Monthly Archives: January 2011

Orang Tua Menawarkan Puterinya atau yang Di Bawah Perwaliannya Kepada Laki-laki Shalih bag 2

Aku menjawab: ‘Semoga Allah merahmatimu. Adakah orang yang akan menikahkanku (dengan puterinya), sedangkan aku tidaklah memiliki (harta) kecuali dua atau tiga dirham? Ia mengatakan: ‘Jika aku yang melakukannya, apakah engkau menerimanya?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Kemudian ia memuji Allah dan bershalawat atas Nabi, lalu menikahkanku dengan mahar dua atau tiga dirham. Aku berdiri dan aku tidak tahu apa yang aku lakukan dengan kegembiraan ini. Aku kembali kerumahku dan mulai memikirkan dari siapa aku mencari pinjaman? Aku melakukan shalat Maghrib. Saat itu aku berpuasa, maka aku mendahulukan makan malamku untuk berbuka. Makan malam tersebut ialah roti dan minyak. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, maka aku bertanya: ‘Siapa?’ Ia menjawab: ‘Sa’id.’ Maka aku membayangkan setiap orang yang bernama Sa’id, kecuali Sa’id bin al-Musayyab. Sebab, ia tidak pernah terlihat sejak 40 tahun kecuali antara rumahnya dan masjid. Aku pun berdiri dan keluar, ternyata Sa’id bin al-Musayyab. Aku menyangka bahwa ia muncul karenanya, maka aku bertanya: ‘Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau tidak mengirim orang lain
kepadaku lalu aku datang kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Tidak, engkau berhak untuk dikunjungi. ‘Aku bertanya: ‘Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’ Ia menjawab: ‘Engkau adalah seorang duda yang telah menikah, maka aku tidak suka engkau bermalam sendirian. Ini adalah istrimu.’ Tenyata dia berdiri dibelakangnya, karena Sa’id berpostur tinggi (sehingga puterinya tidak terlihat). Kemudian dia menyerahkannya dipintu dan menutup pintu kembali, lalu wanita itu jatuh karena malu. Lalu aku mengikat pintu, kemudian aku naik ke loteng dan memanggil para tetangga. Mereka berdatangan dan bertanya: ‘Ada apa denganmu?’ Aku menjawab: ‘Sa’id bin al-Musayyab menikahkanku dengan puterinya. Ia sudah datang dengan membawa puterinya yang shalihah, dan sekarang berada didalam rumah.’ Mereka pun turun untuk menerimanya dan kabar ini sampai kepada ibuku sehingga dia datang seraya berkata: ‘Aku tidak akan melihat wajahmu jika engkau menyentuh (menggauli)-nya sebelum aku mempersiapkannya selama tiga hari.’ Aku pun menunggu selama tiga hari, kemudian aku menemuinya, ternyata dia adalah wanita yang paling cantik, paling hafal Kitabullah, paling mengetahui sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan paling mengetahui hak suami. Selama sebulan Sa’id tidak datang kepadaku dan aku pun tidak datang kepadanya. Kemudian aku datang kepadanya setelah peristiwa itu berlangsung sebulan, saat dia berada di halaqahnya, aku mengucapkan salam kepadanya dan dia menjawab salamku. Dia tidak berbicara kepadaku hingga orang-orang yang berada dimasjid telah pergi. Ketika tidak ada lagi seorangpun kecuali aku, dia bertanya: ‘Bagaimana keadaan orang itu?’ Aku menjawab: ‘Dalam keadaan yang disukai oleh Sahabat dan dibenci oleh musuh.’”3
            Betapa tenteramnya hati tabi’in yang mulia ini terhadap “masa depan” anaknya, sehingga dia tidak berfikir untuk memperhatikan keadaannya. Karena dia merasa tenteram bahwa puterinya berada dalam belaian laki-laki bertakwa yang takut kepada Allah dan mengetahui hak puterinnya atasnya, serta kedudukannya disisinya.4
 Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kita agar menikahkan puteri-puteri kita dengan orang-orang shalih. Karena jika orang shalih menyukainya, maka dia akan memuliakannya dan jika tidak menyukainya, maka dia tidak akan menghinakannya dan tidak akan menzhaliminya. At-Tirmizi meriwayatkan dari Abu Hurairah Rhadiyallahu ‘Anhu, ia menuturkan: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
  
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”5 
            Syaikh al-Mubarakfuri berkata dalam tuhfatul Ahwadzi tentang sabda beliau; “Dan kerusakan yang besar”: “Sebab, jika kalian tidak menikahkannya kecuali dengan orang yang berharta atau berpangkat, mungkin kebanyakan wanita-wanita masih tetap tidak bersuami atau kebanyakan pria kalian tidak beristri. Akibatnya, fitnah zina akan merajalela. Jika seseorang hendak menikahkan puterinya, maka dia harus memperhatikan empat perkara, menurut pendapat jumhur, hendaklah ia memperhatikan agama, nasab, dan perbuatannya. Jangan menikahkan wanita muslimah dengan pria kafir atau wanita shalihah dengan pria fasik, dan jangan pula wanita merdeka dengan pria hamba sahaya. Jika wanita tersebut atau walinya ridha meskipun tidak sekufu’ (sederajat), maka pernikahannya sah.” 6
………………. Bersambung InsyaAllah..
Ket :
3 Audatul Hijaab (II/582), dan dinisbatkan kepada kitab Min Akhlaaqil ‘Ulama’, Muhammad Sulaiman (hal. 123-125)
4 Audatul Hijaab (II/582)
5 (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022) 
6 Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jaami’ at-Tirmidzi (IV/173)

Orang Tua Menawarkan Puterinya atau yang Di Bawah Perwaliannya Kepada Laki-laki Shalih bag 1

Seorang laki-laki tua yang salih berkata kepada Musa ‘alaihissalam :
“ Sesungguhnya aku bermaksud menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun.”
‘Umar bin al-Khattab Rhadiyallahu ‘Anhu menawarkan puterinya, Hafshah Rhadiyallahu ‘Anha kepada laki-laki terbaik umat ini. Kita dengarkan penuturan darinya.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Rhadiyallahu ‘Anhu menuturkan, ketika Hafshah binti ‘Umar menjanda dari Khunais bin Hudzafah as-Sahmi; ia seorang Sahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan meninggal di Madinah, maka ‘Umar mengatakan: “Aku datang kepada Utsman lalu aku menawarkan Hafshah kepadanya, tapi dia mengatakan: ‘Aku akan melihat urusanku.’ Setelah beberapa hari kemudian, dia datang kepadaku seraya mengatakan: ‘Tampaknya aku tidak menikah pada saat ini.’ ‘Umar melanjutkan: “Kemudian aku datang kepada Abu Bakar ash-Siddiq, lalu aku katakana: ‘Jika engkau suka, aku menikahkanmu dengan Hafshah binti ‘Umar.’ Tetapi Abu Bakar diam dan tidak memberikan jawaban apapun. Aku lebih marah kepadanya disbanding kemarahanku atas ‘Utsman.
Setelah beberapa hari kemudian, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam meminangnya, lalu aku menikahkannya dengan beliau. Kemudian Abu Bakar menemuiku, lalu mengatakan: ‘Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah dan aku tidak memberikan jawaban apapun. ‘Aku menjawab: ‘Ya.’
            Abu Bakar berkata: ‘Tidak ada yang menghalangiku untuk memberi jawaban kepadamu tentang apa yang engkau tawarkan kepadaku, melainkan karena aku telah mengetahui bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebut Hafshah. Dan aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam meninggalkannya, maka aku menerima.’”1
                Ibnu Hajar mengomentari hadist ini: “Hadist ini berisi anjuran agar manusia menawarkan puterinya atau selainnya dari wanita yang berada dibawah perwalian kepada orang yang diyakini kebaikan dan keshalihannya, karena didalamnya terdapat manfaat yang akan kembali kepada wanita yang ditawarkan kepadanya. Dan tidak boleh malu mengenai hal ini.”2
            Berikut ini (kisah) salah dari hamba Allah yang shalih yang menikahkan anak gadisnya kepada pemuda shalih tanpa melihat kepada materi yang telah dijadikan (ukuran) oleh kebanyakan orang dalam menikahkan anak-anak puteri mereka dengan pria fasik lagi gemar berbuat maksiat.
            Dalam biografi hamba yang shalih, Sa’id bin al-Musayyab, disebutkan bahwa ‘Abdul Malik bin Marwan meminang puterinya untuk puteranya, al-Walid, ketika ia mengangkatnya sebagai putera mahkota. Tapi Sa’id menolak untuk menikahkan puterinya dengannya. Abu Wada’ah berkata: “Aku biasa berteman dengan Sa’id bin al-Musayyab, lalu ia kehilanganku selama beberapa hari. Ketika aku datang kepadanya, ia bertanya: ‘Dimana engkau berada?’ Aku menjawab: ‘Istriku meninggal dunia sehingga aku sibuk.’ Ia mengatakan: ‘Mengapa tidak memberitahukan kepada kami sehingga kami bisa menyaksikan jenazahnya?’ Ketika aku hendak bangkit, ia bertanya: ‘Apakah engkau sudah mendapatkan wanita selainnya?’
——— Bersambung insyaAllah
Ket :
1. HR. Al-Bukhari (no.5122) kitab an-Nikaah, an-Nasa’i (no. 3248) kitab an-Nikaah, Ahmad no. 75)
2. Fat-hul Baari (IX/178)

Audio : Ustadz Miftah, Nasehat Untuk Pengantin ( Atau yang Akan Jadi Pengantin )

Alhamdulillah, rekaman kajian yang membahas tentang nasehat untuk pengantin atau yang akan menjadi pengantin. Kajian disampaikan pada saat acara walimahan salah satu ikhwah yang menikah di Denpasar, oleh Ustadz Miftahul ‘Ulum, salah satu ustadz ahlussunnah yang bermukim di Denpasar – Bali.
Link bisa di download di Ust. Miftah : Nasehat Bagi Pengantin

Hukum Wanita Menjadi Imam Suaminya Karena Lebih Faham ( Tentang Agama )

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ditanya : Bolehkah saya mengimami suami saya dalam shalat, dengan alasan bahwa saya lebih banyak faham dan belajar, yang mana saya mengajar di fakultas Syari’ah, sementara dia setengah buta huruf?

Jawaban : Tidak dibolehkan wanita mengimami laki-laki, baik laki-laki itu suaminya, anaknya ataupun ayahnya, sebab wanita tidak boleh menjadi imam laki-laki, karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.”

Bahkan sekalipun wanita itu lebih faham (terhadap Kitabullah), ia tetap tidak boleh mengimaminya. Adapun sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam :

” Hendaknya kaum ini diimami oleh orang yang paling bagus bacaannya dala  Kitabullah diantara mereka “

Maka wanita bersama laki-laki tidak tercakup dalam khithab ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok).” (Al-Hujurat :11)

Allah telah membagi masyarakat menjadi dua bagian, yaitu kaum laki-laki dan kaum wanita, berdasarkan ini maka wanita tidak termasuk dalam kategori sabda Nabi :
” Hendaknya kaum ini diimami oleh orang yang paling bagus bacaannya dala  Kitabullah diantara mereka. “
(Fatawa al-Mar’ah:38)

Dari buku Fatwa-fatwa tentang Wanita, Darul Haq

Benarkah Shaf yang Paling Utama Bagi Wanita Dalam Shalat Adalah Shaf yang Paling Belakang?

Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya : Kaum Wanita dibulan Ramadhan berlomba-lomba untuk mendapatkan shaf paling belakang dalam sholat berjama’ah di Masjid, mereka enggan duduk di shaf pertama sehingga hal itu menyebabkan shaf-shaf pertama ditempat shalat kaum wanita menjadi kosong, dan sebaliknya shaf terakhir penuh membludak hingga menutup jalan bagi kaum wanita yang ingin menuju ke shaf depan, hal ini mereka lakukan berdasarkan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang berarti :

” Sebaik-baiknya shaf wanita (dalam shalat) adalah shaf paling belakang”, mohon penjelasan Anda tentang ini.

Jawaban : Mengenai hal ini detailnya sebagai berikut :Jika kaum wanita itu shalat dengan adanya tabir pembatas antara mereka dengan kaum pria, maka shaf yang terbaik adalah shaf terdepan karena hilangnya hal yang dikhawatirkan terjadi antara pria dan wanita. Dengan demikian sebaik-baik shaf wanita adalah shaf pertama sebagaimana shaf-shaf pada kaum pria, karena keberadaan tabir pembatas itu dapat menghilangkan kekhawatiran terjadinya fitnah. Hal ini berlaku jika ada tabir pembatas antara pria dan wanita. Dan bagi kaum wanita pun harus meluruskan, menertibkan dan mengisi shaf depan yang kosong, kemudian shaf berikutnya, sebagaimana ketetapan ini berlaku pada shaf kaum pria. Jadi, ketetapan-ketetapan ini berlaku bila ada tabir pembatas. (Kitab Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Fauzan, 3/57)

Diambil dari buku : Fatwa-fatwa tentang wanita. Darul Haq