Category Archives: Artikel

Pelajaran dari Kutaib Shifat Azzaujah Assholihah karya as-Syaikh Abdul Rozzak bin Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr II

** Bagian 8 
Lanjutan pembahasan hadits sebelumnya…

وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ …يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ

“…Dan sejelek-jelek istri kalian adalah wanita yang suka bertabarruj (bersolek) dan sombong, mereka itu adalah wanita-wanita munafik, mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom (sejenis burung gagak yang langka, pent).” [HR. al-Baihaqi 7/82 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1849]
# DIANTARA SIFAT-SIFAT ISTRI YANG BURUK #
@ al-Mutabarrijaat (المُتَبَرِّجَاتُ)
dan seburuk-buruk istri kalian adalah yang suka bertabarruj”, yakni yang suka bersolek dengan perhiasannya dan keluar rumah dengan perhiasannya itu, keluar dengan menampakkan kemolekan dan kecantikannya, baunya yang wangi, perhiasan-perhiasannya yang sehingga dengan itu ia menjadi penolong bagi syaithon untuk merusak masyarakat.
Maka wanita yang suka bertabarruj dengan sifat seperti ini pada hakikatnya ia telah keluar untuk menjadi tentara iblis dan penolongnya dalam membuat kerusakan dan membukakan pintu kepada iblis dalam menyebarkan fitnah dan kekejian terhadap orang-orang yang beriman.
@ al-Mutakhoyyilaat (المُتَخَيِّلاَتُ)
Maknanya berasal dari kata “khuyala”, yaitu kesombongan. Ada keterkaitan antara tabarruj dan kesombongan. Seorang wanita yang suka berhias, berdandan, memakai wewangian dan tampil cantik tidaklah ia keluar ke jalan atau ke pasar dengan sifat yang tawadhu’kepada Alloh ta’ala, bahkan ia keluar dengan perasaan tinggi, angkuh, sombong dan merasa ujub terhadap dirinya, penampilannya dan tingkah lakunya?! Begitulah kelaziman antara kesombongan dengan tabarruj, sebagaimana ada juga keterkaitan antara kesantunan dengan rasa malu.
Seorang wanita yang santun memiliki rasa malu dan hatinya dipenuhi rasa malu, dibandingkan dengan wanita yang suka bertabarruj dimana ia telah melepaskan jilbab rasa malu dan mengenakan jilbab kesombongan, ujub dan keangkuhan yang akan mendatangkan bahaya bagi kehidupan rumah tangganya, bahkan seluruh kehidupannya.
Oleh karena itu wanita yang memiliki sifat demikian disebut seburuk-buruk wanita, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ

“dan seburuk-buruk istri kalian adalah yang suka bertabarruj lagi sombong, mereka itulah wanita-wanita munafik. Mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom.”
“Ghurob al-A’shom” adalah burung gagak yang di kedua sayap dan kakinya ada sedikit warna putih. Bagaimana engkau akan bisa melihat adanya ghurob al-a’shom di antara burung-burung gagak yang hitam legam? Ghurob al-a’shom ini termasuk yang paling langka, kebanyakan burung gagak itu seluruh tubuhnya berwarna hitam kelam. Maka pada sabda beliau shollallohu alaihi wa sallam: “Mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom” terdapat ungkapan betapa sedikitnya di antara wanita-wanita seperti itu yang akan masuk ke dalam surga, karena sifat burung gagak yang seperti ini sangat jarang sekali.
Kemudian yang semisal hadits ini adalah sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kebanyakan kalian adalah penghuni neraka.” [HR. al-Bukhori no. 304 & 1462 dari hadits Abu Said rodhiyallohu anhu, dan Muslim no. 79 dari hadits Ibnu Umar rodhiyallohu anhu]
Mengapa beliau melihat kebanyakan wanita itu penghuni neraka?

Jika engkau perhatikan sifat-sifat yang disebutkan dalam hadits, anggaplah sifat-sifat itu sebagai seburuk-buruk sifat penduduk neraka, karena engkau akan dapati banyak kaum wanita yang meremehkan dan tidak peduli akan hal tersebut, sampai seolah-olah ia menganggap tidak akan ada hari dimana ia akan berjumpa dengan Alloh dan dihisab atas perbuatan-perbuatannya, sedangkan hadits-hadits dan ilmu itu telah sampai kepadanya, akan tetapi yang ia turuti hanyalah syahwat dan keinginannya saja.
Banyak sekali hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam yang menyebutkan sifat-sifat tercela bagi kaum wanita, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar rodhiyallohu anhu, ia berkata:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ، وَالوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ

“Nabi shollallohu alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang menyambung rambutnya dan minta disambung rambutnya, wanita yang bertato dan minta ditato.”[HR. al-Bukhori no. 5947 dan Muslim no. 2124]
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, ia berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rosululloh shollallohu alaihi wa allam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” [HR. al-Bukhori no. 5885]

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Nabi shollallohu alaihi wa sallam melaknat wanita yang bersifat kelaki-lakian (tomboy).” [HR. al-Bukhori no. 5886 dari hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma]
Dari hadits-hadits ini dan yang selainnya dimana disebutkan laknat bagi kaum wanita yang memiliki sifat-sifat tertentu, engkau dapati banyak wanita yang tidak peduli walaupun ia mendengar laknat, peringatan dan dijauhkan dari rahmat Alloh…
Seolah-olah ia tidak merasa bahwa kelak ia akan berdiri di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala dan akan ditanya…
Seolah-olah tidak akan ada hari dimana ia dimasukkan ke dalam lubang lalu ditaburi tanah dan dikubur…, dimana warnanyapun akan berubah…, leher akan terpisah dari badannya…, dan matapun akan terlepas dari tempatnya, semua ini tidak ada dalam pikirannya…
Dan keinginannya hanyalah bersolek, menghiasi dan mempercantik diri walaupun perbuatan yang ia lakukan itu adalah maksiat kepada Alloh, menyelisihi perintah-Nya dan akan mendatangkan kemurkaan-Nya.
Demikianlah sifat-sifat yang tercela yang dijelaskan dalam sunnah agar para wanita sholihah itu mendapatkan peringatan dari sifat-sifat itu. Dan pengetahuan para wanita tentang hal ini adalah pengetahuan yang dimaksudkan untuk dijauhi, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

Aku mengetahui keburukan bukan supaya aku melakukan keburukan itu
,,,,, akan tetapi agar aku menjauhinya

Barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan
,,,,, ia akan terjatuh ke dalamnya

***

Semoga Alloh ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa menerapkan sifat-sifat istri yang sholihah dan menjauhkan kita dari sifat-sifat istri yang buruk…

** Bagian 9
#Sesungguhnya Suamimu itu Surgamu dan Nerakamu…
Dan di antara sifat istri sholihah adalah: Tidak mengurangi hak suami dan …bersungguh-sungguh dalam berkhidmat kepada suami.
Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubro dari Hushoin bin Mihron dari bibinya, bahwa ia mendatangi Nabi shollallohu alaihi wa sallam untuk suatu keperluan, setelah selesai urusannya Nabi bertanya kepadanya : “apakah engkau memiliki suami?” si bibi menjawab: “ya”, Nabi bertanya lagi: “bagaimana sikapmu engkau terhadapnya?”, si bibi menjawab: “Aku berusaha keras untuk taat kepadanya, kecuali pada perkara yang tidak aku mampui.” Beliaupun bersabda:

انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Lihatlah bagaimana engkau di sisinya, karena sesungguhnya suamimu itu surgamu dan nerakamu.” [HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 8913 dan Ahmad no. 19003. Dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 2612]
Kapan suami bisa menjadi surga bagi istrinya dan kapan bisa jadi neraka?
Maka di sini wajib bagi para wanita untuk memperhatikan hakikat perkara yang besar ini. “Bagaimana engkau di sisinya?”, engkau punya kewajiban-kewajiban dan engkau adalah hamba Alloh, sedangkan di sana ada surga dan neraka. Alloh telah memerintahkan dan mewajibkan bagimu hak-hak suami ini, maka tegakkanlah dan kerjakanlah sebaik mungkin dan sesempurna mungkin dengan meniatkannya sebagai bentuk ketaatan kepada Alloh dan mencari ridho-Nya, tunaikanlah apa yang menjadi kewajibanmu dan mintalah kepada Alloh apa yang dijanjikan kepadamu: “karena sesungguhnya suamimu itu surgamu dan nerakamu.”
***
Dan yang perlu diperhatikan dalam hal ketaatan kepada seseorang, siapapun itu, haruslah tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Alloh, sehingga apabila bertentangan maka ketaatan kepada Alloh lah yang mesti didahulukan.
Dalam kasus ini ketaatan pada suami adalah taat dalam hal yang ma’ruf saja dan tidak boleh taat dalam berbuat kemaksiatan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Alloh.” [HR. Ahmad no. 1041]
Karena seorang suami bisa berbuat salah dan tugas seorang istri sholihah adalah mengingatkan dan memperbaiki kesalahan tersebut dengan cara yang terbaik.

** Bagian 10
# Dan diantara sifat istri sholihah: Tidak membebani suami dengan nafkah yang diluar kemampuannya. #
Hendaknya seorang istri itu tidak bermewah-mewah, berlebihan dan boros terhadap harta suaminya, bahkan hendaknya ia pertengahan dalam masalah nafkah.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [QS al-Furqon : 67]
Dan di antara yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah hadits dari Abu Sa’id atau Jabir bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkhutbah dan memanjangkannya, dalam khutbahnya beliau menyebutkan perkara dunia dan akhirat, dan beliau bercerita bahwa di antara penyebab awal hancurnya Bani Israil adalah adanya istri seorang yang fakir membebani suaminya dengan pakaian-pakaian atau perhiasan yang biasa dikenakan istri orang kaya, beliau lalu menyebutkan bahwa dahulu ada wanita Bani Israil yang pendek lalu dia memakai sepatu dari kayu dan memakai cincin dari emas yang tertutup, kemudian dipolesinya dengan minyak wangi misk, lalu ia berjalan di antara dua wanita yang tinggi atau gemuk, lalu diutuslah seorang laki-laki untuk mengikuti mereka, maka ia pun bisa mengenali dua wanita yang tinggi tersebut dan tidak mengenali wanita yang memakai sepatu dari kayu.”
[HR. Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid no. 487 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 591. Dan juga diriwayatkan Muslim no. 2252 dari Abu Sa’id sebatas kisah wanita pendek tersebut saja]
Jadi diantara penyebab awal hancurnya Bani Israil adalah seorang istri seorang fakir yang membebani suaminya dengan perhiasan-perhiasan yang biasa dipakai oleh istri orang kaya, kemudian lihatlah perbuatan wanita yang pendek ini yang telah berbuat boros, berlebihan, bermewah-mewahan dan manghambur-hamburkan harta serta menipu, ia tidak memiliki sifat qona’ah (jawa: nerimo, pent) atas apa-apa yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala tetapkan baginya.
Dan wanita-wanita yang mengenakan sepatu/sandal berhak tinggi sungguh mirip dengan wanita tadi. Al-Lajnah ad-Daimah telah berfatwa tentang masalah ini:
“Memakai sepatu/sandal berhak tinggi tidak diperbolehkan, karena bisa menyebabkan seorang wanita terjatuh. Sedangkan seseorang diperintahkan dalam syariat untuk menjauhi bahaya sebagaimana keumuman firman Alloh :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Jangan engkau lempar dirimu ke dalam kebinasaan.” [QS al-Baqoroh : 195]
Dan firman Alloh:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Jangan engkau bunuh dirimu.” [QS an-Nisa : 29]
Sepatu berhak tinggi bisa membuatnya tampak lebih tinggi yang sebenarnya, ini merupakan penipuan dan termasuk menunjukkan sebagian perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan.
***
Dalam pergaulan sehari-hari, terkadang seseorang melihat tetangganya atau teman-temannya memiliki kelapangan rizki yang lebih berupa rumah yang mewah, mobil yg mewah, perabot yang indah, gadget-gadget terbaru, anak-anak yang lucu dan lain-lain yang terkadang hal itu membuatnya iri ingin memilikinya juga. Ketika hal itu terjadi, hendaknya ia ingat bahwa tujuan hidupnya di dunia bukanlah untuk bersenang-senang dengan harta, akan tetapi dunia ini hanyalah ujian Alloh untuk mengetahui siapa diantara hama-hambaNya yang bersyukur kepadaNya.
Bahkan jika hal itu terjadi, hendaknya ia untuk melihat bahwa disana masih ada orang-orang yang tidak lebih beruntung daripadanya dalam urusan rizki duaniawi, sebagaimana Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memerintahkan:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي المَالِ وَالخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan dalam harta dan fisik, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” [HR. al-Bukhori no. 6490 dan Muslim no. 2963]
Dan banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ridho atas rizki yang telah Alloh berikan kepada kita, diantaranya:
Dari Abdulloh bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.”[HR. Muslim no. 1054]

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Terimalah apa yang Alloh berikan padamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya. (HR. at-Tirmidzi 2305 dan Ahmad 2/310. Dihasankan oleh Al-Albani dalam ash-Shohihah n0.930)
Semoga Alloh ta’ala memberikan kepada kita taufiq agar kita bisa memiliki sifat ridho atas segala yang telah Alloh berikan kepada kita dan memberikan balasan yang baik atas sikap ridho tersebut

** Bagian 11
#Diantara Sifat Istri Sholihah: Tidak Mengingkari Kebaikan Suaminya#
Dan diantara sifat istri sholihah: Tidak kufur terhadap orang-orang yang memberinya nikmat, yaitu tidak mengingkari nikmat-nikmat yang telah dimudahkan Alloh tabaroka wa ta’ala kepadanya melalui suaminya, sebagaimana dalam hadits:

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan seorang itu bersyukur kepada Alloh apabila ia tidak bersyukur kepada manusia.”
[HR. Ahmad no. 7939 dan Abu Dawud no. 4811 dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 416]
Kemudian hadits lain yang menjelaskan masalah ini adalah yang diriwayatkan oleh al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod dari hadits Asma bintu Yazid al-Anshoriyyah, ia berkata: “Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah lewat di depanku ketika aku sedang bersama teman-teman sebayaku, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami dan berkata:

«إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَ الْمُنْعِمِينَ» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا كُفْرُ الْمُنْعِمِينَ؟ قَالَ: ” لَعَلَّ إِحْدَاكُنَّ تَطُولُ أَيْمَتُهَا مِنْ أَبَوَيْهَا، ثُمَّ يَرْزُقُهَا اللَّهُ زَوْجًا، وَيَرْزُقُهَا مِنْهُ وَلَدًا، فَتَغْضَبُ الْغَضْبَةَ فَتَكْفُرُ فَتَقُولُ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ “

“berhati-hatilah kalian dari kufur terhadap pemberi nikmat”, aku bertanya: “wahai Rosululloh, apa itu kufur terhadap pemberi nikmat?”, beliau menjawab: “Mungkin ada salah seorang diantara kalian yang telah lama menyendiri (melajang) bersama orang tuanya kemudian Alloh memberinya rizki berupa seorang suami dan Alloh memberinya rizki berupa anak dari suaminya itu. Namun ketika ia marah kepada suaminya ia berbuat kufur dengan mengatakan: “Aku tidak pernah melihat satu kebaikanpun darimu.”
[HR.Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 1048, dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 823].
Perkataan beliau: “telah lama menyendiri (melajang) bersama orang tuanya”, maksudnya adalah wanita tersebut telat nikah.
Dan diriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubro karya an-Nasa’i dari Abdulloh bin Umar, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكَرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ

“Alloh tidak melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal ia butuh kepada suaminya itu.”
[HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 9135. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 289]

***

Yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi salah paham, bahwa kekufuran yang disebutkan dalam hadits ini bukanlah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari keislamannya (istilahnya “kufrun duuna kufrin”), akan tetapi ia termasuk dosa besar dan termasuk diantara penyebab banyaknya wanita dimasukkan ke dalam neraka. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: ” يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Neraka diperlihatkan kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah kaum wanita karena mereka berbuat kufur”, beliau ditanya: “apakah karena mereka kufur kepada Alloh?”, beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengingkari kebaikannya, seandainya engkau berbuat baik pada salah seorang dari mereka sepanjang masa kemudian ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai darimu, ia akan mengatakan: “Aku sama sekali tidak pernah melihat satu kebaikanpun darimu.” [HR. al-Bukhori no. 29]

** Bagian 12
# Menunaikan Hak Suami dan Tidak Menyakitinya #
Dan diantara sifat istri sholihah : menghormati suaminya, mengetahui kedudukan dan haknya. Ada beberapa hadits yang menjelaskan masalah ini, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

لَا آمُرُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ وَلَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا يَسْجُدُ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Aku tidaklah memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain. Seandainya aku perintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, akan kuperintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” [al-Mu’jam al-Kabir 11/356, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3490]
Juga diriwayatkan dalam al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thobroni dari Zaid bin Arqom, bahwa Mu’adz berkata: “Wahai Rosululloh, orang-orang ahlul kitab itu sujud kepada pendeta-pendeta mereka, mengapa kami tidak sujud kepadamu?”, beliau bersabda: “seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya. Dan seorang wanita itu belum menunaikan hak suaminya walaupun seandainya suaminya menginginkannya ketika ia sedang berada di dapur, maka berikanlah.” [al-Mu’jam al-Kabir 5/208, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3366]
Hak suami akan lebih besar lagi jika suaminya adalah seorang yang sholeh, bertakwa, yang menjaga ibadahnya dan ketaatannya kepada Alloh. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari jalan Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ! فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata: “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (suami) hanyalah tamu di sisimu, hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami”. [HR. Tirmidzi no. 1174 dan Ibnu Majah no. 2014. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 173]
Para ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan peringatan yang sangat keras kepada para wanita yang menyakiti suaminya.

***

** Bagian 13
Dan diantara sifat istri sholihah : jika Alloh azza wa jalla memberinya kenikmatan dan kemuliaan berupa anak-anak, hendaknya ia bersikap adil diantara mereka. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

اعْدِلُوا بين أَوْلَادِكُمْ اعْدِلُوا بين أَبْنَائِكُمْ

“Bersikap adillah kepada anak-anakmu! bersikap adillah kepada anak-anakmu!” [HR. Abu Dawud no. 3544 dari hadits an-Nu’man bin Basyir rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 173]
Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud, dan banyak hadits lainnya yang semakna dengan hadits ini.

** Bagian 14
Dan diantara sifat istri sholihah : hendaknya ia menetap di rumahnya, dan janganlah ia sering-sering keluar rumah, janganlah ia keluar rumah kecuali kalau ada keperluan saja, janganlah ia berhias dan menampakkan wajahnya (Syaikh Abdurrozzaq al-Badr termasuk ulama yang mewajibkan cadar, pent), hendaknya ia menundukkan pandangannya, menjaga kehormatannya.
Telah kami sebutkan sebelumnya beberapa dalil yang berkaitan dengan masalah ini, dan diantara hadits lain tentang masalah ini adalah yang diriwayatkan ath-Thobroni dalam al-Ausath dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ -أي: جعلها غرضا له- وَإِنَّهَا لَا تَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ مِنْهَا فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat, kalau dia keluar, maka setan akan menghiasinya (yakni menjadikannya sasaran). Dan sesungguhnya dia tidak lebih dekat kepada Allah kecuali di tengah rumahnya” [HR. ath-Thobroni dalam al-Ausath no. 2890 & 8096. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 2688]
***
Alloh ta’ala berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan menetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana orang-orang jahiliyah dahulu” [QS al-Ahzab: 33]
Akhowati fillah… rumah adalah tempat “kerja” seorang muslimah yang sebenarnya, tempatnya melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Alloh dan seorang istri… dimana suatu saat kelak ia akan ditanya tentang tugas dan kewajibannya itu… Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang di bawah kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak suaminya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya terhadap apa yang dipimpinnya.” [Muttafaqun ‘alaih]
Namun ingatlah… setan punya banyak cara untuk menggoda manusia, walaupun seorang muslimah telah mengamalkan ayat dan hadits di atas, ia tetap perlu waspada terhadap godaan-godaan setan yang lain, sebagaimana telah disebutkan oleh syaikh Abdurrozzaq dalam pendahuluan kitab ini dimana kaum muslimah pada zaman ini sangat mudah menerima ajakan-ajakan kepada keburukan walaupun ia berada di dalam rumahnya, melalui media televisi, internet, majalah dan lain sebagainya…
Maka hendaknya seorang wanita muslimah berhati-hati pula dengan media-media ini…
Hendaknya ia mampu memanfaatkan media yang ada untuk membawa kebaikan baginya dan agamanya…
Bukan lalai dan terpedaya dengan arus sehingga bisa merusak dirinya…
Pahamilah bahwa tujuan wanita berdiam diri di rumah itu adalah untuk lebih menjaga kehormatannya dan kemaluannya serta untuk lebih dekat dengan Alloh… menjauhi ikhtilat (bercampur baur) dengan lawan jenis… serta membuatnya lebih fokus dalam mendidik anak-anaknya dan mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri…
Jangan sampai seorang wanita muslimah yang ingin mengamalkan ayat ini dan hadits-hadits lainnya, ketika ia berada di rumahnya tetapi ternyata lewat media internet (facebook misalnya) yang ada di rumahnya ia tidak menjaga pergaulannya dan kehormatannya dengan lawan jenisnya…
Sungguh ini telah merusak tujuannya menetap di rumah…

** Bagian 15 – Selesai
Dan diantara sifat istri sholihah : Tidak menyebarkan rahasia suaminya dan perkara-perkara yang khusus diantara suami-istri, walaupun seandainya terjadi perpisahan pada mereka berdua dan sudah tidak sejalan lagi, maka hendaknya mereka berdua bertakwa kepada Alloh jalla wa ‘ala dalam permasalahan ini.
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dalam masalah ini dari Asma’ bintu Yazid: bahwa ia sedang di sisi Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sementara para laki-laki dan perempuan sedang duduk-duduk, lalu beliau bersabda:

لَعَلَّ رَجُلاً يَقُوْلُ مَا يَفْعَلُ بِأَهْلِهِ وَلَعَلَّ امْرَأَةً تُخْبِرُ بِمَا فَعَلَتْ مَعَ زَوْجِهَا. فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقُلْتُ: أَيْ، وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُنَّ
لَيَفْعَلْنَ وَإِنَّهُمْ ليَفْعَلُوْنَ. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوا فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ شَيْطَانٍ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Mungkin ada seorang lelaki menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya dan mungkin ada seorang wanita menceritakan apa yang dilakukannya bersama suaminya.” Orang-orang yang hadir terdiam. Maka aku menjawab, “Iya demi Allah, wahai Rosululloh. Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya.” Rosululloh bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, karena permisalannya seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya.” [HR Ahmad no. 27583. Dinilai hasan li ghoirihi oleh al-Albani rohimahulloh dalam al-Adabuz Zifaaf hal 143-144, wallohu a’lam]
Perkataan Asma’ bintu Yazid “Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya” penyebutannya dimulai dari wanita lebih dahulu karena hal ini lebih banyak dilakukan wanita, sedangkan laki-laki sangat sedikit yang melakukannya. Wanita itu biasanya membicarakan masalah yang khusus ini dengan teman-temannya, dan kebanyakan mereka tidak peduli untuk membicarakan rahasia suaminya dan urusan-urusannya yang khusus.
Kemudian sabda beliau: “karena permisalannya seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya”, yakni wanita dan laki-laki yang memiliki sifat suka menyebarkan rahasia-rahasia hubungan suami istri permisalannya adalah seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya.

***

Demikianlah sebagian sifat istri sholihah yang dibawakan oleh syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafidzohulloh dalam kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Sebagaimana telah disebutkan di awal tentang kaidah yang mengitari seluruh kebaikan yaitu bersemangat dalam berusaha mencari ridho Alloh dan memohon pertolongan-Nya, maka setelah kita mempelajari sifat-sifat ini, kita berusaha mengamalkannya dan memohon kepada Alloh ta’ala agar dimudahkan untuk mengamalkannya dan istiqomah di jalan-Nya.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Bersemangatlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Alloh” [HR. Muslim no. 2664]
Dan kita memohon kepada Alloh ta’ala dengan nama-namaNya yang terbaik dan sifat-sifatNya yang tinggi agar menunjuki kepada kita semua jalan yang lurus, dan menjadikan apa-apa yang telah kita pelajari sebagai hujjah yang akan membela kita dan bukan hujjah yang akan berbalik melawan kita kelak pada hari kiamat, dan memberikan keberkahan pada kita dalam perkataan, perbuatan, waktu dan pada suami kita, anak-anak kita serta harta kita. Dan semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberkati kehidupan kita seluruhnya…

***Selesai, alhamdulillah***

Sumber www.ummushofi.wordpress.com dengan sedikit editan

sifat-zujah-sholihah

Pelajaran dari Kutaib Shifat Azzaujah Assholihah karya as-Syaikh Abdul Rozzak bin Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr

Bismillah..

As-Syaikh Abdul Rozzak al Badr hafidzahullah adalah seorang ulama yang mengajar di Masjid Nabawi, beliau sudah beberapa kali datang ke Indonesia. Beliau merupakan putra dari seorang ulama ahli hadist yang masih ada dijaman ini yang bernama as-Syaikh Abdul Muhsin al’Abbad al-Badr hafidzahullah, dan kitab صفات الزوجة الصالحة  merupakan salah satu karya dari as-Syaikh Abdul Rozzak al Badr. Kitab tersebut bisa di download Disini
                                 

     *************************

# Ghozwul Fikri!! Perang Pemikiran Terhadap Kesucian & Kemuliaan Kaum Muslimah #

Saat ini kita hidup di zaman dimana kaum wanita kita diperangi dengan peperangan dahsyat yang belum pernah terjadi dalam masa-masa yang lalu, melalui majalah, media dan sarana-sarana lainnya yang bertujuan untuk menghancurkan kesucian wanita, kemuliaannya, kesempurnaannya, perhiasannya, keimanannya, akhlaknya dan keutamaannya.
Kaum wanita terdahulu tidak banyak menerima ajakan-ajakan yang rusak, kenakalan-kenakalan dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, melainkan hanya melalui sarana-sarana yang sangat terbatas, berupa teman yang buruk atau yang semisalnya yang akan memberi pengaruh buruk kepadanya.
Sedangkan saat ini, pemikiran-pemikiran sampah, kejelekan dan kerusakan dari seluruh penjuru dunia bisa sampai kepada kaum wanita walaupun ia berada di dalam rumahnya tanpa perlu keluar rumah.
Pemikiran-pemikiran itu masuk ketika Ia duduk di dalam kamarnya di depan sebuah layar televisi, internet, atau dengan membaca majalah-majalah rendahan, sehingga masuklah semua kerusakan itu kedalam akalnya, pikirannya dan hatinya.
Sehingga ia sangat butuh untuk menutup semua jendela kejelekan, jalan-jalan keburukan dan pintu-pintu masuk kepada kerusakan, agar ia bisa menjadi seorang wanita yang sholihah, suci, dan taat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.
Dan ini merupakan tanggung jawab yang besar pula bagi siapa saja yang Alloh telah beri amanah dalam mengurus kaum muslimah, baik orang tuanya, walinya, ataupun suaminya. Dan ini adalah perkara yang besar yang sangat membutuhkan perhatian dan penjagaan.
Aku (Syaikh Abdurrozzaq) katakan: dalam permasalahan ini, begitu sedikitnya peringatan dan begitu jarangnya orang yang mengingatkan akan sifat-sifat keimanan, sifat-sifat yang utama dan sifat-sifat yang baik yang seharusnya seorang wanita muslimah berhias dengannya, bersamaan dengan itu nampak kelemahan pada kebanyakan wanita dan tersebar pada mereka sedikitnya rasa malu dan sedikitnya ilmu agama, serta nampak diantara mereka berbagai macam kekurangan dan kerusakan.
Selanjutnya, inilah penjelasan tentang sifat-sifat istri sholihah, aku memohon kepada Alloh al-Karim Robb arsy yang agung untuk mencatatnya sebagai kebaikan dan sebagai manfaat, dan menjadikannya sebagai kunci kebaikan dan penutup kejelekan. Dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi hati, perbaikan bagi jiwa dan penghubung dengan Robb semesta alam, untuk mendapatkan ridho-Nya dan menggapai kecintaan-Nya subhanahu wa ta’ala, dan menjauhkan dari apa-apa yang membuat-Nya jalla wa ‘ala murka dan marah.

** Bagian 1
Rosululloh shollallhu alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Bersemangatlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Alloh” [HR. Muslim no. 2664]
Bersemangatlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu” : bersungguh-sungguh mencari sebab-sebab yang bermanfaat dan wasilah-wasilah yang berguna yang dengannnya dapat tercapai kebaikan dan mewujudkan dengannya hidayah.
dan mintalah pertolongan kepada Alloh” : jadilah orang bersandar kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya, yang mencari pertolongan-Nya, yang berharap dari-Ny agar Alloh memberimu taufiq, meluruskanmu, dan mengukuhkanmu, dan memberikan pertolongan untukmu dalam kebaikan dan istiqomah.
Ini adalah kaidah yang besar yang mengitari seluruh kebaikan.

** Bagian 2
Sifat Istri yang Sholihah yang pertama : taat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada.

Hal ini sebagaimana yang datang dari surat an-Nisa’ dalam menyebutkan sifat-sifat istri sholihah :
Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّه

…“Oleh sebab itu wanita-wanita yang sholihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”[an-Nisaa’: 34]
Potongan ayat ini mengandung banyak faidah tentang sifat-sifat istri yang sholihah, faidahnya mencakup seluruh sifat dan keutamaan yang mulia bagi wanita sholihah.
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa wanita sholihah adalah yang memiliki 2 sifat berikut ini:

Sifat yang pertama: berkaitan dengan hubungannya dengan Alloh
Sifat yang kedua: berkaitan dengan hubungannya dengan suaminya
Hubungan wanita sholihah dengan Alloh disebutkan dalam ayat tadi “al-Qonitaat”. Dan al-Qunut disini maknanya adalah terus-menerus dalam berbuat taat kepada Alloh, menjaga ibadah kepada Alloh, berpegang teguh dengan ketaatan itu, melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam Islam, dan tidak meremehkan serta menyia-nyiakannya. Kesemuanya itu telah tercakup dalam firman Alloh ta’ala : “al-Qonitaat”.
Adapun hubungan wanita sholihah dengan suaminya disebutkan dalam ayat tersebut: “Haafidzotun lil ghoibi bimaa hafidzolloh”. Yakni menjaga hak-hak suaminya ketika suaminya sedang tidak ada, demikian pula ketika suaminya ada. Menjaga haknya dalam urusan harta, urusan ranjang, serta menjaga hak dan kewajiban-kewajiban suami.
Dan penjagaan ini sesungguhnya hanya bisa terjadi dengan adanya taufiq, kemudahan, pertolongan dan petunjuk dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu Alloh berfirman : “bimaa hafidholloh”. Yakni bahwasanya penjagaan tersebut terjadi bukan karena kecerdasan seorang wanita, kepintarannya ataupun semata-mata karena usahanya sendiri, akan tetapi hal ini bisa terjadi disebabkan adanya taufiq , petunjuk dan kemudahan dari Alloh subhanahu wa ta’ala.

** Bagian 3
# Wahai Muslimah, Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka!!

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Abdurrohman bin Auf rodhiyallohu anhu bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْ…رَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita itu selalu menjaga sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat pada suaminya, maka kelak akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” [HR. Ahmad no. 1661, Ibnu Hibban no. 4163. Dinilai hasan li ghorihi oleh al-Albani dalam Shohih at-Targhib no. 1931]
Hadits ini adalah suatu kabar gembira bagi para muslimah, yaitu Alloh subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan kepadanya suatu keutamaan yang tinggi. Dengan empat amalan yang bisa dihitung hanya dengan sebelah tangan saja tidak perlu dua, jika ia menjaganya maka akan dikatakan kepadanya pada hari kiamat:
“Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka”
Bukankah sudah seharusnya bagi wanita muslimah yang senantiasa menasehati dirinya untuk memperhatikan sifat-sifat ini dan tekun dalam melaksanakan amalan-amalan ini? Penjagaannya terhadap sholatnya, penjagaannya terhadap puasanya, dan penjagaannya terhadap kemaluannya, serta penjagaannya terhadap hak-hak suaminya, agar ia mendapatkan janji yang baik lagi sempurna ini, sehingga akan dikatakan kepadanya pada hari kiamat : “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka”.
Sesungguhnya dasar kebaikan dari seorang wanita adalah hubungan baiknya dengan Robbnya, dengan baiknya ketaatannya kepada-Nya, baiknya pendekatannya pada-Nya, dan ketekunannya dalam beribadah kepada-Nya. Maka sesungguhnya kebaikan dan keistiqomahan ini adalah jalan kebahagiaannya, jalan kemenangannya, dan jalan kesuksesannya dalam seluruh kehidupannya, diantaranya dalam kehidupan rumah tangganya, kebaikan anak-anaknya, dan keturunannya, sehingga kehidupannya penuh keberkahan dan kebahagiaan.
Oleh karena itu sangat ditekankan bagi wanita yang menghendaki kebaikan pada dirinya, dan sangat ditekankan pada para orang tua yang mencintai kebaikan bagi anak-anaknya untuk mendidik mereka di atas kebaikan, keistiqomahan, dan penjagaan terhadap ibadah, penjagaan terhadap kewajiban-kewajiban islam seperti sholat lima waktu, puasa romadhon, dan menjauhi segala apa yang berdampak buruk bagi kehormatan dan kemuliaannya.

** Bagian 4
Nasehat Syaikh kali ini lebih ditujukan kepada para wanita muslimah yang akan menikah dan para orang tua yang akan menyelenggarakan pernikahan putra-putrinya…
# Nasehat Syaikh Abdurrozzaq al-Badr Dalam Menyelenggarakan Pernikahan #
Kemudian jika Alloh menganugerahkan kepada seorang… wanita muslimah berupa calon suami yang sekufu lagi cocok dengannya, hendaklah ia bertaqwa kepada Alloh sejak awal pernikahannya.
Dan kita perlu memperhatikan sebuah kesalahan yang banyak terjadi, yaitu: berlebihan dan bermewah-mewah dalam pengadakan acara pernikahan dan dalam biaya pernikahan.
Banyak wanita ketika mendekati watu pernikahannya yang dipikirkannya adalah meniru-niru yang dilakukan kaum wanita lainnya, “si fulanah acara pernikahannya begini… pernikahannya si fulan begitu…”, ia ingin meniru-niru yang dilakukan orang-orang sehingga ia pun ikut-ikutan melakukan pemborosan dan menghambur-hamburkan harta, belum lagi adanya kemungkaran-kemungkaran dalam acara pernikahannya, sehingga awal pernikahan ini menjadi sebab kurangnya barokah dan sedikitnya kebaikan.
Dan sebaliknya jika seorang wanita dan keluarganya menjauhi sikap berlebih-lebihan, menjauhi kemaksiatan dan dosa, dengan biaya pernikahan yang tidak memberatkan dan tidak boros, maka hal ini akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan.
Sebagaimana dalam sebuah hadits shohih dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam:

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” [HR. Abu Dawud no. 2117, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1842]
Dan dalam hadits yang lain :

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً

“Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. [HR. Ahmad dalam musnadnya no. 25120 dan an-Nasai dalam al-Kubro no. 9274 dari hadits Aisyah rodhiyallohu anha]
Jadi sebaik-baik wanita adalah yang paling mudahnya.
Oleh karena itu selayaknya bagi seorang wanita muslimah, beserta ayah dan ibunya untuk menjadikan cara pandang mereka dalam mengadakan pernikahan adalah yang mudah, tidak memberatkan, tawadhu’, tidak tinggi hati dan tidak sombong, lemah lembut dan sabar serta meniadakan berlebih-lebihan dan pemborosan. Ini adalah perkara yang akan berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga seluruhnya.
Jika dalam pernikahan itu ada kemudahan dan jauh dari sikap berlebih-lebihan maka ini adalah diantara sebab tercapainya keberkahan dan kebaikan yang berkelanjutan.
Dan jika dimulai dengan berlebih-lebihan dan mubadzir, kemaksiatan dan dosa, maka ini termasuk diantara sebab terbesar dicabutnya keberkahan, wal ‘iyadzu billah, kita berlindung kepada Alloh dari hal tersebut…

***
Alloh ta’ala berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” [QS al-An’aam: 141]

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya orang-orang suka berbuat mubadzir itu adalah saudara-saudaranya syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [QS al-Isro’: 27]
Semoga Alloh ta’ala menjauhkan kita dari sikap berlebih-lebihan dan pemborosan… dan kita memohon kepada-Nya agar rumah tangga kita diberi keberkahan dan senantiasa diliputi kebaikan…

** Bagian 5 
# Sifat Istri Sholihah yang kedua : Waspada Terhadap Godaan Setan yang Terkutuk
Kemudian diantara sifat istri yang sholihah : Waspada terhadap setan yang terkutuk. Dan setan berperan penting dalam merusak kehidupan ini : merusak agama, akhlaq, mu’amalah, rumah tangga dan ukhuwah, dan merusak segala sesuatu yang baik. Setiap hari ia mengirim utusan dan tentara untuk menegakkan peranannya ini.
Marilah kita renungkan sebuah hadits yang terdapat dalam shohih muslim dari hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallohu anhuma bahwasanya Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ ” قَالَ الْأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: «فَيَلْتَزِمُهُ»

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu dia menyebarkan bala tentaranya.Tentara yang paling dekat kepadanya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang kepada Iblis seraya berkata: “Aku telah melakukan ini dan itu”, Iblis menjawab: ”Kamu tidak melakukan apa-apa”, Lalu datang lagi yang lain kepadanya seraya berkata: “Aku tidak berhenti menggoda seorang lelaki sehingga aku memisahkan antara dia dengan istrinya”, Maka Iblis mendekatkan tentara ini kepadanya dan berkata: “bagus kamu”, Al-A’masy berkata : “maka iblispun memeluknya”. [HR Muslim no. 2813]
Di sini istri yang sholihah perlu untuk memahami bab ini dan mewaspadai hakikat ini, begitu juga suaminya. Keduanya harus waspada bahwa di sana ada musuh yang tersembunyi yang melihatmu tapi engkau tidak melihatnya, mengalir dalam aliran darah dalam urat nadimu, ia meniupkan, membisikkan, menipu dan memperdaya. Semua itu dilakukannya sedangkan engkau tidak melihatnya, memberikan rasa was-was di hati suami dan hati istri, dan memunculkan keraguan-keraguan sampai akhirnya terjadilah permusuhan dan setan memiliki banyak cara untuk melakukannya.
Oleh karena itu as-Sunnah telah menjelaskan cara menjaga diri dari setan ketika masuk rumah, berhubungan suami istri, makan, marah dan dalam setiap perkara yang butuh adanya penjagaan dari setan, agar setan tidak menyertainya dalam keluarganya, rumahnya dan anak-anaknya, maka seseorang perlu menjaga dirinya dengan dzikir-dzikir yang mubarokah, dengan al-Qur’an al-Karim dan doa-doa yang diajarkan Nabi, serta dengan menjaga ketaatan dan ibadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.
Oleh karena itu diantara sifat istri yang sholihah adalah berhati-hati dari tipu daya setan, godaannya, bisikan-bisikannya, dan apa-apa yang diperdengarkannya ke dalam jiwa dari apa-apa yang berakibat pada rusaknya hubungan suami istri dan menghancurkan kehidupan rumah tangga.
Dan betapa banyak rumah tangga yang berpisah dan tidak ada rujuk setelahnya dengan sebab menuruti keinginan setan dan mengikuti bisakan-bisikannya, jikalau keduanya berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk dan menjauhi godaan-godaannya, serta bisikan-bisikannya maka masalah itu tidak akan terjadi sehingga tidak akan menghasilkan perceraian!
Dari sini kita harus memperhatikan sebuah peringatan yang bermanfaat: bahwa musuh yang tersembunyi ini yang dia dapat melihatmu sedangkan engkau tidak dapat melihatnya, ia memiliki banyak cara dan pengetahuan untuk merusak manusia.
Pengalaman iblis dalam merusak, menghalangi, memerangi manusia dan menimbulkan permusuhan lamanya mencapai ribuan tahun. Berapa banyak manusia mati dan dikubur dalam keadaan ia telah menjadi pengikut seruan setan dan merupakan hasil pengaruh kerusakan serta kesesatannya. Oleh karena itu rumah tangga muslim sangat membutuhkan penjagaan, membentenginya dan menjauhkannya dari setan yang terkutuk.

** Bagian 6
# Diantara Sifat Istri Sholihah : Membuat Senang Suaminya
Dan diantara sifat istri yang sholihah : Memberikan rasa senang kepada suaminya ketika suaminya memandang kepadanya, baik rupanya, penampilannya maupun bajunya, dan hendaklah ia membiasakan dirinya untuk taat kepadanya, dan memenuhi perintah-perintahnya tanpa rasa sombong, congkak dan tinggi hati. Perhatikanlah hadits nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam sunnan an-Nasa’i dari hadits Abu Hurairoh rodhiyallohu anhu, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam ditanya: “bagaimanakah istri yang baik itu?” Beliau menjawab :

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Yaitu istri yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, mentaati suaminya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya dengan sesuatu yang dibenci suaminya baik berkenaan dengan dirinya sendiri ataupun dengan hartanya.” [HR. an-Nasa’i dalam sunannya no. 3231 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1838]
Ini adalah sifat istri sholihah dari segi penampilan, rupa dan bentuk, ia menjaga penampilannya dengan penjagaan yang lebih di depan suaminya dan di setiap kehadirannya. Demikian juga memperhatikan perintah-perintahnya, keinginannya dan kebutuhannya.
Dan sangat disayangkan sekali banyak wanita tidak berhias kecuali jika ia hendak keluar dari rumahnya untuk menghadiri suatu acara, kumpul-kumpul dan lain sebagainya. Sedangkan terhadap apa-apa yang berkaitan dengan hak suaminya ketika suaminya masuk rumah, maka ia menemuinya dengan baju yang usang, bau yang tidak sedap, rambut yang kusut, dan dengan sifat-sifat yang membuat suami berpaling darinya. Akan tetapi tiba-tiba tiap kali keluar dari rumahnya ia ingin berhias dengan memakai perhiasan yang tidak ditampakkannya kepada suaminya. Maka keinginan yang manakah yang masih memenuhi hati suami yang dihadapkan pada sifat wanita ini?! Dan cinta yang manakah yang masih terjaga di sisinya jika ia melakukan perbuatan ini kepada suaminya?
Ini adalah diantara tanda-tanda kebodohan wanita dan sedikitnya akalnya dalam mewujudkan kesempurnaan kehidupan rumah tangga dan kemuliaannya.
Bersandar terhadap apa yang terjadi, banyak wanita yang meninggalkan kepatuhan dan tidak memenuhi permintaan suami, jenuh, marah dan mengeluh kepada suaminya atau kepada orang lain sehingga membuat kehidupan rumah tangganya sengsara, susah dan jadilah hal itu sebagai penjara bagi dirinya.
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam shohih muslim dari hadits Jabir rodhiyallohu anhu :

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوْقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

“Jika salah seorang dari kalian datang di malam hari maka janganlah dia mendatangi istrinya dengan tiba-tiba”, yaitu jangan datang dengan tiba-tiba di malam hari, mengapa? Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “sampai wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya berkesempatan untuk mencukur bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya yang acak-acakan.” [HR. Muslim no. 715]
Dan di dalam hadits ini ada hal mulia yang harus diperhatikan oleh kaum wanita, yaitu bahwa selayaknya ia menemui suaminya dengan kondisi yang bersih dan penampilan yang baik serta persiapan yang baik apalagi jika suaminya datang dari perjalanan jauh atau safar, maka seorang istri perlu mempersiapkan hal ini sampai dalam mengatur rumah dan mempersiapkannya.
Sebagaimana hadits dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallohu anha beliau berkata :

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ، وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ وَقَالَ: «أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ» قَالَتْ: فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam datang dari suatu perjalanan dan aku telah menutupi rak dengan sebuah kain tipis yang bergambar (makhluk bernyawa, pent). Ketika Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melihatnya beliau merobeknya, dan beliau berkata : Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi ciptaan Alloh.” Lalu Aisyah rodhiyallohu anha berkata : “lalu kain itu kami jadikan sebuah bantal atau dua buah bantal.” [HR. al-Bukhori no. 5954 dan Muslim no. 2107]
Mengapa Aisyah rodhiyallohu anhu meletakkan kain tipis ini – yaitu sebagai tirai? Karena ia ingin ketika Nabi shollallohu alaihi wa sallam masuk rumah, beliau mendapati di dalamnya sesuatu yang indah, baik pada rumahnya itu sendiri maupun pada diri istrinya.
Dari hadist ini dapat kita ambil sebuah faidah yaitu bahwa seharusnya bagi wanita untuk menata rumahnya dan mengaturnya serta mempersiapkannya dengan baik. Sebagaimana selayaknya baginya mempersiapkan diri dengan sempurna dan menyambut suaminya dengan baik. Ini semua adalah sifat-sifat bagi wanita dan istri yang sholihah yang datang dari sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Dan yang termasuk dalam hal ini juga adalah hadits yang terdapat dalam al-Mu’jam al-Ausath karya at-Thobroni, yaitu dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu anhu, bahwasanya Rosulululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita kalian di surga?”
yaitu istri yang akan menjadi penduduk surga disebabkan sifat-sifatnya yang mulia dan tabiatnya yang diberkahi, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيءَ إِلَيْهَا قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Yaitu setiap wanita yang penyayang lagi subur, jika ia marah atau suaminya marah kepadanya, ia berkata : “Ini tanganku kuletakkan di tanganmu, aku tidak akan memejamkan mata sebelum engkau ridho kepadaku” . [HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 1743 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3380]
Yaitu : aku tidak akan menutup mataku dan aku tidak akan tidur sampai engkau ridho kepadaku.
Dan sangat disayangkan, sebagian wanita tidak peduli suaminya tertidur sehari, dua hari, tiga hari, sepuluh hari ataupun sebulan dalam keadaan marah terhadapnya, seolah-olah hal tersebut tidak penting baginya! Seolah-olah ia tidak akan berjumpa dengan Alloh subhanahu wa ta’ala dan dihisab atas perkara ini dan perbuatannya ini.

** Bagian 7

# Diantara Sifat Istri Sholihah : al-Wadud al-Walud al-Muwasiyah al-Muwatiyah… apakah itu??
Dan diantara sifat wanita sholihah: sebagaimana disebutkan dalam hadits yang terdapat dalam Sunan al-Baihaqi dari Abu Udzainah ash-Shodafi, bahwa Rosululloh shollallohu alaihiwa sallam bersabda:

خَيْرُ نِسَائِكُمُ الوَدُودُ الوَلُودُ ، المُوَاسِيَةُ ، المُوَاتِيَةُ ، إذَا اتَّقَيْنَ اللهَ، وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ

“Sebaik-baik istri kalian adalah yang penyayang, subur (banyak anak), mendukung suami lagi penurut, bila mereka bertakwa kepada Allah. Dan sejelek-jelek istri kalian adalah wanita yang suka bertabarruj (bersolek) dan sombong, mereka itu adalah wanita-wanita munafik, mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurob al-a’shom (sejenis burung gagak yang langka, pent).” [HR. al-Baihaqi 7/82 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1849]
>> LIHATLAH SIFAT-SIFAT ISTRI SHOLIHAH BERIKUT INI!
@ Al-Wadud (الوَدُودُ)
Ini merupakan sifat yang mulia dan tabiat yang terpuji pada seorang wanita dan istri yang sholihah. Al-Wadud adalah yang disifati dengan penyayang dan memperlihatkan rasa sayangnya itu, dan orang yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah suaminya. Ia memperlihatkan rasa sayangnya kepada suaminya, mendampingi dan bergaul dengannya dengan bertutur-kata yang lembut dengan ucapan-ucapan yang manis, dan memperlihatkan rasa sayangnya dalam bermuamalah dengannya dalam penampilan dan tingkah lakunya.
Memperlihatkan rasa sayang itu bisa dengan ucapan, tingkah laku, penampilan, perbuatan dan akhlak.
@ Al-Walud (الوَلُودُ)
Yaitu banyak keturunan. Ini merupakan sifat yang baik pada seorang wanita yang baik. Jika seorang wanita diuji dengan suatu penyakit (mandul), maka perkara ini tidak memudhorotkannya karena hal ini tidak hanya terjadi pada dirinya saja, oleh karena itu janganlah ia menyalahkan Alloh karena penyakit ini dan hal seperti ini tidaklah menafikan kebaikannya.
Adapun kalau sebenarnya ia seorang wanita yang subur namun ia menolak punya anak atau ingin memutus keturunan maka ini bisa berbahaya baginya. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

تزوجوا الودود الولود فاني مكاثر بكم الأمم

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku pada hari kiamat.” [HR. Ahmad no. 12613 dari hadits Anas rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1784]
Maka seharusnya seorang wanita itu berusaha untuk memiliki anak-anak, melakukan sebab-sebab agar bisa punya anak, kemudian berusaha mendidik, menumbuhkan dan mengasuh mereka, serta meniatkan agar hal ini bisa menjadi sebab adanya anak-anak sholeh dan penyeru-penyeru kepada kebaikan di tengah-tengah masyarakat. Dan hendaknya ia meniatkannya sejak awal ia memasuki jenjang pernikahan, seolah-olah ia berkata antara dirinya dengan Alloh:
“semoga saja Alloh memuliakanku dengan anak-anak yang kelak menjadi bagian dari ummat yang mendapatkan petunjuk, ulama muslimin, atau termasuk dari penyeru kepada kebaikan”,
Sehingga dituliskanlah baginya pahala yang besar dikarenakan niat yang baik ini serta usaha dan kesungguhannya.
@ Al-Muwatiyah (المُوَاتِيَةُ)
Yaitu yang tidak kasar dan keras, bahkan ia penurut, mau mendengarkan, mentaatinya, memenuhi permintaannya dan tidak bersikap sombong dan merasa tinggi terhadap suami, serta tidak bersikap durhaka kepada suami.
@ Al-Muwasiyah (المُوَاسِيَةُ)
Yaitu yang suka membantu suaminya dan berdiri di sisinya, mendukung suaminya untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Alloh, dan mendukungnya dalam apa-apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.
@ Jika mereka bertakwa kepada Alloh
Yakni sifat-sifat tadi hanya bermanfaat bagi seorang wanita jika ia bertakwa kepada Alloh jalla wa ‘ala. Jadi seandainya ia adalah wanita yang penyayang, subur, penurut dan mendukung suaminya akan tetapi yang ia cari hanya sekedar urusan duniawi saja dan bukan karena ketakwaan kepada Alloh, maka sifat-sifat tersebut tidak ada faidah dan manfaat baginya. Jadi sifat-sifat ini hanya bermanfaat baginya jika ia niatkan untuk mendapatkan ridho Alloh jalla wa ‘ala dan untuk melaksanakan ketakwaan kepada-Nya.

Pengkhianatan Syiah Sepanjang Sejarah

Sejarah adalah kumpulan peristiwa masa lalu yang merupakan gudang informasi tentang segala hal positif maupun negatif. Kekayaan sejarah menjadi asset umat manusia untuk belajar banyak hal tentang kehidupan. Maju dan mundurnya suatu bangsa atau peradaban sangat bergantung sejauh mana sejarah itu digali. Megahnya bangunan sejarah karena ada perancang dan pelaksananya. Robohnya bangunan sejarah karena ada penghancurnya, baik internal maupun eksternal.

Demikian pulalah yang terjadi pada sejarah peradaban Islam. Sejarah Islam telah ditulis dan dibukukan oleh sejarawan muslim dan non muslim. Di antaranya adalah buku History of Civilization karya Will Durant, Tarikhul Umam wal Muluk karya Ath-Thabari, Tarikhul Islam karya Adz-Dzahabi, dll. Penulisan sejarah lebih banyak bersifat pemaparan kronologis dan sedikit yang bersifat analitis seperti kitab Marwiyat Abi Mukhnaf fi Taarikh Thabari karya Dr. Yahya Ibrahim Yahya atau Khuqbatun minat Tarikh karya Utsman Khamis. Adapun manipulasi sejarah ternyata yang paling banyak melakukannya adalah kaum Syiah terutama oleh Al-Mas’udi dalam kitab Muruujudz Dzahab, Abu Mukhnaf dan Saif bin Umar dalam riwayat-riwayat Ath Thabari dan sebagainya.

Sebelum memaparkan peristiwa-peristiwa pengkhianatan Syiah sepanjang sejarah, ada baiknya menjawab pertanyaan penting: Mengapa tokoh Syiah suka berkhianat? DR. Imad Ali Abdus Sami’ memaparkan panjang lebar dalam bukunya “Pengkhianatan-Pengkhianatan Syiah” Tetapi intinya bahwa selain pengikut Syiah kafir karena itu halal darahnya. Hal itu besumber dari akidah mereka. Sekedar contoh saya bawakan dua riwayat dalam kitab utama mereka.

الأصول من الكافي/ محمد بن يعقوب الكليني ج. 2 ص. 409 -410:
1- عن أبي عبد الله قال: أهل الشام شر من أهل الروم و أهل المدينة شر من أهل مكة و أهل مكة يكفرون بالله جهرة
2- عن سماعة عن أبي بصير عن أحدهما عليهما السلام: إن أهل المكة يكفرون بالله جهرة وإن أهل المدينة أخبث من أهل مكة، أخبث منهم سبعين ضعفا.

“Buku Al-Ushul minal Kaafi, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini, Juz. 2, hlm. 409-410:

1. Dari Abi Abdillah berkata, “Penduduk Syam lebih buruk daripada penduduk Romawi dan penduduk Madinah lebih buruk daripada penduduk Makkah dan penduduk Makkah kafir kepada Allah secara terang-terangan.

2. Dari Sama’ah dari Abi Bashir dari salah satu keduanya ‘alaihis salam berkata, “Sesungguhnya penduduk Mekkah mengkafiri Allah secara nyata dan penduduk Madinah lebih buruk daripada penduduk Mekkah, lebih buruk daripada mereka tujuh puluh kali lipat.”
Bahasan kita kali ini adalah sejarah tentang pengkhianatan Syiah agar kita bisa mengambil pelajaran dan tidak lengah.

Sejarah Pengkhianatan Syiah

Pertama, pengkhianatan yang dilakukan oleh Abu Lu’luah Al-Majusi dengan membunuh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Kaum Syiah menjulukinya dengan “Baba Syujauddin”(sang pembela agama yang gagah berani). Kuburannya di Iran dikunjungi dan dihormati oleh kaum Syiah. Bahkan para ulama syiah berdoa, “Ya Allah kumpulkan kami di akherat kelak bersama Abu Lu’lulah”. Dr. Akram Dhiya’ Al Umari mengkisahkan:

و قد غلبت الدولة الإسلامية في عهده (أي عمر بن الخطاب) الفرس و الروم و حررت الهلال الخصيب و مصر و مصرت الكوفة و البصرة و الفسطاط و مازالت في صعود و امتداد حتى إغتاله أبو لؤلؤة المجوسى غلام المغيرة بن شعبة و هو يؤم المسلمين في صلاة الفجر ليلة الأربعاء ليال بقين من ذي الحجة سنة 23 للهجرة بعد خلافة دامت عشر سنين و ستة أشهر

“Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam berhasil menaklukan Persia, Romawi, Bulan Sabit Subur(fortile caesent) (Mesopotamia, Suriah-Palestina) dan Mesir. Umat Islam juga berhasil menjadikan Kufah, Bashrah dan Fusthat sebagai pusat kota. Demikianlah, Islam terus berekspansi sampai akhirnya Khalifah Umar dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah Al-Majusi, budak dari Mughirah bin Syu’bah, ketika beliau sedang mengimami shalat shubuh pada malam Rabu bulan Dzulhijjah tahun ke-23 hijriah. Khalifah meninggal setelah memerintah selama 10 tahun 6 bulan.”

Kedua, pengkhianatan Abdullah bin Saba’. Ia adalah orang yang pertama kali mendirikan Syiah. Para ulama syiah, sebagaimana dikatakan oleh mantan tokoh Syiah Sayyid Husen Al Musawi dalam bukunya Lillah tsumma Lit Tarikh, mengakui bahwa Abdullah bin Saba’ adalah pendiri syiah. Pengakuan ini ada dalam lebih dari 20 buku referensi Syiah. Abdullah bin Saba’ adalah Yahudi yang berpura-pura masuk Islam dan menebarkan fitnah di kalangan masyarakat awam agar memberontak kepada Khalifah Utsman bin Affan pada tahun ke-34 hijriah. Satu tahun kemudian, yaitu pada tahun ke-35 hijriah, ribuan orang dengan alasan melaksanakan haji, datang ke Madinah dan mengepung rumah Utsman bin Affan selama 40 hari dan melarang shalat di masjid. Sampai akhirnya mereka membunuh Khalifah Utsman.

Ketiga: pengkhianatan pengikut Syiah dengan membunuh Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain. Ketika Hasan dan Husain akan pergi ke Khufah, Muhammad bin Ali bin Abi Thalib menasehatinya agar tidak pergi ke Kufah dengan berkata, ”

يا أخي أن أهل الكوفة قد عرفت غدرهم بأبيك و أخيك و قد خفت أن يكون حالك كحال من مضى (اللهوف لإبن طاوس ص 39 و عاشورا للإحساء ص. 110)

“Saudaraku, engkau telah mengetahui bahwa penduduk Kufah mengkhianati Ayahmu dan Saudaramu. Saya takut keadaanmu akan seperti keadaan orang-orang yang telah berlalu(pergi ke Kufah).” (Al-Luhuf, Ibnu Thawus hlm 39, dan Asyura, Al-Ihsa, hlm. 110).

Dalam kitab Man Qatala Husain(Siapa pembunuh Husain)karangan Abdullah bin Abdul Aziz dipaparkan secara rinci siapa yang sebenarnya membunuh Sayyidina Husain. Bahwa, ternyata pembunuhnya adalah orang Syiah sendiri yaitu Sanan bin Anas An-Nakhai dan Syammar bin Dzil Jusyan yang dipimpin oleh Ubaidillah bin Ziyad.

Dalam kitab Taarikh Abil Fida’ Al Musamma Al-Mukhtashar fi Akhbaril Basyar Juz 1 hlm. 265 jelas sekali kronologis terbunuhnya Imam Husain oleh kaum Syiah sendiri yang dipimpin oleh Ubaidillah bin Ziyad yang sebelumnya merupakan tentara di pasukan Ali bin Abi Thalib (148 H – 193 H/786 M – 842 M).

Keempat, pengkhianatan Alib bin Yaqtin pada masa Harun Al-Rasyid yang telah merobohkan penjara yang dihuni oleh 500 narapidana kemudian dia mengirim surat kepada Imam Al-Kadzim menanyakan hal itu dan dijawab bila kamu bertanya sebelum peristiwa itu terjadi maka darah mereka tidak masalah (tidak berdosa) tetapi karena kamu bertanya setelah terjadi maka kamu harus bayar kaffarah setiap yang terbunuh dengan seekor kambing jantan. (Hakikatus Syiah, hlm. 55).

Kelima, Pengkhianatan Khalifah Abbasiyah yaitu An-Nashir Lidinillah.

Ibnu Katsir berkata:
كان قبيح السيرة في رعيته ظالمًا لهم، فخرب في أيام العراق وتفرق أهله في البلاد، وكان يفعل الشيء وضده.. وكان اعتنق المذهب الشيعي.. ويقال كان بينه وبين التتر مراسلات حتى أطمعهم في البلاد، وهذه طامة صغرى عندها كل ذنب عظيم
(البداية و النهاية لإبن كثير ج 13 ص. 106 – 107 بتصرف)

“Nashir Lidinillah memiliki perilaku buruk terhadap rakyatnya dan mendhaliminya. Ia menghancurkan dan memisahkan keluarganya ketika berada di Irak. Ia berbuat sesuatu dan kebalikannya. Ia menganut madzhab Syiah. Dikatakan bahwa antara dirinya dengan Tatar terjadi surat menyurat agar ia tertarik ke negaranya. Ini adalah bencana kecil, baginya setiap dosa besar terjadi.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Juz 13 hlm. 106 – 107).

Keenam, Dinasti Fathimiyah di Mesir sejak tahun 301 H – 567 H adalah pemerintahan Syiah yang memaksakan ajaran Syiah kepada penduduk Ahlus Sunah dengan berbagai cara. Dan yang lebih pahit dari itu bekerja sama dengan tentara Salib untuk membantai umat Islam Ahlus Sunnah yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Saljuk yang sunni.

Dr. Yusuf Ghawanimah menukil sejarah, “Bahwa pengepungan kaum Salibis terhadap Anthokia menyenangkan hati Al-Afdhal(pemimpin Dinasti Fathimiyah saat itu) dan menganggap kekalahan Dinasti Turki Saljuk(yang sunni) berarti kemenangan baginya.

Ketujuh, Pengkhianatan menteri Syiah Muhammad bin Al-Qami dan Nashiruddin Ath-Thusi pada pemerintahan Al-Mu’tashim Billah pada tahun 656 H bekerja sama dengan Tatar yang dipimpin oleh Hulako Khan dengan pasukan berjumlah 200 ribu dan mengepung Baghdad serta membantai kaum muslimin baik laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak dan jumlahnya tidak ada yang tahu kecuali Allah(lihat: Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir).

Pada tahun 658 H Tatar bersama komandannya yaitu Hulako Khan mengepung Syam dan membantai penduduknya dan dibiarkan selamat dua ulama Syiah yaitu Kamaluddin At-Taflisi dan Muhammad bin Yusuf Al Kanji karena mereka bekerja sama dengan Tatar.

Kedelapan, Pengkhianatan Dinasti Shofawi di Persia tahun 1447 M – 1736 M. Dr. Badri Yatim, M.A. menyebutkan, “Ketika kerajaan Usmani sudah mencapai puncak kemajuannya kerajaan Sofawi di Persia baru berdiri, kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya, kerajaan Sofawi sering bentrok (baca perang) dengan Turki Usmani (Sunni). Bahkan kerajaan Mughal di India tersusupi menteri Syiah bernama Bairam Khan.

Kesembilan, Pengkhianatan Khomeini berdasarkan penuturan DR. Musa Al-Musawi, “Mendiang telah memimpin Iran selama 10 tahun dengan api dan besi dan telah menggantung oposisinya sebanyak 150.000 orang, mengusir 3 juta orang, membungkam kebebasan 50 juta warga Syiah dalam ranah politik, pemikiran, dan sosial, menimbulkan kemiskinan yang tidak ada taranya, menyebabkan perang dengan Irak dan memakan korban sekitar satu juta orang, dan 100 ribu orang Syiah dipenjara.

Kesepuluh, Pengkhianatan organisasi amal yang melahirkan “Hizbullah” dengan membantai warga Palestina Sunni sebanyak 3100 antara yang terbunuh dan terluka pada tanggal 20 Mei 1985 sampai 18 Juni 1985. Begitu pula pembantaian Syiah Irak bekerja sama dengan tentara Amerika. DR. Harits Adh-Dhori melaporkan jumlah Ahlus Sunah Irak yang terbunuh mencapai 200 ribu orang, 100 ribu dibunuh Syiah dan 100 ribu lainnya dibunuh oleh tentara Amerika. Kaum Syiah ketika membunuh ulama dan para khatib ahlus sunah dengan cara sadis memotong-motong anggota tubuh dan mencongkel mata dengan besi panas sebelum dibunuh. Bahkan para pembesar Iran di Qum dan Bashrah menyatakan kalau tidak karena Syiah Kabul dan Baghdad tidak akan jatuh.

Kesebelas, pengkhianatan Syiah di Bahrain, Yaman, Saudi Arabia, Pakistan, dan lain-lain adalah bukti nyata dari kekejaman Syiah. Apakah kita akan menunggu mereka beraksi di Asia Tenggara terutama Malaysia dan Indonesia?

Keduabelas, kerja sama Iran, Amerika, dan Zionis Israel dalam jual beli senjata yang terkenal dengan “Iran Gate”. Bahkan kitab مواقف العلماء و المفكرين من الشيعة الإثنا عشرية / إعداد موقع الراصد menyebutkan 13 dokumen jual beli senjata antara Iran dan Israel.

Masihkan kita tertipu? Wallahu A’lam.

Sumber Disini

Cara Misionaris Syiah Menjerat Manusia!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Cara-cara misionaris Syiah (Rafidhah) dalam menjerat manusia, agar mengikuti ajaran mereka; tak ubahnya seperti cara-cara misionaris Kristen. Mereka ini wajib dihadapi, diwaspadai, ditangkal, dan dihentikan aksi-aksi misionarisasinya. Kaum Muslimin bisa kufur kalau secara sadar mengikuti akidah mereka.

Apakah ajaran Syiah (Rafidhah) sedemikian sesat sehingga bisa menimbulkan kekufuran bagi mereka yang mengikutinya?

Banyak segi dalam ajaran Syiah itu yang bisa membuat para penganutnya kufur dari jalan Islam, antara lain:

    (1) Melaknat para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum, khususnya Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, dan lain-lain. Perbuatan melaknat ini kekufuran, sebab Allah Ta’ala sudah ridha kepada para Shahabat (At Taubah: 100).

    (2) Meyakini bahwa isteri-isteri Nabi, Radhiyallahu ‘anhunna, bukan termasuk Ahlul Bait Nabi. Dalam Surat Al Ahzab ayat 33 jelas-jelas disebutkan bahwa isteri-isteri Nabi adalah Ahlul Bait beliau. Allah mengakui mereka sebagai Ahlul Bait Nabi, tetapi kaum Syiah tak mengakui. Hebat betul.

    (3) Meyakini bahwa Kitab Suci Al Qur’an sudah diubah oleh para Shahabat, sehingga Al Qur’an di sisi kita selama ini dianggap palsu. Ini adalah tuduhan sangat jahat dan keji. Keyakinan ini bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah akan selalu menjaga Al Qur’an.

    (4) Meyakini bahwa Imam-imam Syiah adalah manusia ma’shum, terjaga dari kesalahan, kata-kata mereka merupakan dasar hukum agama. Hal ini sama saja dengan meyakini, bahwa ada syariat baru yang diturunkan Allah setelah sempurnanya Syariat Islam. Jelas ini bertentangan dengan Al Maa’idah ayat 3. Bahkan ia seperti keyakinan Ahmadiyyah yang meyakini ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad Shalallah ‘Alaihi Wasallam.

    (5) Meyakini bahwa Imam-imam Syiah memiliki sifat rububiyyah (ketuhanan) yang sebenarnya hanya layak menjadi sifat Allah Ta’ala. Ini adalah akidah kemusyrikan yang jelas-jelas bertentangan dengan TAUHID.

    (6) Meyakini akidah Bada’, yaitu selalu muncul ilmu-ilmu baru yang sebelumnya belum diketahui oleh Allah Ta’ala. Dengan akidah ini, kaum Syiah bisa menampung ajaran apapun, sekalipun kekufuran yang amat sangat kufur. Karena ia dilegitimasi dengan pemikiran, “Selalu muncul ilmu Allah yang baru. Hal-hal baru, kalau menarik, boleh diambil.” Keyakinan ini sama saja dengan membuang Syariat Islam dari dasar-dasarnya.

    (7) Melegalkan perzinahan melalui praktik Nikah Mut’ah. Pelaku nikah mut’ah kalau melakukan perbuatan itu karena dorongan nafsu, dengan tetap meyakini bahwa perbuatan itu haram (telah diharamkan oleh Nabi), maka masih mungkin dia akan diampuni Allah Al Ghafuur. Tetapi kaum Syiah mengklaim, nikah mut’ah itu amal shalih yang besar pahalanya. Hal ini sama saja dengan “al istihlal bi maa haramallahu bihi” (menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah). Sikap demikian termasuk jenis kekufuran.

    (8) Meyakini bahwa kaum Ahlus Sunnah halal darahnya, halal hartanya, halal kehormatannya; ini adalah keyakinan bathil yang mewajibkan para penganutnya terkena hukum kekufuran. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kullu muslim ‘alal muslim haramun ‘irdhuhu wa maaluhu wa damuhu” (setiap Muslim atas Muslim lainnya, diharamkan kehormatan, harta, dan darahnya). [HR. At Tirmidzi].

Dengan keyakinan-keyakinan seperti di atas, maka gerakan misionaris Syiah SERUPA belaka dengan gerakan Kristenisasi. Kalau mereka berhasil memasukkan seorang Muslim ke dalam kelompoknya, itu sama seperti telah berhasil memurtadkan dia.

Disini kita perlu mengenali cara-cara kerja misionaris Syiah Rafidhah, agar kita bisa mewaspadai, menghindari, atau mematahkan cara-cara licik mereka. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon ‘afiyat dan salamah. Amin.

Berikut ini cara-cara yang biasa dilakukan misionaris Syiah Rafidhah untuk menjerat manusia, antara lain:

[1]. Mereka mula-mula akan melihat calon target yang akan mereka dakwahi. Target ini bisa dikelompokkan dalam jenis: ‘alim, pertengahan, awam. Orang alim dianggap “klas A”, orang pertengahan dianggap “klas B”, dan orang awam dianggap “klas C”. Untuk masing-masing target berbeda pola dakwahnya.

[2]. Bagi orang ‘alim, misionaris Syiah akan mulai menanamkan keraguan terhadap hadits-hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Mereka akan berlagak ilmiah. Tujuannya, akan menanamkan keraguan terhadap hadits-hadits Nabi. Bagi orang pertengahan, mereka akan kemukakan hadits seputar “pentingnya mempunyai imam”. Mereka akan mengeluarkan hadits, “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbaiat kepada seorang imam, maka matinya mati jahiliyyah.” Nanti, tafsir imam itu akan mereka arahkan untuk mengimani imam-imam Syiah (termasuk Khomeini). Bagi orang awam, mereka akan masuk dari cerita-cerita seputar penderitaan Husein bin Ali di Karbala, cerita seputar Hasan bin Ali, juga cerita seputar “Ali yang dizhalimi”.

[3]. Untuk memantapkan keyakinan kepada ajaran Syiah, mereka akan mengemukakan tentang hadits “Ghadir Khum”. Ini standar sekali. Misionaris Syiah akan mengklaim, bahwa dulu waktu Nabi menjelang wafat, beliau menyampaikan pesan, agar kaum Muslimin sepeninggal beliau selalu berpegang kepada Kitabullah dan Ahli Bait beliau (Ali, Fathimah, Hasan, Husein, dan lainnya). Menurut penelitian Prof. Dr. Ali Ahmad As Salus (penulis kitab monumental Ensiklopedi Sunnah-Syiah), tidak ada satu pun hadits seputar Ghadir Khum ini yang shahih. Rata-rata lemah atau palsu. Justru beliau menguatkan hadits Nabi, bahwa kaum Muslimin akan senantiasa selamat dan lurus, selama berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi. Melalui hadits “Ghadir Khum” itu, kaum Syiah mulai membangun rasa kekaguman, penghambaan, kehinaan diri, di hadapan sosok-sosok Ahlul Bait. Nah,praktik penyembahan Ahlul Bait dimulai dari sini.

[4]. Misionaris Syiah akan menangkal kemungkinan para pengikutnya untuk lari dari ajaran Syiah, dengan cara mengajak mereka terjerumus dalam praktik “kawin kontrak” alias nikah mut’ah. Baik laki-laki maupun perempuan akan didorong untuk melakukan nikah mut’ah. Kalau tak mau, akan dipaksa-paksa supaya mau. Kalau seseorang sudah sekali saja pernah merasakan nikah mut’ah, misionaris Syiah akan sujud syukur. Satu sisi, kalau ada pemuda/pemudi yang melakukan nikah mut’ah, dia akan terdorong untuk “lagi dong”. Kalau sudah sering, maka tidak akan ada “jalan pulang” bagi manusia-manusia malang itu. Nikah mut’ah bukan hanya sebuah keyakinan sesat, tetapi juga merupakan metode untuk menjerat pengikut agar tidak berani keluar dari kelompok mereka. Kalau ada yang berani keluar, akan ditakut-takuti, “Awas lho ya, kamu sudah melakukan ML dengan si anu dan si anu. Kalau kamu keluar dari Syiah, akan kami bongkar kedok kamu!” Dengan ancaman itu, para pengikut Syiah tersebut menjadi ketakutan.

[5]. Untuk menyempurnakan keikut-sertaan seseorang pada paham Syiah, mereka akan diberi pendalaman, misalnya berupa ajaran TASAWUF, ritual menyiksa diri, ritual mengutuk Shahabat, doktrin permusuhan kepada Ahlus Sunnah, pentingnya dakwah menyebarkan ajaran Syiah Rafidhah, dan lain-lain. Ini sudah stadium kronis. Bahkan kalau ada pemeluk Syiah yang ketahuan terkena penyakit kelamin atau HIV, hal itu harus ditutupi serapat-rapatnya.

[6]. Selain cara di atas, misionaris Syiah juga menggaet manusia melalui peluang kerja, mengisi posisi jabatan penting, memberi proyek, peluang bisnis, memberi beasiswa ke Iran, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga melakukan gerakan penyusupan kemana-mana. Mereka masuk ke MUI, ormas Islam (seperti Said Aqil Siradj di NU), masuk ICMI, Republika, masuk UIN, lembaga pendidikan Islam, partai politik (seperti PAN), komunitas ini itu, dsb.

Begitulah cara-cara yang kerap dipakai oleh misionaris Syiah untuk meruntuhkan akidah Islam, lalu membawa Ummat murtad dengan meyakini keyakinan bathil mereka. Para misionaris Syiah sebenarnya bisa dikenali dari wajah mereka yang tampak berbeda, sebagai hasil dari kebiasaan berdusta, berzina (nikah mut’ah), dan mengutuk Shahabat. Tetapi di mata orang biasa, hal ini agak sulit dikenali.

Semoga apa yang ditulis ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari bahaya kaum Syiah Rafidhah, sebab bahaya mereka tak berbeda jauh dengan bahasa misionaris Kristen. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, fid dini wad dunya wal akhirah. Allahumma amin.

Sumber Disini

SETAN MENJADI “ORANG” KEEMPAT

   Abu ‘Abdillah menceritakan: “Aku tidak tahu bagaimana aku menceritakan kisah yang pernah kujalani selama beberapa waktu ini. Kisah yang telah mengubah seluruh perjalanan hidupku. Sebenarnya aku belum memutuskan untuk membeberkannya, kecuali karena adanya rasa tanggung jawab dalam diriku pada Allah ‘azza wa jalla untuk mengingatkan para pemuda yang selalu mendurhakai Tuhannya, para pemudi yang selalu mengejar sebuah angan-angan dusta atas nama cinta…

   Dahulu kami adalah tiga orang bersahabat. Kami disatukan oleh hobi bersenang-senang. Oh tidak, bukan bertiga, tapi empat orang…. karena yang keempat adalah syetan…

   Suatu waktu, kami pergi untuk “berburu” gadis-gadis yang bisa digoda dengan ucapan semanis madu. Kami akan merayu  mereka perlahan-lahan hingga mereka mau ikut ke kebun-kebun kurma yang jauh ke pinggir kota. Dan disana, mereka akan terkejut bahwa ternyata kami telah berubah menjadi sekumpulan srigala yang tak mengenal belas kasih…

   Begitulah kami melewati hari-hari kami di kebun-kebun itu, ditempat-tempat berlibur bahkan didalam mobil di tepian laut. Hingga akhirnya datang suatu hari yang tidak mungkin aku lupakan…

   Seperti biasa, kami pergi ke sebuah kebun. Dan semuanya telap siap. Masing-masing kami sudah memilik calon korbannya, dan tentu saja ditemani minuman penuh laknat itu. Satu-satunya yang kami lupa adalah makanan. Karena itu, selang beberapa waktu kemudian, seorang dari kami pergi untuk membeli makan malam dengan menggunakan mobilnya. Saat itu kurang lebih jam enam sore. Berjam-jam telah berlalu dan ia tak kunjung datang. Pada pukul sepuluh malam, aku merasa gelisah dan khawatir. Maka aku segera meluncur untuk mencarinya. Dan di jalan, ketika aku dalam perjalan pulang, aku terkejut karena ternyata ada mobil temanku yang telah diselimuti api dalam keadaan terbalik…

   Aku segera mendatanginya seperti orang gila. Aku berusaha mengeluarkannya dari mobil yang menyala-nyala itu. Dan aku tidak sadar ketika aku menemukan setengah dari jasadnya telah hangs. Namun ia masih hidup. Aku pun memindahkannya ke tanah. Beberapa menit kemudian, ia membuka kedua matanya dan berbicara: “Api…. Api…”

   Maka aku putuskan untuk membawanya dengan mobilku. Secepat mungkin aku membawanya ke rumah sakit.

   “Tidak ada gunanya… aku tidak akan sampai…” bisiknya lirih dengan suara tangis.

   Air mata mengalir dari mataku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kawanku meninggal dunia di depanku. Aku tiba-tiba dikejutkan oleh teriakannya: “Apa yang akan aku katakan pada-Nya? Apa yang akan aku katakan pada-Nya?”

   “Dia siapa?” tanyaku.

   “Allah….,” jawabnya dengan suara seakan ia baru saja datang dari sumur yang dalam.

   Aku merasakan tubuh dan perasaanku bergetar hebat. Dan tiba-tiba temanku itu mengerang keras dan melepaskan nafas terakhirnya…

   Hari-hari berlalu, namun gambaran kawanku yang telah pergi itu selalu kembali dan kembali hadir dikepalaku. Ketika ia berteriak saat api melahapnya, “Apa yang akan aku katakan pada-Nya? Apa yang akan aku katakan pada-Nya?”

   Air mataku mengalir. Aku diliputi rasa takut yang aneh. Dan pada saat yang sama, muadzin mengumandangkan adzan Shubuh:
  Allahu akbar, Allahu akbar…
  Hayya ‘ala-shshalah...

   Aku merasa bahwa ini adalah panggilan yang khusus ditujukan untukku, untuk memanggilku ke jalan cahaya dan petunjuk. Maka aku segera mandi, berwudhu dan mensucikan diriku dari kotoran yang selama bertahun-tahun lamanya aku tenggelam di dalamnya. Hari itu, aku menunaikan sholat. Dan sejak hari itu, aku tidak pernah meninggalkan satu pun kewajiban itu…

   Aku memuji Allah yang tidak ada yang patut dipuji selain Dia. Aku telah menjadi seorang manusia yang berbeda. Dan dengan izin Allah, aku bersiap-siao untuk menunaikan ibadah umroh dan juga ibadah haji, insyaAllah. Sebab siapa yang tahu? umur itu ditangan Allah….

   Demikianlah kisah pertaubatan Abu ‘Abdillah – semoga Allah meneguhkan kita dan dia -. Dan tidak ada pesan yang kita sampaikan kepada para pemuda selain pesan: Hati-hati dan waspadalah terhadap kawan-kawan yang “menolong”mu untuk mendurhakai Allah. Kisah Abu ‘Abdillah ini mengandung pelajaran yang luar biasa. Maka apakah ada yang ingin mengambil pelajaran?

Taken from Chicken Soup for Muslim, 159-163

KISAH SEORANG PEROKOK

   Sepuluh tahun yang lalu, aku menikah dengan seorang pemuda perokok tanpa kuketahui bahwa ia merokok. Meskipun ia adalah orang yang berwawasan dan memiliki perilaku yang baik. Ia juga menjaga shalatnya, yang membuatku mencintainya. Hanya saja aku telah merasakan siksaan yang luar biasa akibat kebiasaan merokoknya. Baunya yang busuk menyebar ditubuh dan pakaiannya. Aku berusaha agar ia dapat meninggalkan kebiasaan buruk itu, dan ia selalu berjanji padaku. Namun ia selalu saja menunda dan menunda…

   Kondisi ini terus berlanjut hingga aku semakin jengkel. Ia merokok dimana saja; di mobil dan di setiap tempat. Sampai aku berfikir untuk meminta cerai karena kebiasaan merokoknya.

   Beberapa bulan kemudian, Allah mengaruniakan seorang anak untukku; suatu hal yang kemudian menghalangiku untuk meminta cerai. Anak kami menderita penyakit paru-paru. Dokter mengatakan bahwa penyebabnya adalah kebiasaan orang di sekitarnya, terutama ayahnya yang merokok disampingnya. Tapi suamiku tak kunjung berhenti dari kebiasaan merokoknya.

   Pada suatu malam aku bangun dari tidurku karena suara batuk anakku yang begitu keras akibat paru-parunya. Aku bangun menangisi keadaannya dan juga keadaanku. Aku akhirnya bertekad untuk mengakhiri masalah ini apapun harga yang harus kubayar. Tapi sebuah suara dari dalam diriku tiba-tiba mengatakan: “Mengapa engkau tak kembali kepada Allah??”

   Aku pun berdiri dan berwudhu. Aku mengerjakan shalat. Aku berdoa kepada Allah agar menolongku atas musibah dan memberikan hidayah kepada suamiku untuk meninggalkan kebiasaan merokoknya…

   Aku putuskan untuk menunggunya.

   Pada suatu malam, kami pergi menjenguk seorang kerabat kami yang sakit di rumah sakit. Setelah kami keluar dari membesuknya dan saat kami menuju ke tempat parkir mobil, suamiku mulai lagi merokok. Aku pun mengulangi doaku malam itu. Dan tidak jauh dari mobil kami, aku melihat seorang dokter yang mencari mobilnya di tempat parkir itu. Tiba-tiba, ia mendekati suamiku dan berkata :

   “Saudaraku, saya sejak jam 07.00 pagi ini bersama suatu tim dokter berusaha menyelamatkan hidup seorang korban batang korban rokok yang terlaknat ini karena penyakit kanker paru-paru! Dia masih muda sebaya dengan anda, dan ia punya seorang istri dan beberapa anak!

   Andai engkau bisa ikut denganku sekarang untuk melihat bagaimana penderitaannya akibat penyakit itu. Andai engkau kondiisi anak dan istrinya yang masih muda di dekatnya. Andai engkau dapat merasakan air mata mereka ketika setiap waktu mereka bertanya tentang kondisi ayah mereka. Andai engkau merasakan apa yang juga ia rasakan ketika berada dalam ruangan ICU, ketika ia melihat anak-anaknya menangis, engkau akan melihat air matanya mengalir di dalam masker oksigen yang ia kenakan…

    Aku akhirnya mengijinkan anak-anaknya untuk menjenguknya karena aku tahu melalui pengalamanku bahwa dalam beberapa jam lagi ia akan meninggal kecuali jika Allah menghendaki lain. Kemudian andai saja engkau tahu bagaimana ia menangis seperti anak-anak karena menyadari betapa kritis kondisinya dan bahwa ia akan mengucapkan selamat tinggal untuk menuju negeri akhirat! Apakah engkau mau seperti dia dulu untuk merasakan bahaya rokok? Wahai saudaraku, apakah engkau masih punya hati? Bukankah engkau punya anak dan istri? Kepada siapa engkau akan meninggalkan mereka? Apakah mereka tidak lebih berharga dari sebatang rokok yang tidak ada gunanya sedikitpun kecuali menyebabkan penyakit…”

   Aku dan suamiku mendengarkan kalimat-kalimat itu. Dan tidak lama kemudian, suamiku segera membuang rokoknya. Kemudian dokter yang baik itu mengatakan padanya : “Jangan sampai itu hanya basa-basi. Seriuslah dan bertekadlah sungguh-sungguh untuk meninggalkannya, maka engkau akan melihat kehidupan dan kebahagiaan!”

   Ia kemudian pergi ke mobilnya. Lalu suamiku membuka pintu mobil, aku kemudian menghempaskan tubuhku ke kursi dan tiba-tiba tangisanku meledak. Aku tidak mampu menutupi perasaanku, aku tidak bisa menguasai diriku. Dan aku terus menangis seakan akulah istri pria malang yang tidak lama lagi meninggal itu…

   Adapun suamiku, ia hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa menghidupkan mobilnya kecuali beberapa saat kemudian. Ia berterima kasih kepada dokter yang baik itu. “Betapa baiknya dokter itu…”

   Malam itu menjadi akhir kisahnya bersama kebiasaan merokoknya. Aku juga ikut memuji dan berterima kasih kepada dokter yang baik itu. Aku mendoakannya disetiap sholatku. Sejak hari itu, kehidupan kami menjadi begitu cerah. Dan aku akan terus mendoakannya…

   Dari kejadian ini, aku belajar tentang kekuatan sebuah doa untuk mengubah suatu kondisi. Aku belajar tentang kekuatan kesabaran. Aku belajar bahwa Allah akan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Aku juga telah belajar tentang keikhlasan dari sang dokter yang telah memainkan perannya dengan baik di tempat parkir mobil itu.

   Menurut Anda semua, jika setiap orang menjalankan pekerjaannya dengan keikhlasan seperti ini, berapa banyak masalah yang akan terselesaikan? Berapa banyak kemungkaran yang akan hilang? Tapi masalahnya adalah bahwa kebanyakan dokter, guru, dan pegawai melakukan pekerjaan mereka hanya demi gaji saja. Ini yang menyebabkan kemunduran dan kelemahan kita dalam kedokteran dan pendidikan. Dan ini juga yang menyebabkan kesalahan itu terus bertumpuk-tumpuk.

Inspired by Chicken Soup for Muslim 149-154, by Ahmad Salim Baduwailan

destiny

Sudah Ada Takdir, Lalu Untuk Apa Beramal?

Pertanyaan:

Apakah Allah sudah menentukan orang-orang mana yang masuk surga atau masuk neraka sebelum dilahirkan seperti takdir mati, rezeki dan sebagainya yang dicatat dalam Kitab Lauh Mahfudz?

Lalu manusia ikhtiarnya harus bagaimana?

Jawaban:
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Benar, Allah Ta’ala telah menentukan takdir seluruh makhluk, baik berupa kematian, rezeki, jodoh bahkan masuk neraka atau surga.
Semuanya sudah tercatat di Al Lauh Al Mahfuzh, hal ini berdasarkan beberapa dalil, baik dari Al Quran Al Karim atau Sunnah yang shahih.
Dalil dari Al Quran:
{ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ} [الحج: 70]
Artinya: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.
{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]

Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
أي: جميع الكائنات مكتوب في كتاب مسطور مضبوط في لوح محفوظ، والإمام المبين هاهنا هو أم الكتاب. قاله مجاهد، وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم،

Artinya: “Maksudnya adalah seluruh yang terjadi telah tertulis di dalam Kitab, tertulis dan tersebut di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, dan Al Imam Al Mubin di sini maksudnya adalah induknya kitab (Ummu Al Kitab), sebagaimana yang dinyatakan oleh Mujahid, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahumullah”. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 6/568.
Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:
والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها
Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [الأنعام: 59]

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Al An’am: 59.
{ قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى (51) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى (52)} [طه:   51 – 52]}

Artinya: “Berkata Firaun: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?”. “Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa”. QS. Thaha: 51-52.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.
عَنْ عَلِىٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ»

Artinya: “Ali radhiyallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidak seorang jiwapun melainkan telah dituliskan Allah tempatnya di surga dan neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلاَّ وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ».

Artinya: “Tidak seorangpun kecuali sudah ditentukan tempatnya dari surga dan neraka”. HR. Muslim.
Lalu kalau sudah ditentukan kenapa harus beramal?
Atau pertanyaan lain, kalau sudah ditentukan bagaimana seorang muslim menyikapinya?

Maka perhatikan beberapa hal berikut …
1. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita agar kita beramal, berusaha mencari jalan yang diridhai Allah Ta’ala dengan petunjuk dari Allah Ta’ala yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena segala sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah ditakdirkan atasnya.
عَنْ عَلِىٍّ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ .

Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:
{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 5 – 7]

Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
وفي هذه الأحاديث النهي عن ترك العمل والاتكال على ما سبق به القدر بل تجب الأعمال والتكاليف التي ورد الشرع بها وكل ميسر لما خلق له لا يقدر على غيره.

Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Lihat kitab Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.
2. Ketahuilah kehidupan dunia diciptakan Allah untuk suatu hikmah yaitu menguji siapa yang beriman dan tidak.
Allah Ta’ala berfirman:
{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ } [الملك: 2]

Artinya: “(Dia Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. QS. Al Mulk: 2.
Kehidupan dunia ini adalah lahan ujian, dimana Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan diutusnya para Rasul-Nya ‘alaihimussalam dan diturunkannya kitab-kitab-Nya, siapa yang beriman kepada para Rasul dan mengamalkan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut, maka dia akan menjadi penghuni surga yang diliputi dengan kebahagiaan dan siapa yang tidak beriman kepada para Rasul ‘alaihimussalam, lalu akhirnya tidak mengerjakan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut maka dia akan menjadi penghuni neraka dengan segala macam kesengsaraan di dalamnya.
Sebagian manusia sering bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan di atas dan tidak bertanya tentang rezeki yang berbeda-beda, padahal permasalahan di atas dan permasalahan rezeki satu sisi yang sama, yaitu hal ini adalah sesuatu yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh para makhluk dan hanya Allah yang mengetahui apa yang akan terjadi.
Maka wajib bagi kita untuk yakin dengan hikmah dan keadilan Allah Ta’ala, yaitu bahwa Dia tidak akan menyiksa seseorang tanpa dosa yang berhak atasnya untuk disiksa, itupun Allah telah memaafkan dari kebanyakan kesalahan kita.
Dan prinsipnya, adalah kita harus menerima terhadap perkara yang telah ditetapkan oleh Allah, baik yang bisa dirasiokan oleh akal kita atau tidak bisa, karena pemahaman kita yang sangat pendek, dan kelemahan serta kekurangan ada pada kita, bukan pada hikmah Allah Ta’ala, bahkan Allah Maha Suci tidak boleh ditanya apa yang Dia perbuat.
Allah Ta’ala berfirman:
{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]

Artinya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai”. QS. Al Anbiya’: 23.

 

3. Jangan terlalu banyak bertanya dan menyibukkan diri dengan sejenis pertanyaan ini.
Jangan menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena akan sangat berpengaruh buruk kepada keimanannya sedikit-semi sedikit, perlahan-lahan.
Tetapi, yang harus kita imani adalah bahwa Allah telah:
1. Mengetahui seluruh takdir makhluk dengan ilmunya
2. Menuliskan takdir seluruh makhluk
3. Menghendaki seluruh yang terjadi
4. Menciptakan apapun yang terjadi.
Inilah yang diwajibkan atas seorang muslim mengimaninya.
Adapun hal yang dibelakang ini, sebagaimana yang disebut oleh sebagian ulama “Sirrul Qadar” (rahasia takdir), maka tidak boleh terlalu membebani diri dalam pencariannya, inilah maksud dari perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika seseorang bertanya kepada beliau tentang takdir:
عبد الملك بن هارون بن عنترة ، عن أبيه ، عن جده قال : أتى رجل علي بن أبي طالب رضي الله عنه فقال : أخبرني عن القدر ، ؟ قال : « طريق مظلم ، فلا تسلكه» قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : بحر عميق فلا تلجه « قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : » سر الله فلا تكلفه

Abdul Malik bin harun bin ‘Antharah mendapatkan riwayat dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata: “Seseorang mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, lalu bertanya: “Beritahukan kepadaku tentang takdir?”, beliau menjawab: “Jalan yang gelap janganlah engkau jalani”, orang ini mengulangi pertanyaannya, dijawab oleh beliau: “Laut yang dalam maka janganlah engkau menyelam ke dalamnya”, orang ini mengulangi pertanyaannya, beliau menjawab: “Rahasia Allah  maka jangan engkau membebani dirimu”.  Lihat kitab Asy Syari’ah, karya Al Ajurry, 1/476. 
Semoga jawaban ini bisa menjadi penjelasan bagi yang menulisnya sebelum yang bertanya. Wallahu a’lam.
Sumber disini

Apakah Kedua Orang Tua Rasulullah Berada di Syurga ataukah di Neraka?

* Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :  ”Sesungguhnya aku telah memohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengizinkanku. Namun Ia mengizinkan aku untuk menziarahi kuburnya”
[HR. Muslim no. 976, Abu Dawud no. 3234, An-Nasa’i no. 2034, Ibnu Majah no. 1572, dan Ahmad no. 9686].

* Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :
وأبواه كانا مشركين, بدليل ما أخبرنا

”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami bawakan….”.
(Kemudian beliau membawakan dalil hadits dalam Shahih Muslim di atas – no. 203 dan 976 – di atas)
[Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim]

* Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

جاء ابنا مليكة – وهما من الأنصار

فقالا: يَا رَسولَ الله إنَ أمَنَا كَانَت تحفظ عَلَى البَعل وَتكرم الضَيف، وَقَد وئدت في الجَاهليَة فَأَينَ أمنَا؟

فَقَالَ: أمكمَا في النَار. فَقَامَا وَقَد شَق ذَلكَ عَلَيهمَا، فَدَعَاهمَا رَسول الله صَلَى الله عَلَيه وَسَلَمَ فَرَجَعَا،

فَقَالَ: أَلا أَنَ أمي مَعَ أمكمَا

Datang dua orang anak laki-laki Mulaikah – mereka berdua dari kalangan Anshar –
lalu berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya memelihara onta dan memuliakan tamu. Dia dibunuh di jaman Jahiliyyah.
Dimana ibu kami sekarang berada ?”.
Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Di neraka”.
Lalu mereka berdiri dan merasa berat mendengar perkataan beliau. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil keduanya
lalu berkata : “Bukankah ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka) ?”
[Lihat Tafsir Ad-Durrul-Mantsur juz 4 halaman 298 – Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3787, Thabarani dalam Al-Kabiir 10/98-99 no. 10017, Al-Bazzar 4/175 no. 3478, dan yang lainnya; shahih].

* Al-Imam Ibnul-Jauzi berkata :
وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين
 ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’a…laihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun”
[Al-Maudhu’aat juz 1 hal. 283].

* Dari Anas radliyallaahu ’anhu :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي

قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ

فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”.
Beliau menjawab : “Di neraka”.
Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu
berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”.
[HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516]. Wallahu a’lam

Dari berbagai sumber

Bantahan Syubhat ‘Alawi al-Maliki Dan ‘Abdurrahman bin Sa’di

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Saat sampai kepadaku syubhat berupa kisah dialog antara as-Sayyid Alawi al-Maliki dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’di, mudah-mudahan Allah merahmati keduanya- saya tidak berminat menjawabnya pada waktu ini, mengingat kesibukanku dalam mendakwahi Nasrani dan Syi’ah. Di samping itu saya tidak ingin mengusik kedamaian antara kami dan saudara kami -meskipun kami berselisih dengan mereka, namun mereka akan tetap menjadi saudara kami, karena kami bersepakat dengan mereka dalam ushul (pokok) agama ini dan banyak sekali dalam furu’ (cabang)nya-. Akan tetapi saya terpaksa menjawab syubhat ini tanpa menundanya, karena melihat pentingannya, bahayanya, dan penyebarannya. Juga karena syubhat tersebut sampai kepada saya dari orang yang tidak mungkin saya menolak permintaannya, yaitu Akhi al-Ustadz Agus Hasan Bashori hafizhahullah. Berikut ini adalah teks dari syubhat tersebut:
Suatu ketika, as-Sayyid ‘Alwi bin Abbas sedang duduk di dalam halaqahnya di Masjidil Haram Makkah. Sementara di sisi lain bagian Masjidil Haram duduk pula as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy, penulis kitab Tafsir (Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan) sementara manusia sedang dalam shalat dan thawaf mereka. Kala itu, langit tengah membawa mendung, kemudian turunlah hujan, dan tertumpah dari talang Ka’bah. Maka orang-orang Hijaz, sebagaimana kebiasaan mereka, berhamburan menuju air yang tumpah dari talang Ka’bah untuk mengambil dan menunangkannya ke baju dan tubuh mereka guna bertabarruk dengannya.
Maka terkejutlah ahlul hasbah dari kalangan Badui dan menganggap bahwa manusia telah datang dengan kesyirikan dan menyembah selain Allah!!! Jadilah mereka kemudian berkata kepada ahlul Hijaz tersebut, ‘Wahai orang-orang musyrik, syirik… syirik….!’
Maka bubarlah orang-orang tersebut, kemudian berpaling menuju halaqah as-Sayyid ‘Alawiy, lalu mereka bertanya kepadanya (tentang hal itu). Lantas diapun membolehkan mereka untuk melakukan hal itu dan menganjurkannya. Maka untuk kedua kalinya, orang-orang itu berhamburan menuju talang Ka’bah untuk mengambil air tanpa menghiraukan ahlul hasbah yang badui tersebut. Kemudian orang-orang itu berkata kepada mereka, ‘Kami tidak akan mempedulikan kalian setelah as-Sayyid Alawiy bin ‘Abbas memberikan fatwa kepada kami…’

Maka orang-orang Badui itupun pergi ke halaqah as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy untuk mengadukan as-Sayyid ‘Alawiy kepadanya. Lantas Ibnu Sa’diy pun mengambil sorbannya lalu pergi dan duduk di sisi as-Sayyid dengan adab yang agung, sementara manusia berkumpul di sekitar keduanya. Kemudian Ibnu Sa;diy berkata kepada as-Sayyid, ‘Apakah benar wahai Sayyid, bahwa Anda telah berkata kepada manusia bahwa terdapat keberkahan pada air ini?!
Maka berkatalah as-Sayyid, ‘Bahkah saya katakan, terdapat dua keberkahan!! ’
Ibnu Sa’di berkata, ‘Bagaimanakah yang demikian itu?’
As-Sayyid menjawab, ‘Dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi…” (QS. Qaaf: 9)
Dan Dia berfirman tentang Ka’bah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (٩٦)

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 96)
Maka keduanya sekarang adalah dua keberkahan; satu keberkahan air langit, dan keberkahan Ka’bah ini.’
Maka takjublah as-Syaikh Ibnu Sa’di seraya berkata, ‘Subhanallah, bagaimana kita bisa lalai dari hal ini?’ lantas diapun berterima kasih kepada as-Sayyid dan meminta izin untuk pergi.
Maka berkatalah as-Sayyid kepadanya, ‘Tenang wahai Syaikh, apakah Anda melihat orang-orang badui tersebut? Sesungguhnya mereka menyangka bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang itu adalah sebuah kesyirikan. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan manusia dan melemparkan tuduhan syirik kepada mereka dalam perkara ini hingga mereka melihat orang seperti Anda menahan mereka, maka bangkitlah menuju talang Ka’bah, lalu ambillah air darinya dihadapan mereka hingga mereka menahan diri dari manusia.’
Maka tidak ada apa pun dari Ibnu Sa’di melainkan dia bangkit dan pergi lalu membuka bajunya, mengambil air dan bertabarruk dengannya. Lalu pergilah orang-orang badui itu dari manusia.
As-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah memberitakan kepadaku dengan kisah ini dalam Tsabatnya.

Jawab:
Saya memohon pertolongan kepada Allah, dan saya banyak bersyukur dan memuji Allah karena syubhat ini dimintakan jawabannya dari saya bukan dari ahli ilmu selain saya. Hal itu bukan karena ilmu saya yang sederhana ini, akan tetapi karena suatu perkara yang para pembaca akan mengetahuinya  dari sela-sela jawaban saya.
Sesungguhnya kisah buatan (atau fiktif) ini, saat memperhatikannya, menjadi jelas bahwa orang yang mengarangnya terjerumus pada banyak kesalahan fatal. Pengarang ini meninggalkan banyak jejak bagi kejahatannya, bukan hanya satu jejak.
Karena perhatian saya agar pembahasan ini menjadi pembahasan yang ilmiah lagi menyeluruh yang mencangkup segala sisinya, maka saya membagi pembahasan ini menjadi sepuluh bagian. Pertama, sanad riwayat kisah; kedua, matan (isi, kandungan) kisah; ketiga, rincian riwayat; keempat, perbandingan riwayat; kelima, pandangan sejarah; keenam, perselisihan redaksional; ketujuh, tujuan dari periwayatan kisah; kedelapan, diagnosa kejiwaan dan psikologi; kesembilan, perbandingan antara as-Syaikh bin Sa’diy dengan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki; kesepuluh, Risalah untuk ummat.

Sanad Periwayatan:
Saat melihat kepada sanad periwayatan, kami mendapatinya dalam keadaan rapuh. Tidak ditemukan sanad shahih lagi terpercaya yang sambung sampai kepada as-Sayyid ‘Alawiy Maliki secara langsung. Sekalipuan ini sudah cukup menjadi dalil yang mu’tabar atas runtuhnya dan tertolaknya riwayat tersebut. Terutama bahwa penulis kisah fiktif itu adalah orang bayangan yang tidak dikenal jati dirinya. Dimana dia menaruh kisah ini di dunia maya yang kemudian dikutip oleh orang-orang tanpa ilmu, pemahman atau klarifikasi. Lalu mengklaim bahwa as-Syaikh Bayangan itu telah mendengar riwayat itu dari as-Sayikh ‘Abdul Fattah Rawwah. Di sinilah riwayat tersebut jatuh berantakan, dan terbuka kedustaannya sama sekali. Yang demikian itu karena as-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah adalah tetangga dekat kami di Makkah, di distrik al-Hujun. Dimana tidak terpisah antara rumah kami dengan rumah Syaikh kecuali oleh satu rumah saja. Saya sendiri kenal dengan as-Syaikh Rahimahullah, dan sepanjang hidup saya, saya tidak pernah mendengar darinya, atau dari seorang pun dari penduduk distrik, atau dari murid-murid beliau yang telah menukil kisah ini dari beliau hingga beliau wafat Rahimahullah.
Agar saya tidak meninggalkan satu kesempatan bagi mereka yang menentang dengan meragukan ucapan saya, maka sesungguhnya saya telah menelephon putra beliau, yaitu Ibrahim pada hari Selasa yang bertepatan dengan 24 Rabiutstsaniy 1432 H (29 Maret 2011) pada jam 12 siang, dimana saya bertanya kepadanya jika dia pernah mendengar kisah ini suatu hari dari ayahandanya di dalam mejelis ilmuanya. Maka dia pun menafikannya dari ayahandanya sama sekali. Dan dia menyebut bahwa ayahandanya memiliki delapan belas kitab yang semuanya terdapat di Perpustakaan Masjidil Haram, dan tidak ada satu pun kitab-kitab itu yang berisi kisah ini. Dan yang mengagetkan, sesungguhnya saya bertanya kepadanya, jika ayahandanya berkeyakinan akan keberkahan air hujan yang turun dari talang Ka’bah, maka diapun menafikan keyakinan ini dari ayahandanya.
Sesungguhnya saya selalu siap kapan saja bagi siapa saja yang ingin bertemu dengan putra Syaikh, saya menjamin dan menjanjikan hal itu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Dia adalah sebaik-baik saksi.
Sebagaimana kami di majalah Qiblati akan menerbitkan –dengan izin Allah- VCD (video) untuk menguatkan persaksian Ibnu as-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah dan saksi lainnya.
Saya kira dengan demikian, kita patut “bertakbir empat kali” atas jenazah sanad riwayat kisah tersebut setelah saya menghadirkan dalil qath’i yang membatalkannya.

Matan Riwayat:
Saat kita mengikuti isi dari kisah ini, maka kita mendapati bahwa kisah ini mengandung berbagai perselisihan syari’at yang jelas. Argumentasi yang mereka klaim bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki berdalil dengannya adalah argumentasi dengan Qiyas yang batil lagi tidak benar. Dimana beliau membuktikan keberkahan air hujan yang turun dari talang Ka’bah dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi…” (QS. Qaaf: 9)
Kemudian ia  menjadikannya bercampur dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (٩٦)

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 96)
Agar para penuntut ilmu bisa memahami kesalahan argumentasi yang rancu ini, pertama-tama kita harus memberikan batasan pemahaman dan makna dari al-barakah (keberkahan) yang disebutkan dalam dua ayat tersebut.
Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: [لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا] maksudnya adalah bahwa rumah ini (Ka’bah) diberkahi oleh Allah, akan tetapi bukanlah makna keberkahan dalam rumah ini dengan kita membuat segala yang kita kehendaki, lalu mengusap-usap tembok Masjidil Haram, atau lantainya, atau Maqam Ibrahim, atau dengan sebagian tempat dari Ka’bah yang tidak ada dalil pun yang menunjukkan perintah pengusapannya, atau dengan apa yang tumpah dari air hujan; bukan ini makna keberkahan tersebut.
Akan tetapi keberkahan yang dimaksud adalah bahwa keberkahan rumah tersebut ada pada kesinambungan kunjungan manusia kepadanya tanpa terputus; penunaian haji dan umrah; diraihnya pahala dengan tambahan pahala satu shalat hingga menjadi seratus ribu shalat; i’tikaf di masjidil Haram, dan membaca al-Qur`an padanya.
Inilah keberkahan Ka’bah yang hakiki, yang sungguh disayangkan tidak difahami oleh as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sebagaimana yang diinginkan oleh sang pengarang kisah buatan ini. Dimana dia telah berbuat buruk kepada beliau dari sisi keinginan baiknya ini.
Adapun keberkahan yang dimaksud dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: [وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا], maka demikian juga, telah hilang dari pikiran as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sebagaimana yang dikehendaki oleh sang pengarang.
Pemahaman yang benar bagi keberkahan tersebut telah jelas dalam ayat tersebut secara ekplisit, dimana ayat tersebut berbunyi:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ (٩)

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam…” (QS. Qaaf: 9)
Maksudnya adalah bahwa Dia menurunkan air yang bermanfaat dari langit, dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkan bumi, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman. Dan diantara hasilnya adalah manusia mengambil manfaat dan memakannya. Maka hujan adalah satu nikmat dari sekian nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengannyalah ada kehidupan manusia, hewan dan bumi. Dengan turunnya hujan, bumi menumbuhkan segala kebaikannya, meratanya keberkahan, dan banyaknya rizki. Akan tetapi keberkahan di sisi as-Sayyid ‘Alawiy Maliki –sebagaimana yang digambarkan oleh pengarang kisah- adalah sesuatu yang lain sebagaimana yang sudah kita baca dalam kisah fiktif di atas. Beliau mengqiyaskan air hujan yang diberkahi dengan turunnya di atas Ka’bah yang diberkahi, kemudian dengan demikian beliau menyimpulkan bahwa terdapat dua keberkahan yang saling bercampur (tumpang tindih). Ini adalah sebuah kesalahan besar yang telah mereka lakukan terhadap as-Sayyid ‘Alawiy. Dikarenakan air hujan itu tetap diberkahi sekalipun turun di negeri kafir dan tidak memiliki kekhususan saat turun di Masjidil Haram. Kami meminta mereka untuk menetapkan dalil bahwa air hujan memiliki kekhususan dengan turunnya di Baitul Haram jika mereka mampu. Maka atas dasar apa mereka menjadikan pengkhususan ini dari istinbath yang disebutkan dalam dua ayat tersebut? Dan kami telah menyebutkan serta menjelaskan maksud keberkahan pada keduanya.
Seandainya kami mengalah, bahwa air hujan yang turun dari talang Ka’bah membawa dua keberkahan yang berarti bahwa manusia akan mengambil manfaat besar dengannya, maka jika demikian, bagaimana hal itu bisa hilang dari pengetahuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak pernah memberikan wasiat kepada umatnya dengan kebaikan agung ini sementara as-Sayyid ‘Alawi Maliki mengetahuinya?
Bagaimana para sahabat, tabi’in dan para imam tidak mengetahui kebaikan agung ini dan as-Sayyid ‘Alawi Maliki mengetahuinya? Maka apakah masuk akal bahwa beliau mengetahui satu perkara yang tidak diketahui oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Dan juga para sahabat, tabi’in dan para imam belum pernah mengetahuinya? Yang juga tidak pernah ditemukan satu dalilpun bahwa mereka pernah mengatakan seperti perkataan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki.
Pada hakikatnya, as-Sayyid ‘Alawiy Maliki dengan logika yang datang dalam kisah ini, beliau tidak hanya lebih ‘alim dari as-Sayikh ibn Sa’diy bahkan dia lebih ‘alim dari seluruh sahabat, tabi’in, dan para imam, termasuk di antara mereka adalah al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah yang tidak pernah memberikan peringatan kepada umat terhadap permasalahan ini seperti apa yang dilakukan oleh as-Sayyid ‘Alawiy Malikiy. Jika al-Imam as-Syafi’i tertinggal dari masalah ini, maka bagaimana tidak tertinggal atas as-Sayikh Ibn Sa’di yang dia lebih kecil daripada al-Imam as-Syafi’i. Kemudian siapa as-Sayikh Ibn Sa’diy di hadapan para sahabat, tabi’in yang mereka tidak tahu masalah ini, dan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki mengetahuinya?!
Termasuk yang penting kita fahami adalah bahwa hujan termasuk perkara yang turunnya terus berulan-ulang. Sekalipun demikian tidak pernah dinukil dengan satu sanad yang shahih bahwa ada salah seorang sahabat atau para imam yang melakukannya atau menganjurkannya. Bahkan dengan sedikit akal, kita akan bisa sampai bahwa seandainya ucapan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki adalah benar, maka pastilah para sahabat dan kaum muslimin akan saling berdatangan dari setiap tempat untuk menuju Makkah pada musim hujan untuk mendapatkan dua keberkahan yang agung tersebut. Sekiranya ini tidak pernah terjadi, maka kita bisa mengetahui akan kebid’ahan tujuan periwayatan kisah tersebut dan kedustaan pengarangnya.

Rincian riwayat:
Anda telah mengikuti dalam kisah tersebut bahwa orang-orang Badui saat mereka pergi kepada as-Sayikh ‘Abdurrahman ibn Sa’di lalu mengadukan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki kepadanya, Sayikh bin Sa’di pun pergi ke Majelis as-Sayyid ‘Alawiy Malikiy dan mendapatinya di sana, kemudian berdialog bersamanya tentang masalah tersebut. Di sini menjadi jelas akan kebohongan dan kedustaan penulis kisah. Sebab, seandainya as-Sayyid ‘Alawiy beriman bahwa air hujan yang turun dari talang ka’bah membawa dua keberkahan, maka pastilah saat itu dia sendiri yang akan berdiri di bawah talang Ka’bah untuk mendapatkan keberkahan tersebut, bukannya duduk di majelisnya! Maksudnya, seharusnya as-Sayikh bin Sa’di tidak mendapati as-Sayyid ‘Alawiy kecuali di bawah talang Ka’bah. Karena hal ini tidak terjadi, maka hal itu merupakan dalil atas kebatilan kisah tersebut.
Demikian juga kita mendapati bahwa manusia saat orang-orang Badui melarang mereka, mereka pergi ke as-Sayyid ‘Alawiy Maliki di majelisnya. Maksudnya bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sejak awal turunnya hujan tidak berada di bawah talang Ka’bah untuk mendapatkan keberkahan dan keutamaan yang agung tersebut! Maka bagaimana mungkin dia menjadikan keutamaan agung itu lepas darinya?! Di sinlah pengarang kisah dusta tersebut menampakkan bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki bukanlah termasuk para ulama yang mengamalkan ilmu mereka. Maka diapun tanpa sadar telah menghinakan beliau, padahal maksudnya ingin memuliakan beliau.
Sebagaimana sang pengarang menampakkan bahwa orang-orang Badui itu lebih banyak ilmunya dari as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, dikarenakan ucapan dan pengingkaran mereka yang disebutkan dalam kisah adalah kebenaran. Dimana keyakinan keberkahan air hujan yang turun dari talang Ka’bah termasuk sarana kesyirikan dan termasuk syirik ashghor. Adapun jika berkeyakinan bahwa itu merupakan wasilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau hujan itu yang memberi keberkahan maka menjadi syirik besar. Demikian pula dengan orang mengusap tembok-tembok Masjidil Haram atau Ka’bah atau Maqom Ibrahim dengan berharap keberkahan, maka itu juga termasuk sarana kesyirikan.
Maka kaum muslimin mencontoh dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mengamalkan sunnah Nabi berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

»خُذُوا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ«

“Ambillah dariku oleh kalian manasik kalian.”
Dan beliau bersabda:

»صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ«

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Maka kita diperintahkan untuk shalat sebagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat, dan berhaji sebagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhaji.
Demikianlah, tanpa sengaja Sang Pengarang telah menjadikan orang-orang Badui pada kedudukan para ulama. Sementara dia jadikan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki tampil sebagai seorang pelaku bid’ah dalam agama, dimana beliau telah memerintahkan sesuatu yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memerintahkannya, melakukannya, dan tidak pernah mengakuinya, dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, serta para imam, termasuk di antara mereka adalah al-Imam as-syafi’i Rahimahullah yang telah hidup bertahun-tahun di Makkah, dan belum pernah dinukil dari beliau satu perintah pun seperti ini, tidak juga dari seorang pun dari para imam.
Sebagaimana Sang Pengarang menjadikan orang-orang yang mencontoh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta mengikuti sunnah beliau sebagai orang-orang Badui. Sedangkan pelaku bid’ah dalam agama menurut pengarang adalah orang yang mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Yang mengejutkan sekarang, yang wajib kami peringatkan adalah bahwa tidak ada satu ulama ahli tafsir pun yang menyebutkan seperti yang disebutkan oleh as-Sayyid ‘Alawiy Maliki pada tafsir-tafsir mereka untuk kedua ayat tersebut. Padahal jika qiyas ini benar maka seharusnya mereka menyebutkannya sebagai bab tambahan istidlal atas keagungan dan keberkahan Ka’bah. Akan tetapi tidak ada satu ahli tafsir pun yang beristidlal dengan hal itu, maka hal ini menunjukkan atas apa? Bagaimana mungkin pada masa ini datang seorang bodoh yang ingin merendahkan ilmu as-Syaikh ibn Sa’di untuk perkara aneh ini yang umat Islam tidak pernah mengetahuinya sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk membawa risalah ini.

Perbandingan Riwayat
Wajib bagi kita untuk mengarahkan satu pertanyaan penting; yaitu mana yang lebih banyak keberkahannya; air zam-zam atau air hujan? Saya kira tidak akan ditemukan satu orang berakal pun yang menjadikan air hujan yang merupakan hasil dari menguapnya air laut itu lebih banyak keberkahannya daripada air zam-zam yang telah disebutkan dalam banyak hadits dengan terang-terangan akan keberkahannya, dan bertabarruk dengannya, serta mencari kesembuhan dengan wasilahnya.  Cukuplah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhususkan air zam-zam, tidak air selainnya untuk memandikan hati manusia termulia, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengan logika qiyas yang sama, yang diqiyaskan oleh pengarang kisah atas nama as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, kami bertanya, bagaimana seandainya kita menjadikan air zam-zam mancur dari talang Ka’bah? Bukankah air zam-zam akan menjadi lebih agung manfaatnya dengan kondisi ini ataukah air hujan lebih agung?  Lalu mengapa as-Syari’ (Allah) tidak menunjukkan kita untuk mengamalkan hal ini agar mendapatkan keberkahan yang teragung? Padahal bisa saja para khalifah, raja-raja untuk melakukannya, lalu mengapa usaha agung ini tertinggal dari meeka, terutama pada masa mereka terdapat para imam pemuka para ulama?
Saya akan membuat satu permisalan dengan satu riwayat hipotesa yang kemudian kita bandingkan dengan kisaf fiktif tersebut. Semuanya akan menjadi yakin bahwa dengan logika yang sama riwayat hipotesa saya akan mengunggulinya, dan hendaknya orang-orang berakallah yang menghukuminya:
Kasus as-Sayyid ‘Alawiy Maliki hanyalah mandi dengan air hujan saat turun (mancur) dari talang Ka’bah, sementara riwayat hipotesa saya yang akan mengungguli riwayat bikinan tersebut adalah; air zam-zam saya masukkan ke dalam Ka’bah, lalu saya meminumnya dari tempat yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dulu shalat di dalamnya. Sekarang perhatikanlah perbedaan antara riwayat as-Sayyid ‘Alawiy dan riwayat saya. Dia mengandalkan air hujan sementara saya mengandalkan air zam-zam. Secara sepakat air zam-zam lebih utama dari air hujan. Kemudian mendasarkan keberkahan pada tempat turunnya air hujan saja yaitu atap Ka’bah, dan airnya datang dari luar Ka’bah, sementara saya menyandarkan pada tempat di dalam Ka’bah, dan itu lebih utama secara sepakat. Dia menyandarkan pada mandi, dan saya menyandarkan pada minum, dan minum lebih utama secara sepakat. Sebagai tambahan atas as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, saya menjadikan minum tersebut di tempat yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dulu shalat di dalam ka’bah, dan tempatnya telah diketahui. Sekarang orang-orang berakal menyaksikan, bukankah setelah perbandingan ini riwayat hipotesa saya lebih kuat dan lebih banyak hujjahnya dari riwayat bikinan tersebut? Akan tetapi pertanyaannya apakah as-Syari’ (Allah yang menetapkan syari’at) telah menunjukkan kepada kita akan kedua riwayat tersebut? Dan apakah para sahabat, tabi’in dan para imam melakukannya? Secara yakin, as-Syari’ tidak pernah menunjukkan kepada kita riwayat as-Sayyid ‘Alawiy yang palsu ini, tidak juga riwayat hipotesa saya. Maka itu menjadi bukti akan kebatilan kedua riwayat tersebut. Maka jika mereka bersikukuh atas kebenaran keberkahan dalam riwayat as-Sayyid ‘Alawi, maka keberkahan yang ada dalam riwayat saya lebih agung.

Pandangan Sejarah:
Sebenarnya apa yang saya sampaikan sudah cukup, tidak perlu pembahasan ini dan pembahasan berikutnya, akan tetapi untuk melepas tanggung jawab dan untuk kelengkapan pembahasan ilmiah ini akan saya lanjutkan dengan sebatas kemampuan saya, siapa tahu sebagian akal bergerak menjauh dari sifat ta’ashshub (fanatik). Untuk  itu saya akan cukup menyebutkan sebagian soal-soal penting yang diharapkan bisa membantu para pencari kebenaran dalam memahami permasalahan dari segala sisinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
Mengapa kisah ini tidak menyebar saat kelompok shufiy memiliki peran di Makkah, dan baru menyebar pada hari ini saat kelompok shufiy tidak memiliki peran?
Mengapa orang-orang Hadhramaut tidak mengetahui kisah ini sejak hari itu sementara Hadramaut adalah markas Syufiy, sementara orang-orang Indonesia mengetahuinya belakangan ini?
Bukankah termasuk aneh, tidak ada seorang pun yang mengetahui kisah ini dari waktu kejadiannya, dan sepanjang masa itu, kemudian menjadi terkenal dan dikenal setelah kurang lebih enam puluh tahun setelah kejadiannya?
Mengapa kisah ini tidak keluar pada masa hidupnya as-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah, lalu keluar setelah wafat beliau sementara beliau adalah saksi terakhir atas kisah tersebut sesuai dengan riwayat yang telah diterjemah?
Mengapa Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah tidak memberikan wasiat kepada anak-anaknya sebagaimana dia telah belajar dari gurunya as-Sayyid ‘Alawiy Maliki dalam kehidupannya, atau setelah kematiannya agar mereka mandi dari air hujan yang turun dari talang Ka’bah. Mengapa beliau menjadikan keutamaan ini hilang dari mereka?
As-Sayyid ‘Alawiy Maliki dulu tinggal di distrik yang persis bersebelahan dengan kami, yaitu distrik al-‘Utaibah, dan kisah ini sama sekali tidak pernah diketahui dari orang-orang tua di distrik al-‘Utaibah, atau penduduk distrik al-Hujun yang bersebelahan dengannya dari majelis-majelis mereka. Lalu bagaimana kisah tersebut tidak menyebar di distrik yang as-Sayyid ‘Alawiy Maliki tinggal di sana, serta menyampaikan kajian di dalamnya lalu bisa menyebar di Indonesia? Demikian juga mengapa penduduk Makkah yang kejadian itu terjadi di sana tidak mengetahuinya, lantas orang-orang Indonesia  justru yang mengetahuinya?
Sekalipun kisah ini bukanlah untuk dibanggakan, sebagaimana telah saya jelaskan, karena menunjukkan kebodohan terhadap al-Qur`an dan sunnah nabi, tetapi kami akan mengalah dan menganggapnya sebagai satu kebanggaan besar bagi as-Sayyid ‘Alawiy Maliki. Maka sesungguhnya jika demikian, lalu mengapa putranya, yaitu as-Sayyid Muhammad ‘Alawiy tidak pernah meriwayatkannya sepanjang hidupnya, sementara dia adalah orang yang paling tahu tentang ayahandanya? Terutama telah ada permusuhan keras antara as-Sayyid Muhammad yang putra ‘Alawiy Maliki itu dengan para pengikut manhaj salaf (wahhabiy)? Maka mengapa dia tidak menggunakannya jika memang itu benar, lalu menyebarkannya dalam satu kitab dari kitabnya, atau satu kaset dari kaset-kasetnya atau dalam kajian video dari kajian-kajiannya? Terutama hal itu sangat dibutuhkan?
Kemudian, mengapa as-Sayyid ‘Abbas, yang dia adalah putra ‘Alawiy Maliki, tidak pernah menceritakan kisah ini sementara dia masih hidup?
Jika kisah ini benar, maka bagaimana kisah ini bisa hilang dari orang-orang shufiah untuk kemudian mereka bisa menggunakannya, merekamnya dengan suara as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sendiri agar menjadi bukti-bukti kemenangan mereka atas pengikut manhaj salaf (wahhabiy)? Dan perlu diketahui bahwa as-Sayyid ‘Alawiy Maliki telah wafat pada tahun 1971 M, dan kala itu kamera video telah banyak, maka mengapa para pengikutnya tidak merekam realitas ini kemudian menetapkannya untuk sejarah?
Jawabannya dengan mudah, mereka tidak melakukannya karena kisah tersebut adalah kisah bikinan (fiktif), tidak benar, dan diada-adakan secara dusta atas  nama kedua Syaikh tersebut, rahimahumallah.
Saya tutup bagian ini bahwa Sang Pengarang yang dusta tidak memberikan tanggal bagi kita akan waktu terjadinya kejadian itu jika benar. Jika tidak, seandainya dia menyebut tanggal begitu saja, maka pekara dia akan terbongkar dengan mudah. Karena kami akan menentukan, jika kala itu dalam musim panas atau dingin. Jika di musim dingin, maka memungkinkan bagi kami untuk menentukannya jika air hujan turun di atas Makkah dengan tanggal tertentu. Atau bisa dari sebagian kitab yang menetapkan jatuhnya air hujan di Makkah, atau juga melalui lembaga penelitian. Yang menyebabkan hal itu mudah adalah karena Makkah tidak seperti Indonesia yang banyak hujan. Air hujan di Makkah paling-paling turun setahun sekali atau kebanyakan dua kali, dan jarang sekali sampai tiga kali. Akan tetapi Sang Pengarang, karena khawatir terbongkar, dia pun diam sama sekali, dan menjadikannya tanpa penegasan seperti halnya cerita yang kita ceritakan kepada anak-anak kita agar mereka tidur.
Terakhir, saya katakan apakah masuk akal air hujan yang turun dari talang Ka’bah memiliki keberkahan seperti yang ada dalam kisah sementara para sahabat, tabi’in dan para ulama tidak bersegera untuk meraih karunia ini, atau pernah dinukil dari mereka, atau mereka menyebutnya dalam kitab-kitab mereka?
Bahkan seaindainya tabarruk (ngalap berkah) dengan cara itu syar’iy (sesuai syariat), pastilah sejarah akan mencatat untuk kita nama-nama para sahabat, tabi’in dan para ulama yang telah menuai keberkahan ini, lalu sukses mendapat karunia agung ini, dan sekiranya bahwa kisah ini tidak terjadi, maka telah tetap kebatilan dan kedustaan kisah ini.

Kesalahan Redaksioanal (Lafzhiyah):
Pengarang kisah ini terjerumus dalam satu kesalahan besar yang tidak sepatutnya terjadi seandainya dia tahu perbedaan masyarakat antara penduduk Najed dan al-Qashim, serta penduduk Hijaz. Maka diantara kesalahan fatal yang terjadi di dalamnya yang menunjukkan akan kedustaannya adalah bahwa dia menyebutkan as-Syaikh bin Sa’di saat datang kepada ‘Alawiy Maliki, dia menyerunya dengan panggilan sayyid, dan pengarang tersebut lupa bahwa penduduk Najed dan al-Qoshim tidak mengatakan kalimat tersebut (gelar sayyid) hingga hari ini. Sementara kami ahlul Hijaz menggunakan panggilan sayyid itu atas setiap orang yang nasabnya sampai kepada al-Husain Radhiallahu ‘Anhu. Adapun selain kami dari penduduk Najed tidak demikian. Penduduk Najed menggunakan panggilan Syaikh atas setiap ahli ilmu, dikarenakan budaya antara kami, penduduk al-Hijaz dan Penduduk Najed berbeda dalam banyak sisi, dan diantaranya adalah sisi ini.
Pengarang tersebut tidak memikirkan hal itu, karena dia tidak menelitinya. Maka tidak terbersit dalam pikiran sama sekali bahwa penduduk Najed dan al-Qoshim -yang ibnu Sa’di berasal dari mereka-, tidak pernah mengucapkan kalimat sayyid, maka terbongkarlah tipu daya dan kedustaan pengarang kisah ini.

Tujuan Periwayatan tersebut:
Kisah fiktif ini tidaklah disusun tiba-tiba, atau tanpa tujuan yang penulisnya berharap bisa merealisasikannya. Akan tetapi –menurut kami- terdapat berbagai tujuan dan dia berusaha untuk merealisasikannya, diantaranya adalah;
Pertama, sampai kepada disyariatkannya keumuman tabarruk.
Penuntut ilmu pada umumnya mengetahui bahwa terdapat satu kelompok yang berusaha keras  dengan segenap kekuatan yang diberikan kepadanya untuk menetapkan tabarruk (ngalap berkah) dengan kuburan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta beristighatsah dengannya dan dengan orang-orang shalih. Mereka berdalil dengannya untuk membolehkan bertabarruk dengan kuburan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sesungguhnya mereka mengatakan pada sisi lain, jika Ka’bah diberkahi sementara dia adalah sekumpulan batu, maka apakah kedudukan Ka’bah bila dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan makhluk Allah paling utama? Mereka juga mengatakan, jika seorang muslim sangat mulia di sisi Allah dibanding Ka’bah, maka bagaimana kedudukan Ka’bah bila dibandingkan dengan para wali dan orang-orang shalih?
Maka akal mereka pun –mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada mereka- mengambil kesimpulan jika Ka’bah diberkahi, dan ditabarruki, maka bertabarruk dengan para Nabi dan para wali lebih utama untuk dibolehkan. Dan tidak diragukan lagi bahwa kita tidak menyetujui mereka atas bolehnya bertabarruk dengan Ka’bah. Seandainya saja bukan karena ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) maka pastilah mencium hajar aswad adalah bid’ah. Dan adalah Umar t berkata,

إِنِّيْ أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu adalah sebuah batu, yang tidak bisa mendatangkan madharat dan tidak bisa memberikan manfaat, seandainya bukan karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”
Oleh karena itulah, tidak boleh mencium kelambu Ka’bah, atau batu-batu ka’bah, atau rukun Yamani. Kita, saat mengusap batu rukun Yamani misalnya, maka itu adalah untuk beribadah, bukan untuk mencari berkah. Mencium hajar aswad pun demikian, bukan untuk meraih berkah, akan tetapi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, dan mengikuti syari’atn-Nya. Dan ucapan Umar Radhiallahu ‘Anhu terdahulu adalah sebaik-baik dalil.

Kedua, menampakkan ulama shufi sebagai orang yang lebih alim dari ulama wahhabiy. ([1])
Pengarang kisah tersebut bersungguh-sungguh dalam merendahkan ilmu dan kedudukan as-Syaikh bin Sa’diy. Dan menampakkannya di hadapan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki seperti seorang murid kecil yang belajar dari ustadznya. Dan sesungguhnya saya katakan demi membela as-Sayyid ‘Alawiy Maliki yang sekali-kali tidak mungkin beliau berakhlak dengan akhlaq yang buruk ini dalam pergaulannya dengan para ulama, terutama terhadap orang yang lebih banyak ilmu dan lebih tua usianya. Sayyid ‘Alawiy Maliki Rahimahullah dikenal di antara penduduk Makkah dengan adab dan akhlaq tingginya. Dan pengarang telah mensifatkan duduknya as-Syaikh bin Sa’di di sisi as-Sayyid ‘Alawi bahwa dia duduk dengan adap yang agung. Kemudian dia menampakkan as-Syaikh Sa’di mengambil ilmu dari as-Sayyid ‘Alawiy saat sang pengarang menjadikan as-Syaikh bin Sa’di berkata, ‘Bagaimana kita bisa lalai dari ini?’ kemudian dia berterima kasih atas ilmu yang dia belajar darinya. Dan saat dia ingin pamitan, as-Sayyid ‘Alawiy menghentikannya dan memerintahkannya untuk pergi ke tempat tersebut, dan bertabarruk dengan air yang turun dari talang Ka’bah, lalu Syaikh Ibnu Sa’di melakukannya.
Permasalahannya sekarang bukanlah pada pengarang akan tetapi pada akal orang yang membenarkan riwayat lemah seperti riwayat ini. Seandianya saja pengarang tidak mengetahui kebodohan dan sedikitnya ilmu orang yang akan menukil riwayat ini untuk mereka, dia tidak akan berbuat lancang atas mereka. Dia tidak hanya telah menyalahi hak as-Sayikh bin Sa’di, akan tetapi dia juga telah menyalahi hak as-Sayyid ‘Alawiy Maliki, dan juga hak manusia yang telah dia manfaatkan dan peralat, seakan-akan mereka tidak punya akal, membenarkan segala sesuatu yang dikatakan kepada mereka tanpa konfirmasi.
Ketiga; demi kemenangan atas dakwa salafiyah.
Setelah dakwah salafiyah yang mengajak kepada pembenahan aqidah, serta mencabut kebid’ahan dan kembali berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mendapatkan pertolongan besar, dan jejak dakwah mereka benar-benar bisa dirasakan di medan dakwah sekalipun masa dakwahnya pendek, banyak di antara da’i-da’i kebatilan yang merasa rugi dengan penyebaran kelompok ini di setiap tempat, dan semakin bertambah kemarahan mereka dengan keluarnya banyak dari para pengikutnya ke barisan kelompok ini, sementara tidak ditemukan para pengikut manhaj salaf yang bergabung dengan mereka. Yang demikian karena mustahil bagi orang yang telah mengetahui sunnah yang shahih untuk kembali kepada kelompok lamanya. Semua ini menjadikan marah kelompok tersebut yang mengajak dengan berpegang pada adat agama, sebagaimana mereka mewarisinya dari bapak-bapak, dan ulama-ulama mereka. Agama menurut mereka adalah kebiasaan, bukan ibadah. Yang menjadikan orang-orang ghuluw di antara mereka menyusun hikayat bikinan seperti ini. Maka Allah membantah tipu daya mereka di leher mereka, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada mereka dan kita semua. Aamiin.

Diagnosa Kejiwaan dan Psikologi
Saat kita mengikuti cerita buatan lagi dusta seperti ini, dan bagaimana mereka terbang dengan kegembiraan, seolah merasakan kebahagiaan besar karenanya maka kita bisa menyimpulkan secara ilmiah, dan dengan ringkas, bahwa pada diri mereka terdapat simpul kekurangan, dan perasaan takut, yaitu bahwa jalan keberagamaan mereka selalu membutuhkan (merindukan dan mendambakan) penguat-penguat dan penenang-penenang, agar para pengikut mereka merasa puas dengan jalan keberagamaan mereka. Sesunggungguhnya kebahagiaan berlebihan yang mengenai mereka karena penguat dan penenang ini benar-benar sebuah petunjuk bahwasannya mereka selalu hidup dalam keadaan takut dan gelisah dari berpalingnya pengikut mereka untuk mengikuti manhaj salafus shalih. Dikarenakan mustahil bagi orang yang mengetahui manhaj salafus shalih mau menerima selainnya.
Oleh karena itu, ada dari mereka yang sengaja membuat pahlawan khayalan dan menyanyikannya. Lalu mereka pun merayakan kemenangan semu tersebut. Semua hal ini disebabkan oleh perasaan rendah dan kurang. Lalu mereka melupakan kemenangan hakiki, yaitu mengikuti al-Qur`an yang mulia dan sunnah shahihah dengan pemahaman salafus shalih, bukan dengan pemahaman kisah-kisah bikinan, cerita dusta, dan mimpi syaithani (dari godaan setan).

Perbandingan Antara as-Syaikh Sa’diy dan as-Sayyid ‘Alawiy Malikiy:
Kami, saat kami hidup sejaman dengan dua Syaikh, maka kami mampu membangun satu hukum (kesimpulan), serta menentukan siapa yang lebih ‘alim dari yang lain, tanpa melihat karya tulis masing-masing. Karena kadang orang yang sedikit karyanya lebih banyak ilmunya dari orang yang banyak karyanya. Akan tetapi kami, saat kami ingin membandingkan kadar keilmuan dua syaikh tersebut yang kami tidak sejaman dengan mereka, kami tidak bisa –biasanya- kecuali dengan merujuk kepada karya tulis masing-masing. Pada saat merujuk kepada karya-karya as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy kita menemuinya lebih besar. Cukuplah diantaranya adalah tafsir al-Qur`anul Karim yang berjudul Taisirul Karimil Mannan dalam delapan jilid, dan karya itu menyamai semua kitab-kitab as-Sayyid ‘Alawiy Maliki. Maka lihatlah kepada orang yang dia memiliki delapan jilid tentang Tafsir al-Qur`anul Karim, lalu pengarang kisah itu menjadikannya seperti seorang murid bagi as-Sayyid ‘Alawiy Maliki! Bahkan dia menjadikannya mendengar ayat-ayat dari as-Sayyid ‘Alawi seakan-akan dia baru mendengarnya, dan belum memahami maknanya -sementara dia adalah pemiliki kitab tafsir- kecuali saat as-Sayyid ‘Alawiy menjelaskannya kepadanya! Subhanallah…!!!
Sebagaimana akan tampak jelas bagi setiap peneliti dan dengan mudah, saat dia memperhatikan kitab-kitab as-Sayikh bin Sa’diy, kekuatan, keluasan dan kedalaman ilmu beliau yang membuat musuh-musuhnya marah. Sungguh beliau dikenal di Masjidil Haram bahwa jika beliau berbicara, maka yang mendengar beliau akan berharap agar beliau tidak diam karena kefashihan, dan kekuatan ilmu beliau sebagaimana yang dituturkan oleh orang yang sezaman dengan beliau. Kemudian datanglah penulis kisah dusta tersebut dan menjadikan ulama besar ini sebagai seorang murid kecil di hadapan as-Sayyid ‘Alawiy Maliki sementara beliau lebih tua dua puluh tahun darinya. Dimana as-Sayikh bin Sa’di dilahirkan pada tahun 1889 M, sementara as-Sayyid ‘Alawiy Maliki pada tahun 1910 M. Yaitu saat as-Sayikh bin Sa’di tengah menyampaikan berbagai pengajian dan pelajaran, kala itu as-Sayyid ‘Alawiy adalah seorang penuntut ilmu yang masih terus mengikuti pelajarannya. Maka jadilah hujjah kami lebih kuat seandainya kami yang membuat kisah tersebut, dan kami jadikan as-Sayyid ‘Alawiy tampak sebagai seorang murid bagi as-Sayikh bin Sa’di di dalamnya. Akan tetapi kami tidak melakukannya karena kami tidak merasakan adanya problem kekurangan, walhamdulillah.
Perlu diperhatikan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan penerimaan dan penyebaran kitab-kitab as-Syaikh bin Sa’di diantara kaum muslimin. Hampir-hampir tidak ditemukan satu perpustakaan keIslaman di negeri Islam dan lainnya kecuali di dalamnya terdapat sejumlah kitab-kitabnya, dan yang paling pokok adalah Taisirul Karimil Mannan¸ sementara sebaliknya, kami tidak menemukan pengaruh apapun bagi kitab-kitab as-Sayyid ‘Alawiy Maliki di perpustakaan-perpustakaan Islam. Jika ditemukan, maka itu pun jarang. Karena kitab beliau tidak menyebar sebagaimana kitab-kitab as-Syaikh bin Sa’di. Dan termasuk perkara yang mengherankan adalah seorang laki-laki yang pada kisah tersebut tampak lebih mengerti dari para sahabat, tabi’in, dan para imam ternyata tidak ditemukan pengaruhnya di umat ini pada hari ini, sama saja apakah karyanya yang menyebar atau kajiannya yang tersimpan. Ini bukan berarti menyepelekan ilmu as-Sayyid ‘Alawiy Rahimahullah, akan tetapi kita hanyalah mempersoalkan satu kenyataan.

Risalah saya kepada umat ini:
Setelah pembahasan ilmiah untuk membantah syubhat ini, menjadi jelaslah bagi semua orang kadar kedustaan sebagian mereka serta keberaniannya untuk pemalsuan, dan pembuatan kisah-kisah dusta. Maka seandainya mereka itu berada pada zaman orang yang mengumpulkan hadits, dan para ulama al-Jarh wat-Ta’dil, maka pastilah para ahli al-Jarh wat-Ta’dil itu akan berkata tentang mereka -dalam kitab-kitab mereka-, ‘Mereka pendusta, pemalsu hadits, tidak diterima dari mereka tebusan apapun.’ Sementara kita dapati mereka pada hari ini memimpin majelis-majelis ilmu, wala haula wala quwata illa billah.
Bukan hanya sekali ini mereka membikin kisah-kisah dusta dan istidlal-istidlal batil atas para pengikut manhaj salaf, bahkan mereka terus menerus menyuntik medan dakwah dengan banyak kisah khayalan, kebohongan dan kedustaan. Andai saja mereka mencukupkan diri dengan yang demikian, bahkan lebih dari itu mereka menyematkan tuduhan dusta atas para pengikut manhaj salaf, seolah menjadikan seluruh usaha ini adalah proyek mereka dalam kehidupan ini. Mereka tipu diri mereka sendiri, serta waktu mereka karenanya. Lantas mereka pecah persatuan umat ini, dan menambah perselisihannya. Maka buah dari yang demikian adalah terus berlarutnya kebencian, dan permusuhan seraya berkeyakinan bahwa mereka, dengan yang demikian, tengah memberikan pelayanan kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sementara sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berlepas diri dari perubuatan-perbuatan mereka. Lalu untuk kemaslahatan siapakah apa yang telah mereka lakukan itu? Dan apakah dengan perbuatan tersebut mereka menutup luka umat dan menghimpun kembali urusan mereka yang terpecah belah?
Sesungguhnya umat pada hari ini lebih butuh kepada ukhuwah dan penyatuan barisan di hadapan musuh-musuhnya, dan lebih membutuhkan penebaran kebaikan, serta penyemaian cinta di antara generasi-generasi penerusnya. Terutama di bawah bayang-bayang konspirasi musuh-musuh yang terang-terangan, serta penjajahan mereka terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun demikian, hal itu tidaklah menghalangi kita untuk saling berdialog dalam permasalahan khilaf (yang kita perselisihkan) dengan metode ilmiah dan damai, dengan berpegang dengan dalil, hujjah, dan bukti dari al-Qur`anul Karim dan sunnah nabi yang shahih. Kita saling menjaga ihtiram (pemuliaan), dan penghargaan sebagian kita terhadap sebagian yang lain, seraya bertolak dari landasan al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah:

إِنْ صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ

“Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”
Kami tidak ingin berdialog bersama dengan saudara-saudara kami dengan tujuan untuk mengalahkan dan membela diri (menang-menangan), justru kami memohon kepada Allah agar menjadikan kebenaran itu mengalir dari lisan mereka, kemudian kami mengikutinya. Dan kami di majalah Qiblati membuka untuk mereka dan yang lain untuk bedialog dalam masalah furu’ yang kita berselisih, kemudian silakan masing-masing dari kita menyampaikan dalilnya, yang setelahnya marilah kita jadikan hukum bagi Allah, kemudian bagi para ulama yang obyektif.
Sesungguhnya saya, ketika mengatakan ucapan ini, saya mengetahui dengan jujur dan ikhlas bahwa banyak di antara orang-orang yang menyebarkan berita dusta dan bikinan ini. Mereka menyebarnya dengan niat baik, terutama sebagian mereka memiliki usaha besar yang patut disyukuri dalam menghadapi Syi’ah, Ahmadiyah, dan sekte-sekte sesat lainnya. Dan kami sama sekali tidak akan pernah mengingkarinya, bahkan kami berdo’a agar mereka mendapatkan taufik. Maka mudah-mudahan Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan.
Wahai umat Islam…!
Sekalipun riwayat bikinan ini telah menjadi jelas kedustaannya bagi Anda sekalian, serta kadar kezhaliman yang ditimpakan kepada kami, namun demikian kami tetap mengulurkan tangan-tangan kami, seraya memaafkan, dan meminta kepada orang-orang ikhlas lagi berakal dari mereka untuk membuka lembaran baru dalam hubungan di antara kita. Maka marilah kita tutup masa lalu dan segala isinya, dan marilah kita menjadi generasi masa kini. Sebagian kita menyayangi sebagian yang lain sebagaimana sifat  orang-orang mukmin yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam al-Qur`anul Karim [رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ] ‘saling mengasihi di antara mereka’. Sesungguhnya saya bersaksi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa saya mengatakan ucapan ini dengan jujur, kita semua adalah saudara, tali agama ini tengah mengumpulkan kita, dan itu akan terus seperti itu, kita mau atau mengabaikannya. Maka marilah kita bertakwa kepada Allah terhadap diri-diri kita, dan generasi setelah kita… Inilah tangan kami terbentang bagi setiap orang yang menginginkan saling memaafkan dan persaudaraan.
Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami, ketakwaan, dan kesuciannya. Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah wali dan penolongnya. Ya Allah, berikanlah ilham kepada kami kepada petunjuk kami, serta selamatkanlah kami dari keburukan syaitan, dan keburukan diri-diri kami, serta janganlah Engkau pasrahkan kami kepada diri-diri kami sekejap mata pun. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami, dan saudara-saudara kami kepada perkara yang di dalamnya terdapat segala kebaikan dan kemaslahatan. (AR)*

[1] Kami ingatkan bahwa tidak boleh menggunakan satu nama dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyebut sebagian dari makhluk-Nya, apakah sendirian, atau sekelompok, apakah untuk celaan atau yang lainnya. Maka ucapan Wahhaby aslinya adalah dari asma Allah al-Wahhab, sehingga penggunaan nama ini atas seseorang mengandung unsur perbuatan buruk terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lancang terhadap asma-asma-Nya sekalipun hanya penisbatan saja. Maka bagaimana nama Wahhaibiy digunakan sebagai pelecehan? Dan kita qiyaskan atas hal ini kepada asma Allah yang lain seperti Rahmaniy, Quddusiy… dst. Mudah-mudahan Allah mengampuni para ulama yang telah wafat, dari golongan yang mengulang-ulang penamaan Wahhabiy tanpa memahami atau mengetahui bahayanya.
(Majalah Qiblati Th. VI ed. 9)

Tanduk Setan !!

Telah berkata Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al-Hasan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan”.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1037. Diriwayatkan juga pada no. 7094 dan Muslim no. 2095.

Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2095 (45), dari jalan Al-Laits, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar :
أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو مستقبل المشرق يقول “ألا إن الفتنة ههنا. ألا إن الفتنة ههنا، من حيث يطلع قرن الشيطان”.
Bahwasannya ia mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam – dimana beliau waktu itu menghadap ke timur -, beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah di sini, dari arah munculnya tanduk setan”.
Dalam lafadh lain (46), dari jalan ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepadaku Naafi’, dari Ibnu ‘Umar :
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام عند باب حفصة، فقال بيده نحو المشرق “الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان” قالها مرتين أو ثلاثا.
Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri di samping pintu Hafshah[1], beliau bersabda dengan berisyarat dengan tangannya ke arah timur : “Fitnah itu dari sini, dari arah munculnya tanduk setan”. Beliau mengatakannya dua atau tiga kali.
Riwayat di atas menjelaskan tentang kemunculan fitnah di Najd, sebelah timur Madiinah, yaitu tempat keluarnya tanduk setan. Namun, apa yang dimaksud dengan Najd di sini ?
Telah berkata Al-Imaam Ath-Thabaraaniy :
حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر : أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا: يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال: إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Ma’mariy[2] : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Mas’uud[3] : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun[4], dari ayahnya, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, dari juga ‘Iraaq kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana lah muncul tanduk setan” [Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422].
Sanad hadits ini jayyid.
Naafi’ dalam riwayat ini mempunyai mutaba’ah dari Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar.
حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي : حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اللهم بارك لنا في مدينتنا، وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل : يا رسول الله وفي عراقنا ؟. فقال : رسول الله صلى الله عليه وسلم : بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Ramliy[5] : Telah menceritakan kepada kami Dlamrah bin Rabii’ah[6], dari Ibnu Syaudzab[7], dari Taubah Al-‘Anbariy[8], dari Saalim[9], dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Madinah kami, pada (takaran) shaa’ kami, pada (takaran) mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, dan juga pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab : “Di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Diriwayatkan oleh Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah 2/746-747].
Sanad hadits ini hasan.
Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz mempunyai mutaba’ah dari Sa’iid bin Asad[10] sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Fasawiy (2/747), Al-Hasan bin Raafi’ Ar-Ramliy[11] sebagaimana diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/133), dan ‘Iisaa bin Muhammad An-Nuhaas[12] sebagaimana diriwayatkan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (1/130); dengan sanad shahih.
Ibnu ‘Asaakir (1/130-131) dan Abu Nu’aim (6/133) meriwayatkan dari jalan Al-‘Abbaas bin Al-Waliid bin Mazyad Al-’Udzriy : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Syaudzab : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl, dari Taubah Al-‘Anbariy, dari Saalim, dari Ibnu ‘Umar secara marfu’.
Diriwayatakan juga oleh Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 1/130-131 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/133 dari jalan Taubah Al-Anbariy.
Taubah mempunyai mutaba’ah dari Ziyaad bin Bayaan Ar-Raqiy.
حدثنا علي بن سعيد، قال : نا حماد بن إسماعيل بن علية، قال : نا أبي، قال : نا زياد بن بيان، قال : نا سالم بن عبد الله بن عمر [عن أبيه] قال : صلى النبي صلى الله عليه وسلم صلاة الفجر، ثم انتفل، فأقبل على القوم، فقال : اللهم بارك لنا في مدينتنا، وبارك لنا في مدِّنا وصاعنا، اللهم بارك لنا في شامنا، ويمننا. فقال جل : والعراقُ يا رسول الله، فسكت، ثم قال : اللهم بارك لنا في مدينتنا، وبارك لنا في مدِّنا وصاعنا، اللهم بارك لنا في حرمنا، وبارك لنا في شامنا، ويمننا. فقال رجل : والعراق يا رسول الله، قال : من ثَمَّ يطلع قرن الشيطان، وتهيج الفتن.
Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Sa’iid[13], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah[14], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ayahku[15], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ziyaad bin Bayaan[16], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari ayahnya, ia berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada para orang-orang. Beliau bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Madinah kami, berikanlah barakah kepada kami pada (takaran) mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata : “Dan ‘Iraaq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda :  “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Madinah kami, berikanlah barakah kepada kami pada (takaran) mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata : “Dan ‘Iraaq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda : “(Tidak), dari sana akan muncul tanduk setan dan berkobar dan fitnah” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath, 4/245-246 no. 4098].
Sanadnya shahih.
Selain itu, Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar pun pernah mengecam penduduk ‘Iraaq karena fitnah yang mereka timbulkan dengan menyebut hadits kemunculan tanduk setan.
حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [20/طه/40].
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa Najd yang dikatakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai tempat munculnya tanduk setan, berbagai bencana, dan fitnah adalah ‘Iraaq.
Telah berkata Al-Imaam Al-Khaththaabiy rahimahullah :
نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار
“Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya sahara/gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].
Telah berkata Al-Haafidh Al-Kirmaaniy rahimahullaah :
ومن كان بالمدينة الطيبة -صلى الله على ساكنها- كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها
“Dan bagi Al-Madinah Ath-Thayyibah – semoga Allah melimpahkan barakah kepada penduduknya – , maka najd-nya adalah sahara/gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Ia adalah arah timur bagi penduduk Madinah” [Syarh Shahiih Al-Bukhaariy, 24/168].
Bila kita lihat sejarah, kemunculan firqah Khawarij/Haruriyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Raafidlah, dan yang lainnya dari daerah ‘Iraaq.
Telah berkata Al-‘Allamah Mahmuud Syukriy Al-Aaluusiy Al-‘Iraaqiy rahimahullah berkata :
ولا بدع فبلاد العراق معدن كل محنة وبلية، ولم يزل أهل الإسلام منها في رزية بعد رزيّة، فأهل حروراء وما جرى منهم على الإسلام لا يخفى، وفتنة الجهمية الذين أخرجهم كثير من السلف من الإسلام، إنما خرجت ونبغت بالعراق، والمعتزلة وما قالوه للحسن البصري، وتواتر النقل به واشتهر من أصولهم الخمسة، التي خالفوا بها أهل السنة، ومبتدعة الصوفية الذين يرون الفناء في توحيد الربوبية غايةً يسقط بها الأمر والنهي، إنما نبغوا وظهروا بالبصرة، ثم الرافضة والشيعة وما حصل فيهم من الغلو في أهل البيت، والقول الشنيع في الإمام علي، وسائر الأئمة ومسبة أكابر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، كل هذا معروف مستفيض
“Bukan perkara yang mengherankan bahwa negeri ‘Iraaq sumber setiap fitnah dan bencana. Kaum muslimin di sana senantiasa ditimpa musibah demi musibah. Orang-orang Haruuraa’ (Khawaarij) dan apa yang mereka lakukan terhadap Islam tidaklah samar lagi (akan kerusakannya). Begitu juga dengan fitnah Jahmiyyah yang telah dikafirkan mayoritas ulama salaf, hanya keluar dan lahir dari bumi ‘Iraaq. Mu’tazillah dan apa yang mereka katakan kepada Al-Hasan Al-Bashriy serta lima pokok keyakinan mereka yang masyhur yang menyelisihi Ahlus-Sunnah, dan ahlul-bid’ah dari kalangan Shufiyyah yang berpendapat akan adanya fanaa’ dalam tauhid ar-rububiyyah yang bermaksud menggugurkan beban perintah dan larangan; juga muncul di Bashrah (‘Iraaq). Lalu Raafidlah dan Syii’ah serta apa yang terdapat pada mereka dari sikap ghulluw (berlebih-lebihan) terhadap ahlul-bait, perkataan buruk mereka terhadap Al-Imaam ‘Aliy dan seluruh imam-imam, serta caci-maki mereka terhadap para pembesar shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; maka semuanya ini ma’ruuf lagi tersiar” [Ghayaatul-Amaaniy, 2/180].
Oleh karena itu, keshahihan (kebenaran) dan kesharihan (kejelasan) penunjukan makna Najd terhadap negeri ‘Iraaq sebagai tempat kemunculan tanduk setan dan berbagai macam fitnah lebih terang dari cahaya matahari di siang hari. Akan tetapi, masih banyak kaum yang menafikkan berbagai dalil dan keterangan hanya karena alasan rivalitas madzhab. Nas-alullaaha as-salaamah wal-‘aafiyyah.
Wallaahu ta’ala a’lam.
[abu al-jauzaa’ – setelah shalat shubuh sebelum berangkat ke kantor, 14 Ramadlaan 1431 H]. Silakan baca sambungannya di artikel Najd Bukan ‘Iraq dan artikel : Fitnah Masyriq – Kemunculan Tanduk Setan.


[1]        Lafadh ‘di samping pintu Hafshah’ menurut Asy-Syaikh Al-Albaaniy adalah syaadz [Silsilah Ash-Shahiihah, 5/653]. Dalam riwayat Ahmad (2/18) dengan lafadh :
قام رسول الله صلى الله عليه وسلم عند باب عائشة
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri di samping pintu ‘Aaisyah”.
Dalam lafadh Al-Bukhaariy (no. 3104) :
قام النبي صلى الله عليه وسلم خطيباً، فأشار نحو مسكن عائشة، فقال: هنا الفتنة -ثلاثاً- من حيث يطلع قرن الشيطان
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah, lalu berisyarat ke arah tempat tinggal ‘Aaisyah dan bersabda : “Di sini lah fitnah – beliau katakan tiga kali – dari arah munculnya tanduk setan”.
[2]        Al-Hasan bin ‘Aliy bin Syabiib Abu ‘Aliy – dikatakan juga : Abul-Qaasim – Al-Ma’mariy Al-Baghdaadiy (w. 295 H); seorang haafidh masyhuur yang mempunyai beberapa riwayat ghariib. Ia kadang menyambungkan riwayat mursal dan memarfu’kan riwayat mauquf. Akan tetapi pada dasarnya, riwayatnya adalah shahih hingga jelas terbukti keterangan yang memalingkannya [lihat : Irsyaadul-Qaadliy, hal. 264-267 no. 373].
[3]        Ismaa’iil bin Mas’uud Al-Jahdariy Abu Mas’uud Al-Bashriy (w. 248 H); seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 144 no. 487].
[4]        ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun bin Arthabaan Al-Bashriy. Al-Bukhaariy berkata : “Ma’ruuful-hadiits” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/388 no. 1247]. Abu Haatim berkata :  “Shaalihul-hadiits” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 5/322 no. 1531].
[5]        Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz bin Muhammad Al-‘Umariy Abu ‘Abdillah Ar-Ramliy; seorang yang shaduuq sering ragu (shaduuq yahimu). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 872 no. 6133].
[6]        Dlamrah bin Rabii’ah Al-Filisthiiniy Abu ‘Abdillah Ar-Ramliy; seorang yang tsiqah. Telah ditsiqahkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’iin, An-Nasaa’iy, Ibnu Sa’d, Ibnu Hibbaan, dan ‘Ijliy. Abu Haatim berkata : “Shaalih”. Adan bin Abi Iyaas berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berakal pada apa yang keluar dari kepalanya (pikiranya) daripada Dlamrah”. As-Saajiy berkata : “Shaduuq, namun sering ragu. Ia mempunyai riwayat-riwayat munkar”. (w. 202 H) [lihat biografi selengkapnya dalam Tahdziibut-Tahdziib, 4/460-461 no. 804].
[7]        ‘Abdullah bin Syaudzab Al-Khuraasaaniy Abu ‘Abdirrahmaan Al-Balkhiy; seorang yang tsiqah, telah ditsiqahkan oleh jumhur ulama. Ibnu Hazm menyendiri dengan mengatakan : “Majhuul” (86-144 H) [idem, 5/255-256 no. 447].
[8]        Taubah Al-‘Anbariy Al-Bashriy Abul-Muwarri’; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 183 no. 816].
[9]        Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al-Khaththaab; seorang yang tsabat, ‘aabid, lagi mempunyai keutamaan (w. 106 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 360 no. 2189].
[10]       Sa’iid bin Asad bin Muusaa Al-Mishriy; seorang yang tsiqah. Telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibbaan (8/271), dan meriwayatkan darinya Abu Zur’ah dan Ya’quub bin Sufyaan Al-Fasawiy. Periwayatan Abu Zur’ah darinya dianggap sebagai satu pentsiqahan, sebab tidaklah ia meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah – sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar saat menjelaskan Daawud Daawud bin Hammaad Al-Balkhiy [Al-Lisaan, 3/396 no. 3019].
[11]       Kemungkinan ada tashhif dalam Al-Hilyah, karena yang termasuk murid Dlamrah adalah Al-Hasan bin Waaqi’ bin Al-Qaasim Abu ‘Aliy Ar-Ramliy; seorang yang tsiqah (w. 220 H) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 243 no. 1299].
[12]       ‘Iisaa bin Muhammad bin Ishaaq Abu ‘Umair An-Nuhaas Ar-Ramliy; seorang yang tsiqah (w. 276 H) [idem, hal. 770 no. 5356].
[13]       ‘Aliy bin Sa’iid bin Basyiir bin Mihraan Abul-Hasan Ar-Raaziy; seorang yang tsiqah, kadang ragu, dan diperbincangkan para ulama atas sirahnya (w. 299 H) [Irsyaadul-Qaadliy, hal. 430-431 no. 679].
[14]       Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah Al-Asadiy Al-Bashriy Al-Baghdadiy; seorang yang tsiqah (w. 244 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 267 no. 1496].
[15]       Ismaa’il bin Ibraahiim bin Miqsam Al-Asadiy Al-Bashriy, yang terkenal dengan nama Ibnu ‘Ulayyah; seorang yang tsiqah lagi haafidh (w. 193 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 136 no. 420].

[16]       Ziyaad bin Bayaan Ar-Raqiy; seorang yang shaduuq lagi ‘aabid [idem, hal. 343 no. 2068].

Sumber