wafayaatul A’yaan, Ibnu Khalkan (II/237), Syadzdzaraatudz Dzahab, karya Ibnul ‘Imad (I/296), Mir-aatul Janaan, karya al-Yafi’i (I/379).

Di ambil dari buku ” Panduan Lengkap Nikah (dari A sampa Z )”, Pustaka Ibnu Katsir.